Tanganku Hampa Dihari Ulang TahunNya

1

Dalam rintik hujan dan menembus kabut malam, saya mencoba untuk datang sebagaimana orang lain juga demikian. Disebuah gereja kecil di ujung desa, malam ini perayaan menyambut kelahiran Yesus di adakan. Melewati jalan setapak yang becek oleh genangan air hujan yang saban sore mengguyur lereng gunung ini dan udara dingin yang selalu menyelimuti.

Niat ini sudah bulat, untuk datang di acara ulang tahunNya. Dalam perjalanan menuju rumah Tuhan, tiba-tiba ada sebuah tetesan air cukup besar dan jatuh tetap di muka. Langkah kaki ini, berhenti dan tangan dengan spontan mengusap wajah yang basah oleh air tersebut.

13563970361579802706
Pesta itupun telah dimulai, namun hati tetap gamang (dok,pri)

Akhirnya sampai juga di depan gereja, dan lagu-lagu rohani sudah diputar walau suaranya menyebar entah kemana. Kaki ini berhenti saat hendak masuk gerbang mungil ini. Tangan saya hampa, saya tidak membawa apa-apa untuk masuk ke rumah suci ini. Malam ini adalah hari ulang tahun Dia, namun aku tak membawa sedikitpun hadian buat Dia.

Tiba-tiba saya teringat setahun ini. Malam sebelum tidur, saya berdoa padaNya minta di jaga malam ini hingga fajar tiba. Sebelum makam, saya minta diberkati makanan ini tanpa tahu dari mana makanan ini datang. Sebelum bepergian saya minta perlindungan hingga pulang. Banyak lagi permintaan-permintaan saya, dari mulai kamera, gelar sarjana, sepeda, sepatu lari, dan masih banyak lagi dan semuanya diberi. Entah berapa total pemberian Dia jika diinventarisasi, dan tak sanggup aku buat menebusnya. Malam ini, tangan saya hampa.

13563971081485527958
Saya tidak berani menatap Dia (dok.pri)

Wajah saya nanar, seolah tak berani masuk ke pelatarannya. Ini pestanya, tapi saya tidak membawa apa-apa. Layakah saya masuk dalam ruang maha kudus ini dan ikut dalam pestanya. Tangan saya yang hampa ini saya genggam erat-erat dan memberanikan diri masuk dalam ruang pestanya. Saya tak sendiri, sebab didalam sana tangan-tangan hampa juga sudah larut dalam pesta.

Tiba-tiba musik berhenti, dan sang tuan rumah membuka pesta malam ini. Akhirnya acara dimulai dan semua larut dalam pesta. Hati kecil ini masih terganjal, hadiah apa yang terbaik yang bisa saya berikan? Pertanyaan yang sedari tadi menghantui diri ini. Tak enak rasanya masuk dalam pesta dengan tangan hampa.

Lalu masuklah dua anak kecil membawakan sebuah lagu. Suara cemprengnya memenuhi ruangan ini. Mungkin bagi penikmat musik, ini suara anak kecil jelek sekali dan sama sekali tak enak didengar. Nyanyi asal bunyi sepertinya, itulah suara logika saya menghakimi suara dua anak kecil ini.

Tiba-tiba ada yang berbisik “kamu bicara kaya gitu, emang kamu bisa, emang kamu berani” hati kecil saya berkata. Air hujan sepertinya telah menembus atap gereja ini, dan hanya saya sendiri yang kehujanan. Dingin, basah kuyup dan saya menggigil hebat malam itu. Lalu dua anak kecil itu datang dan menghampiri “selamat hali natal Om….” dengan suara cadelnya menyalami saya. Tangan kecil itu mengubah suasana yang tadi dingin, kini hangat dan penuh kelembutan.

13563971561420416684
Tuhan mau tubuh kita untuk kemulian dan menyatakan kasihNya (dok.pri)

Sujud aku didepan anak kecil itu. Dua anak kecil telah memberikan yang terbaik yang dia punya. Walau bagi saya itu suara yang hancur, namun begitu merdu bagi tuan rumah. Nyanyian sepenuh hati ini telah menghangatkan ruangan yang dingin dan hati saya yang beku. Kini ganjalan saya mau bawa apa hilang sudah, sebab Tuhan tak mengharapkan hadiah apa yang bisa kita berikan. Dia mau tubuh kita dipakai untuk kemulianNya apapun yang bisa dilakukan. “Tuhan ijinkan saya melukis pestaMu, hanya ini yang bisa saya lakukan”. Selamat ulang tahun Yesus, kasihmu selalu ada buat saya dan semuanya.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

9 comments

  1. slmt natal om dhanang.
    Semoga kasihNya mendamaikan sllu hati.
    Jgn lupa kue kering dari getasan sisain buat di bawa ke Lab 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...