Saat Makanan Itu Habis…

IMG_1608

Salah satu sumber kehidupan adalah energi. Mustahil tanpa ada energi ada mahluk hidup, namun acapkali energi sebagai sumber kehidupan itu diabaikan oleh mahluk hidup. Disadari atau tidak, pasokan energi itu semakin berkurang walau hukum kekekalan energi itu tetap berlaku. Pertanyaan sederhana, mengapa kita ada dan tetap hidup dan apa yang dicari dalam kehidupan ini..?

Boleh dan sah-sah saja semua jawaban dilontarkan untuk menjawab mengapa kita hidup, yang pasti jawaban mutlak adalah energi. Kita butuh makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan. Robert Maltus 1766-1834 pernah menggemparkan tentang teorinya. Di mengatakan “pertumubuhan manusia mengikuti deret hitung, sedangkan ketersediaan makanan mengikuti deret ukur”.

1355271855389671102

Grafik ilutrasi laju pertumbuhan penduduk dan ketersediaan pangan menurut Thomas Robert Maltus (dok pri)

Boleh saja perkataan di Robert Maltus tersebut di abaikan, sebab belum kerasa akibatnya. Apabila dihitung benar juga, 1 pasangan hidup menghasilkan 2-3 keturunan dan akan terus berkembang, sedangkan semua butuh tempat tinggal maka luas lahan akan semakin berkurang. Jika tidak percaya, berapa banyak alih fungsi lahan pertanian yang produktif kini disulap menjadi pemukiman.

Memang benar ada sebuah lagu yang mengatakan “tanam padi tumbuh pabrik, tanam jagung tumbuh gedung dan tanam modal tumbuh korupsi”. Kondisi pasokan bahan pangan yang tak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk ini bisa menjadi ancaman dikemudian hari. Gizi buruk, kelaparan menjadi tanda-tanda ancaman ini. Tak semudah menyajikan dimeja untuk urusan bahan pengisi perut ini, sebab butuh proses yang panjang untuk menciptakan bulir-bulir beras, atau umbi singkong.

Entah kapan laju pertumbuhan penduduk dan makanan itu bisa linear atau berdampingan. Akan menjadi sebuah ancaman jika gari tersebut semakin menjauh dimana deret hitung tak bisa diimbangi deret ukur. Alih fungsi lahan untuk pemukiman, pertumbuhan penduduk tak terkendali, penyakit, gagal panen dan masih banyak lagi ancaman yang siap untuk datang. Namun dibalik itu semua, Charles Darwin mengungkapkan dalam teori evolusinya. Dia mengatakan “sumber kehidupan itu terbatas, butuh perjuangan untuk mendapatkan dan yang kalah akan tersingkirkan”. Entah akan jadi apa jika makanan itu semakin terbatas, yang pasti semua butuh untuk hidup.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. Kalau mau optimis sih bisa saja berfikir bahwa di masa ketika ketersediaan pangan alamiah sudah sangat kurang, pasti ditemukan juga suatu teknologi untuk memenuhi kebutuhan ini secara non-alamiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...