Kan Nanti Sampahnya Turun Sendiri…

Disebuah puncak gunung yang tak begitu tinggi dan waktu itu banyak pengunjung yang sedang menikmati panoramanya. Sebagian besar pengunjung saat itu adalah siswa-siswi SMP yang dipandu gurunya untuk mengisi liburan dengan mendaki gunung. Ditengah percakapan dengan guru dan anak-anak SMP tiba-tiba salah seorang siswa membuang bungkus keripik dengan begitu saja. Dalam benak saya “ah paling sementara saja toh nanti juga dipungut kembali”.

Pembicaraan akhirnya berakhir saat salah satu siswa mengusulkan untuk turun. Saya terus perhatikan, ternyata pelaku pelempar bungkus makanan tadi tak bergeming mengurus apa yang tadi telah dilakukannya. Spontanitas saya berkata “dik itu sampahnya diambil dan bawa turun donk” sambil menunjuk bungkus kripik. “walah mas nanti kan turun sendiri” jawabnya dengan nada ketus. “lho sampah punya sayap apa kaki tho kok bisa turun sendiri” saya mencoba menimpali dan tak berselang lama disahut “kan ada angin”.

Segera saya menghentikan perdebatan ini. Perasaan ini seperti tertampar oleh jawaban siswi SMP yang dengan mudah memutar lidah untuk menjawab sebuah pertanyaan. Pada saat itu juga, gurunya melihat perdebatan kami dan tak ada reaksi sedikitpun dan sepertinya bangga punya murid yang pintar berdebat. Dalam hati saya, berdebat tidak akan menyelesaikan masalah sebab mereka mungkin sudah dibekali ilmu debat tanpa berpikir apa yang mereka perdebatkan.

Langkah damai saya ambil dengan sesi foto bareng didepan sampah-sampah mereka. Usai foto bersama, coba saya punguti sampah-sampah tadi untuk dibawa turun dan siapa tahu ketemu dengan pemiliknya yang tadi. Saya telusuri sudut demi sudut di jejak mereka berjalan ternyata banyak juga bungkus makanan-makan ringan yang tanpa sadar dibuang begitu saja.

Inilah potret salah satu wujud bagaimana pendidikan lingkungan belum bisa diterapkan di dunia pendidikan. Hal paling sederhana, buang sampah pada tempatnya atau jangan membuang sampah sembarangan tidak bisa tertanam dalam tingkah laku. Baru hal yang kecil saja tidak disadari, bagaimana dengan hal yang besar, mungkin akan jauh lebih mengerikan.

Perdebatan ala kusir yang ribut mengapa roda delman tak pernah kempes dan kuda yang pakai sepatu tanpa kaus kaki begitu kental tanpa ada sebuah solusi. Guru yang seharusnya menjadi media pembelajaran seharusnya lebih aktif dan peka terhadap prilaku murid-muridnya. Kesadaran lingkungan sejak dini dengan menanamkan prilaku diharapkan mampu menyelamatkan lingkungan untuk masa yang akan datang.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Bego jg ya gurunya..sbel bgt..knpa wktu itu ms bro ga teges aja sih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...