Darah Tumbuhan untuk Kesehatan

“Gubraaaaaakkkk….!!!” suara keras disambut rintihan kesakitan “aduuh..aduh…lututuku”, spontan Ayah yang disamping segera menolong tubuhku yang tertindih sepeda BMX. Melihat lutut yang berdarah, segera ayah lari ke sebuah kebun kosong dan mencari semak-semak. Entah apa yang dia kunyah lalu membalurkan benda yang berwarna hijau bercampur ludah itu ke luka. Kejadian itu berlangsung 23 tahun lalu saat saya masih usia 6 tahun dan baru belajar naik sepeda.
Kejadian yang terngiang hingga saat ini akhirnya menemukan jawaban apa yang dulu dikunyah Ayah lalu membobokan diluka saya. Alasan mengapa membaluri luka saya dengan tumbuhan, bukannya obat merah atau antiseptik yang lainya. Kejadian serupa terjadi juga pada film-film kolosal jaman dulu seperti Saur Sepuh, atau Wiro Sableng, disaat terluka luar di baluri dengan ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Sebuah “local wisdom” atau kearifan lokal yang saat itu tidak bisa diterjemahkan logikannya, tetapi kini dengan kemajuan teknologi begitu mudah menerjemahkan dalam sains.
Teringat apa yang dikunyah Ayah waktu itu adalah daun Tapal Kuda, atau dalam bahasa ilmiahnya Centela asiatica, dalam bahasa daerah Pegagang atau Rendeng. Mengapa memilih tanaman tersebut, karena Ayah meniru yang dilakukan Kakek Nenek waktu menyembuhkan luka memakai tanaman tersebut. Kejadian tersebut terulang dan terlihat khasiat dari Pegagan bisa menyembuhkan luka, namun tidak paham logikanya bagaimana.
Sebelum masuk dalam penalaran mengapa Pegagan bisa menyembuhkan luka, lihat dulu konsep dasarnya. Yang membedakan tubuh hewan “manusia” dan tumbuhan, adalah dinding sel, plastida, lisosom, sentrosom, bentuk, dsb. Dibalik perbedaan tersebut, ada beberapa kemiripan secara sistem sehingga tumbuhan adalah bukan barang asing bagi tubuh manusia. Jika manusia memiliki darah, maka tumbuhan juga memiliki darah. Hemoglobin pada hewan dan klorofil pada tumbuhan, dengan fungsi yang hampir mirip. Struktur kimia darah manusia dan tumbuhan juga tak jauh berbeda, nah sekarang sedikit sudah mulai terkuak mengapa luka saya sembuh saat dibaluri dengan kunyahan daun Pegagang.

Klorofil, atau darahnya semua tumbuhan “tidak hanya Pegagan” berperan dalam mensintesis atau memasak makanan. Dibalik fungsi utama menangkap energi cahaya lalu diubah menjadi energi kimia untuk menghasilkan materi organik dan oksigen, ternyata klorofil atau zat hijau daun ini memiliki keistimewaan lain. Salah satunya adalah menyembuhkan luka, bisa dikatakan klorofil sebagai obat. Pegagan yang dikunyah tadi, sebenarnya adalah proses ektraksi klorofil secara mekanis dengan bantuan rahang dan gigi dan air berupa ludah. