Balada Lembah Baliem

Musisi Edo Kondologit mendendangkan "hitam kulit, keriting rambut.. aku Papua....". Potret anak-anak Lembah Baliem di Desa Kilise (dok.pri)

Musisi Edo Kondologit mendendangkan “hitam kulit, keriting rambut.. aku Papua….”. Potret anak-anak Lembah Baliem di Desa Kilise (dok.pri)

Hitam kulit keriting rambut, aku papua… ” cuplikan lagu yang didendangkan oleh musisi Edo Kondologit. Ingus yang meleleh dari lubang hidung itupun sudah mengering tepat diatas bibir mereka. Kaki kecil nan kokoh itu enggan beranjak dari atas batu yang sedingin es. Baju tipis yang membalut tubuh mereka seolah menjadi mantel yang tebal dan hangat dengan mamasukan kedua tangan dalam baju. Jika tubuh semakin dingin, maka kedua telapak tangan akan membungkus daun telinga.

1373335918343721029
Dengan parang tajam di tangan, mereka masih saja bercanda. Inilah surga mereka saat pulang memetik dua tandang pisang yang di gotong bersama. Jalan menuju distrik kurima dan pemandangan sisi menarik luar biasa tergambar di sini (dok.pri).

Lembah Baliem dimana saya menemukan banyak sekali pelajaran berharga untuk hidup ini. Canda tawa anak-anak yang masih polos menemani saya sepanjang perjalananya menyususri bukit yang pagi itu masih berembun rerumputannya. Saya tidak tega mereka mengikuti saya untuk memotret lembah dari ketinggian, namun mereka seolah meledek saya sambil berkata “ini taman bermain kami”.

Pagi buta saya bergegas naik di sebuah bukit untuk menjemput matahari terbit. Kecewa, itu yang saya dapatkan karena halimun terlebih dahulu membentengi keindahan. Akhirnya pandangan ini berpindah pada bukit-bukit dengan beberapa honai yang menghiasi. Jauh dan terpencil itu yang tersirat. Saya tidak membayangkan ditempat ini ada kehidupan dan peradaban. Sungai Beliem yang membelah kedua bukit raksasa terus saja mengalirkan airnya yang deras.

13733360451589843401
Sulitnya nama mereka untuk di eja, saya meminta menuliskan nama dan marga mereka. Tulisan latin mereka tegas dan jelas dan teras gereja ini menjadi tempat mereka belajar saat sekolah libur atau guru berhalangan hadir (dok.pri).

Kerasnya alam telah membentuk putra-putri baliem menjadi orang yang tangguh. Nafas yang tersengal-sengal karena pilek tak menjadi halangan untuk berjalan mengikuti saya. Suara batuk dari dalam paru-paru mereka mengisyaratkan adanya penyakit yang tak dihiraukannya.

Akhirnya mentari datang juga dan menghangatkan lembah berkabut ini. Namun, sinarnya yang hangat tak mampu merubah suhu yang dari selamam terasa beku. Keceriaan anak-anak inilah yang menghangatkan saya sembari mereka bernyanyi lagu-lagu rohani.

13733361701957502635
Kaum lelaki tercipta sebagai praajurit perang dan pelindung dari kelompoknya. Mereka masih menikmati hangatnya Pilamo dengan busur dan anak panah yang siap setiap saat (dok.pri).

Para mama sudah berbondong menuju ladang. Noken yang tersangkut di dahi akan selalu menemani mereka. Kaum lelaki, sepertinya masih menghangatkan dirinya di tungku perapian dalam pilamo. Konon, kaum lelaki adalah seorang prajurit yang setiap saat siap untuk berperang. Kaum wanita adalah pekerja yang harus ke ladang dan menyediakan makanan untuk keluarganya. Perempuan menjadi tulang punggung dan lelaki menjadi pelindung.

Gereja mungil yang terkunci rapat berdiri di punggung sebuah bukit menjadi saksi bisu. Waktu itu ada perang suku, gereja inilah benteng yang aman dari serangan musuh. Penduduk asli sana, sepertinya pantang menyerang bangunan gereja, sekolah dan puskesmas. Begitu juga dengan pendeta/misionaris, guru dan dokter begitu sangat di hormati dan di takuti. Mungkin jika perang itu terjadi, mereka bertigalah yang akan dalam zona aman karena tidak ada yang berani menyerang.

