Terpenjara Dalam Benteng Willem 1

Sisi utara benteng Willem 1 yang nampak suram dan tak terawat (dok.pri).

Sisi utara benteng Willem 1 yang nampak suram dan tak terawat (dok.pri).

Lembap, senyap, suram dan nyaris tak ada kehidupan. Itulah pandangan pertama pada bangunan tua yang hampir terbenam di tengah-tengah sawah. “itu garasi tank mas” kata seorang petugas piket yang langsung membuat antusias untuk menapak lebih dalam. Benteng Willem 1 begitu namanya, tapi ada masyarakat sekitar kadang memberi nama Beteng Pendem.

Ambarawa, kota penuh sejarah akan perjuangan bangsa ini untuk merebut kemerdekaan. Ambarawa adalah tempat yang strategis untuk membangun basis kekuatan militer. Dari lereng gunung Ungaran terdapat barak Bantir sebagai markas kaveleri hingga di tepi Rawa Pening berdiri kokoh benteng pertahanan. Peninggalan kolonial Belanda, saat ini masih kokoh berdiri walau sudah tak tegak lagi karena di makan jaman.

1374297330556155664
Salah satu bangunan di luar benteng yang konon di pakai sebagai garasi tank (dok.pri)

Beteng Ambarawa, itu yang tertulis saat memasuki benteng dari arah belakang dekat RSUD Ambarawa. Sisi kanan adalah sawah dan di ujung jalan nampak bangunan yang sekilas menyeramkan. Inilah potret klasik bangunan peninggalan masa lalu yang terbengkalai karena tidak adanya perawatan dari pewarisnya.

Masuk pelataran benteng, nampak anak-anak dengan riang bermain sepeda. Inilah anak-anak para petugas lapas yang tinggal di Lokasi Benteng. Benteng dengan luas lokasi sekitar 8hektar ini di bagi menjadi beberapa blok. Sisi selatan di gunakan sebagai Lapas Kelas II A dan sisi utara sebagai barak militer atau perumahan pegawai lapas. Memang menyeramkan begitu memasuki lokasi ini, tapi penghuninya begitu ramah ketika saya bertanya-tanya tentang benteng ini. Lantas sebagai budaya militer, wajip lapor adalah birokrasi yang harus di tempuh.

1374297391872929347
Salah satu sudut benteng yang dipakai sebagai pemukiman para karyawan Lapas dan barak militer (dok.pri).

monggo silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu” senyum pak Sunarto menyambut dengan ramahnya. Dia adalah petugsa jaga hari ini. Seragam hijau, dengan helm bertuliskan PM dan lencana bergambar wajah Gadjah Mada, dia mempersilahkan masuk. 1834 di bangunlah benteng ini dan selesai tahun 1845, kemudian diberi nama Benteng Willem 1.

Sejarah panjang tertoreh pada benteng ini. Selain sebagai basis pertahanan, benteng inii juga di gunakan sebagai penjara bagi para tawanan. mBeteng atau penjara pendem, banyak yang berkidig mendengar nama lapas ini. Konon banyak perlakuan yang mengerikan diterima tawanan di penjara ini. Memang bukan rahasia lagi bagaimana para narapidana di perlakukan, tetapi untuk urusan dengan mBeteng jangan main-main.

Bangunan benteng ini simetris bujur sangkar. Masing arah mata angin ada bangunan, yang katanya sebagai garasi kendaraan tempur; seperti tank dan truk pengangkut. Di sudut benteng ada bangunan yang berfungsi sebagai dapur, rumah, dan penjara wanita. Benteng utama konon sebagai penyimpanan logistik perang, kantor, barak dan penjara. Sekilah melihat teralis-teralis besi di setiap jendela tak lain ini adalah penjara yang kokoh pada waktu itu.

Benteng yang pintu masuknya di Kavaleri 2 tank, saat ini semakin terbuka untuk umum. Tak beselang kedatangan saya, ada rombongan dari semarang untuk ijin pemotretan model dan busana pengantin. Pak Narto, hanya tersenyum saja saat memberikan ijin sambil meminta KTP untuk pendataan.

“karena ini bangunan tua, sudah rusak sana-sini terlebih satu sisi juga sebagai lapas maka semua harus mengikuti aturan. Tidak sembarangan orang bisa keluar masuk, termasuk di perumahan di benteng sisi utara. Namun bagaimanalagi, masak tamu jauh-jauh kita tolak. Asal bisa menjaga tatatertib, tidak merusak, kami tidak keberatan menerima kunjungan. Malah senang ada yang peduli dengan warisan masa lalu. Untuk preweding, model atau sebatas jalan-jalan kami persilahkan, tanpa dipungut biaya asal ikuti aturan yang ada”. Begitu kata-kata dari Pak Narto dan akhirnya memberi ijin kami untuk leluasanya menyambangi bangunan tua ini.

1374297463889339290
Beberapa pengunjung nampak sedang mengabadikan dirinya di depan kamera sepanjang jalan penghubung antar benteng luar dan dalam (dok.pri)

Berbeda dengan Lawang Sewu di tengah kota Semarang yang saat ini sudah di pugar dan menjadi jujugan pelancong. Mungkin benteng ini jika sebagian mendapat sentuhan, akan jauh lebih menarik karena tempatnya yang jauh dari keramaian. Kembali pada masalah pendanaan dan birokrasi yang rumit. Tentunya inilah salah satu peninggalan sejarah yang harus tetap di jaga seperti para sipir berjaga untuk para napi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. kemarin kesini sendirian… cuma mampir di parkiran lapas sambil menikmati es thong 2ribuan
    bar kuwi pilek

  2. Terus terang aku lebih setuju kalau benteng ini dibiarkan apa adanya, tetapi dirawat sehingga bisa bertahan lebih lama lagi. Lawang Sewu itu setelah di-renovasi menurut aku koq ya tidak menarik lagi. Kesan gedung kunonya sebagian jadi hilang.

  3. Sering lihat bangunan ini dari jalan lingkar yang cihuy ituh, ternyata benteng toh. Jadi semakin pengen deh punya rumah di sekitar sana hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...