Mainan Materi Genetik, Semua Juga Bisa….

Saya pernah dikejutakan oleh sebuah cerita, ada anak STM bisa melakukan kloning. Semoga tidak salah dengar, sebab kali ini benar-benar dia melakukan kloning, yakni menggabungkan dua sifat tumbuhan. Anak STM ini menggabungkan dua sifat tanaman, yakni Singkong (Manihot esculenta) dengan Kelapa (Cocos nucifera) menjadi sebuah karakter yang bernama “Gethuk”. Ini hanyalah penggalan cerita dari acara di Radio Yess cilacap “curanmor” curahan perasaan dan humor yang dipandu oleh Samidi. Getuk, penggabungan materi singkong dan kelapa secara prinsip adalah sebuah kloning, walau belum ke materi genetiknya, minimal sudah memanfaatkan konsep tersebut.
Tahun 1994 dunia sempat gempar dengan lahirnya Dolly, seekor domba hasil Kloningan. Dalam waktu bersamaan juga muncul sapi perah yang juga hasil kloning dan menyisipkan gen manusia didalamnya. Dunia gempar dan heboh, kalangan pro dan kontra muncul dipenjuru dunia menanggapi penemuan tersebut. Dengan latar belakang masing-masing mengemukakan opininya sendiri-sendiri, dan adu argumentasi bermunculan. Ketakutan Hitler, Einstein atau Yesus akan dimunculkan kembali menjadi momok yang menakutkan.
Sejak ditemukan struktur molekul DNA oleh James Watson dan Francis Crick pada tahun 1953, utak-atik materi gen (pembawa sifat) mulai berkembang. Pada tahun 1989, munculah kapas transgenik, yakni hasil modifkasi genetiknya agar tahan terhadap hama. Pengusaha kapas bersorak ria, karena hasil kapasnya akan bertambah dan pengeluaran untuk obat pembasmi hama bisa ditekan. Sungguh usaha teknologi yang luar biasa, jika dilihat sisi positifnya, sedang sisi negatifnya pasti tidak jauh berimbang.
Secara sederhana, kloning merupakan upaya menganak pinakan suatu organisme mirip dengan induknya. Contoh sederhananya, anda melakukan stek bunga mawar, atau mencangkok pohon mangga. Hasil stek dan cangkok inilah yang namanya kloning, atau individu tanpa hasil perkawinan/vegetatif. Jika mangga yang ada di kebun kita itu kita tanam dari biji, hasilnya belum tentu sama dengan saat kita memakan buahnya sebelum ditanam, berbeda dengan kita mencangkok. Menjadi pertanyaan, bagaimana jika yang dicangkok atau stek itu hewan atau manusia..? apa bisa dan bagaiama..?.
Tidak afdol jika kloning hanya memperbanyak individu yang sama persis dengan induknya. Katakanlah anda melakukan stek bunga mawar, apa tidak terpikir menggabungkan mawar merah dengan putih dicampur dengan mawar biru, hingga menjadi mawar belang-belang?. Atau kalau masih bingung, lihat ikan-ikan hias “koi” yang warna-warni denggan menyilang-nyilangkan indukan, jika masih pusing lihat persilangan tanaman hias yang makin marak “anggrek”. Para pemulia tanaman sangat kreatif menggabung-gabungkan sifat tanaman menjadi varietas baru yang diharapkan memiliki kualitas yang lebih baik.
Jika masih bingung juga, pasti sebagian dari kita pernah mengungkapkan “perbaikan keturunan”. Cewek bertubuh pendek mungkin akan mencari cowok yang sedikit lebih tinggi, ada yang kulit berwarna gelap akan sedikit cari kulit yang berkulit terang, yang ekonomi pas-pasan cari yang sedikit tajir, semuanya demi “perbaikan gizi dan keturunan”. Demikian istilahnya, dari konsep perbaikan pasti ada implikasinya entah pro dan kontra. Perbaikan keturunan tentu saja memiliki tujuan yang baik bukan..?, nah sisi buruknya adalah jika semua serba dipaksakan. Kawin Paksa, perjodohan, hanya demi harta, keturan yang baik dari bibit bebet dan bobotnya, nah bagaimana jika pemaksaan itu dalam ranah sains, tentu akan sangat berbahaya.
Banyak wacana yang pro dan kontra dengan kloning dan utak-atik materi genetik ini. Sangat wajar, jika semua memiliki pandangan masing-masing. Pernah suatu saat dikelas saat ada diskusi tentang pro dan kontra kloning dan GMO (genetic modified organism), pihak yang pro dengan lantang menolak mentah-mentah. Akhirnya perdebatan diakhiri dengan makan bersama. Usai makan, semua kenyang dan semua sudah tenang, saatnya menarik kesimpulan.
Kloning dan GMO memang sebuah perkembangan hasil teknologi dalam bidang biologi molekular. Disadari atau tidak kita sudah menikmatinya hingga detik ini, ya sekitar beberapa menit yang lalu. Daging ayam yang kita makan tadi juga produk instant, mana ada ayam 40 hari sudah siap sembelih. Telor ayam juga demikian, mana ada ayam kerjaanya bertelor tiap hari dari remaja, dewasa hingga tua. Tomat yang kita makan juga demikian, karena hasil olahan materi gen, sebab tomat lokal sudah tidak dikembangkan karena produktifitas yang rendah. Berapa buah yang ada dalam campuran es buah, juga sudah diutak-atik gen-nya agar lekas berbuah, manis, besar dan perkembang biakanya di cangkok. Ibaratnya kita demo anti Amerika, tapi sambil update status pakai Iphone, trus mampir di kedai makan cepat saji punyak pak Sanders, ini tidak munafik atau naif, tetapi kenyataan. Yang kita anti dengan Amerika kan hanya kebijakannya yang bertentangan, bukan produk dan teknologinya “ngeles dikit”.
Mau lari kemana, teknologi itu ada didepan mata kita, dan mau tidak mau harus menghadapinya. Menolak atau tidak itu hanyalah masalah sikap saja, walau kenyataanya berbeda. Diluar sana sudah banyak yang demonstrasi, pro dan kontra, biarkan mereka melakukan aksinya sesuai dengan idealismenya masing-masing. Sekarang coba lihat realita dan sisi etikanya, sebatas apakah kloning dan GMO itu berperan untuk kesejahteraan manusia. Mereka yang pakar Kloning dan GMO, juga akan menolak jika penemuan mereka bertentangan dengan etika dan melampau apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan. Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja. Bagi yang masih lajang tetep setia dengan GMO “gaul modern dan optimis” selesai perkara, yang penting umat manusia itu sejahtera dan disitulah peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang beretika.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. amsiku said: Kyknya ada yg hbs ngikutin mata kuliah genetic engineering nih