1373336549873609784
Komunikasi seharusnya bukan penghalang. Meskipun jauh di pedalaman, mereka bisa berbahasa Indonesia. Namun penghalang sebenarnya adalah kemauan dari beberapa pihak. Ada yang ingin mereka berkembang atau tetap mempertahankan mereka terbelakang (dok.pri).

Seiring masuknya peradaban yang dibawa oleh 3 profesi tersebut, kini sudah semakin berkurang konflik-konflik fan tindakan-tindakan brutal. Anak-anak sudah tak takut lagi bermain naik turun bukit, begitu juga dengan anak gadis tak lagi kawatir di culik oleh suku sebelah termasuk istri kepala suku. Banyak perubahan yang baik terjadi. Namun yang menjadi kekaguman saya melewati perkampungan-perkampungan lembah Baliem adalah masalah komunikasi. Hampir seluruh penduduknya bisa berbahasa Indonesia, padahal antar kampung memiliki bahasa ibu yang berbeda-beda.

Genjik atau anak babi sepertinya sedang tidur nyenyak dalam pelukan seorang anak. Hewan piaraan ini menjadi harta yang mahal di sini. Tak salah jika babi mendapatkan tempat yang istimewa. Babi-babi disini mungkin akan sangat cemas menjelang natal, tahun baru dan upacara adat. Selain 3 momen tersebut mereka akan hidup bak raja yang tak ada yang berani mengusiknya.

Tempat ini sungguh eksotis dengan kaerifan lokalnya. Sautu saat saya pergi menuju sebuah kebun untuk melihat buah merah. Tas yang berisi kamera, dokumen, uang dan benda-benda berharga lainnya tertinggal di bawah sebuah pohon. Mendadak saya cemas, namun seorang kepala suku meyakinkan saya bahwa tas saya aman dan tidak ada yang berani menyentuh kecuali yang punya. Mungkin jika hujan warga sekitar akan menutupinya agar tidak basah. Benar saja, seharian saya tinggalkan tak ada yang bergeser semili-pun.

1373336668615404818
Entah apa yang dia pikirkan. Yang pasti alam ini menjadi sahabatnya yang menyenangkan (dok.pri).

Mereka pernah kapok dan mendapat pelajaran berharga. Gara-gara ada yang mencuri sepatu seorang turis, maka pelakunya mendapat denda adat. Tidak tanggung-tanggung, beberapa ekor babi harus dibayarkan dan harus mengadakan upacara adat. Jika di taksir, mungkin denda adat harganya ratusa kali bahkan lebih dari harga sepatu.

Meskipun mereka kadang masih di kenal dengan kondisi yang tersisih, terbelakang bahkan nyaris jauh dari peradaban namun mereka memiliki kearifan. Mereka teguh memegang prinsip-prinsip kehidupan. Mana yang baik dan tidak, mereka pisahkan dan sangsi berupa denda adat mereka buat untuk efek jera. Mungkin hanya perang untuk kebenaran dan harga diri adalah pilihan terakhir, namun kini mereka sudah berpikir sebelum itu terjadi.

1373336368581005217
Manisnya air tebu mereka sesap. Kerasnya batu di balik mereka menyiratkany kerasnya kehidupan yang kadang tak semanis tebu. Hasil kekayaan alam mereka entah lari kemana, apakah hanya di ibu kota, negara tetangga atau segelintir putra daerah yang terpilih, entahlah. Mereka cukup senang dan tenang selama ada yang dimakan dan dipanggang (dok,pri).

Asal ada babi untuk di panggang dan ubi untuk ku makan Aku cukup senang, dan akupun tenang” kata group musik Slank. Saya hanya berguman, generasi ini apakah hanya tahu ubi dan babi agar mereka bisa tenang dan senang. Di atas gunung sana banyak hasil tambang, itu warisan dari nenek moyang mereka. Entah mereka menikmatinya atau hanya sebatas putra daerah terpilih secara kekeluargaan saja yang mencicipinya agar mereka senang dan tenang. Entahlah, yang saya yakin mereka sangat kaya segala-galanya hingga mereka bisa menerima apa adanya dengan senang dan tenang.

13733367641089536481
Mari bersenang-senang biar langit terbelah, aku Papua (dok.pri).

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. pengeeeeeen, jadi ingat Di Timur Matahari yang habisin tissue 😉

  2. beruntungnya dirimu mas dhave…..

  3. Ngilerrrrr …. pingin banget nich bisa kesini 🙁

  4. Tulisannya bikin aku pengen kesana, Dhave 🙂

  5. Asyik ya Dhave, bisa jalan2 dipedalaman…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...