Kain Timor Yang Penuh Perlambang

Selembar kain timor ini sebagai tanda selamat datang bagi tamunya. Makna penghormatan, persahabatan dan persaudaraan akan terikat disini (dok.pri)

Selembar kain timor ini sebagai tanda selamat datang bagi tamunya. Makna penghormatan, persahabatan dan persaudaraan akan terikat disini (dok.pri)

shallom, selamat datang…” katanya sembari berjabat tangan lalu mengkalungkan sebuah selendang. Setelag itu saling menempel dan menggesekan ujung hidung. Prosesi di terusakan dengan makan sirih pinang bersama-sama. Itulah sepegenggal adat di pulau Timor.

13769634981629149494
Busana adat di Pulau timor dengan kain tenun berwarna-warni dengan aneka motif (dok.pri).

Tais atau kain timor adalah benda adat yang digunakan untuk menyambut kedatangan tamu. Selembar kain tenun itu dimaknai untuk mengikat tali persahabatan, persaudaraan dan penghormatan kepada tamu yang baru saja datang. Secara verbal mereka hanya berkata “ini hanya sebagai kenang-kenangan saja”, tapi yakinlah ada makna yang lebih dalam dari sebatas kata-kata. Fungsi lain dari kain timor adalah sebagai mahar atau mas kawin dalam sebuah perkawinan. Harga yang harus ditebus untuk meminang anak orang.

Saya berkunjung di Dusun Tiga di Desa Binaus yang berjarak sekitar 25km dari SoE ibu kota Timor Tengah Selatan. Memasuki sebuah rumah kotak, saya sudah disambut oleh tuan rumah sambil berkata “shalom”yang artinya damai sejahtera besertamu. Dipersilahkan duduk, lalu sajian kopi kental dan panas sudah keluar dari ruang belakang. Ubi rebuh menjadi teman dalam obrolan hangat siang itu.

Tak berapa lama, keluarlah ajakan tuan rumah untuk makan siang bersama. Jagung bose rabus yang dicampur dengan kacang-kacangan siap untuk dinikmati sambil menaburi sedikit garam yang disediakan secara terpisah. Masyarakan di sini, biasanya sangat sedikit  menambah bumbu-bumbu terutama garam. Jika kurang asin bisa menambahkan sendiri.

13769635591588769160
Kain inilah yang menjadi suguhan penutup sebagai kenang-kenangan, tetapi maknanya lebih dalam dari sebatas tanda mata semata (dok.pri).

Santap jagung bose yang disela-selanya ada kacang arbila dan kacang turis telah usai dan saatnya melanjutkan perjalanan. Akhirnya pamitan belum terucapkan, tuan rumah sudah menyiapkan nampan berisi lembaran-lembaran kain. “ini sedikit kenang-kenangan dari kami, mohon diterima” usai berkata demikian lalu mengalungkan ke leher saya. Rasa haru dan terimakasih buat sambutan dan karpet merah yang luar biasa dan saya tak bisa berkata-kata untuk ini sungguh begitu sentimentil.

Dari belakang rumah kotak saya menyaksikan seorang ibu yang sedang memutar-mutar alat penggiling. Benda putih yang digiling ternyata gulungan kapas. Biji-biji kapas dikeluarkan sebelum dibentuk menjadi helaian-helaian benang katun. Usai biji kapas dikeluarkan dan kapas menjadi lembaran lalu ditaruh dalam mangkuk yang terbuat dari batok kelapa.

Lewat sebuah kayu yang berujung lancip, ujung kapas itu ditarik lalu diputar dalam kayu tersebut. Jadilah untaian-untaian benang-benang halus. Kisah selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan pewarna alami. Usai benang diwarnai lalu disusun dalam alat tenun yang selanjutnya akan diubah menjadi lembaran kain bermotif. Kain yang sudah jadi masih harus disulam lagi untuk menambah motif-motifnya agar lebih indah.

13769636391195572150
Tak semudah mendapat kalungan kain timor jika melihat proses pembuatannya. Sepertinya saya kurang layak mendapat dengan mudahnya, namun inilah apresiasi tuan rumah (dok.pri).

Bukan pekerjaan mudah dan singkat untuk menyelesaikan 1 lembar kain. Dalam satu bulan rerata 2-4 kain yang bisa dihasilkan dengan cara tradisional ini. Harga jual kain timor ini sangat fluktuatif sekali, kadang hanya ratusan ribu bahkan bisa mencapai jutaan rupiah.

Kain timor yang melingkar dileher saya sepertinya tak layak jika mendapatkannya dengan begitu mudah. Namun, inilah penghormatan tuan rumah kepada tamunya. Lantas saya bertanya, ini motif kain apa maknanya. “ini yang berwarna putih biasa dipakai tua-tua adat, bangsawan, orang suci, sedangkan warna ungu biasa digunakan untuk mama dan anak gadis memakai warna merah”. Saya tidak paham betul bagaimana detail motif dan maknanya, namun yang saya pahami inilah sebuah ikatan persaudaraan dan penghormatan yang luar biasa.

15km saya berjalan menyusuri hutan, sungai dan perkampungan untuk melihat keindahan dan kekayaan alam disini. 4 kain timor bergantian bergelayut dileher saya sebagai ucapan selamat datang. Wujud penghormatan dengan cara yang ramah, santun dan begitu bersahaja. Dibalik kerasnya alam timor yang gersang, berbatu ternyata budayanya begitu halus dan santun. Setiap kain yang melingkar ini memiliki cerita dan makna tersendiri, terimakasih Shallom…

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Wah aku ya belum punya kain Timor. Harus jalan kesana nih supaya bisa dapat.
    Ngomong-ngomong, itu yang dikalungkan koq warna merah? Katanya warna merah buat anak gadis? 😕

  2. saya selalu beli kain kecil sebagai cinderamata kalo ke daerah timur.. tapi belum punya yang Timor 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...