    praktikum Om….. hehehehe 😀

  2. mahasiswidudul said: Suka banget nih kalo kuliah pake contoh analogi keseharian.. Suka mumet kalo isi kuliah itungan thok.. Hweeeee..

    Kyknya ada yg hbs ngikutin mata kuliah genetic engineering nih

  3. mahasiswidudul said: Suka banget nih kalo kuliah pake contoh analogi keseharian.. Suka mumet kalo isi kuliah itungan thok.. Hweeeee..

    nah itulah pengajar kita yang kadang tak memahami konsep dengan benar… gayane cuma sok ilmiah sok keren….hahahaenakan gini…lebih enak dan dipahami dulu konsepnya, baru dah masuk dalam tataran teori ilmiahnya..karena sudah paham dulu…

  4. siasetia said: hihihi aku tuh males mas tulisane cilik dan banyak di web lagi :p *isinya menarik seh

    pencet Ctrl dan + kan langsun gede hehehehhe

  5. rudal2008 said: Menarik sekali sharingnya Mas,Suka banget. Mas Ikutan Lomba Foto Sadarwisata yg ada disini:http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=17&id=1318

    Suka banget nih kalo kuliah pake contoh analogi keseharian.. Suka mumet kalo isi kuliah itungan thok.. Hweeeee..

  6. rudal2008 said: Menarik sekali sharingnya Mas,Suka banget. Mas Ikutan Lomba Foto Sadarwisata yg ada disini:http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=17&id=1318

    hihihi aku tuh males mas tulisane cilik dan banyak di web lagi :p *isinya menarik seh

  7. rudal2008 said: Menarik sekali sharingnya Mas,Suka banget. Mas Ikutan Lomba Foto Sadarwisata yg ada disini:http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=17&id=1318

    oke Om…meluncur….

  8. sulisyk said: pernah lihat liputan ttg rekayasa genetik tumbuhan kopi milik PTPN, cuma bisa berdecak tok….bikin bibit kopi cukup ngambil salah satu bagian tersebut untuk dibiakkan dalam lab

    kalo jadulnya…. itu stek… kalo ini pake stem cell, yah gampangnya kultur jaringan…. Mas…. gampang kok… Nah ini mirip dengan bayi tabung kok

  9. kolakpisang4500 said: kloning, kelonan maning 😀

    gak pake itu gak jadi jew mas….

  10. dhave29 said: Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja.

    aha….y deal….conventional and classic clone….

  11. dhave29 said: Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja.

    Menarik sekali sharingnya Mas,Suka banget. Mas Ikutan Lomba Foto Sadarwisata yg ada disini:http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=17&id=1318

  12. dhave29 said: Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja.

    pernah lihat liputan ttg rekayasa genetik tumbuhan kopi milik PTPN, cuma bisa berdecak tok….bikin bibit kopi cukup ngambil salah satu bagian tersebut untuk dibiakkan dalam lab

  13. dhave29 said: Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja.

    kloning, kelonan maning 😀

  14. dhave29 said: Bapak Ibu yang sudah menikah tidak usah pusing dengan kloning, lebih baik kelonan saja.

    Actually that’s the oldest genetic manipulation procedure ever known by human, combining two different set of genes from two different individuals and creating a new organism called a baby, with the genetic traits of the two sources.

  15. bambangpriantono said: Waduh, wis disambut gambar wedhus

    lha je prengus jew cak…

  16. Waduh, wis disambut gambar wedhus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...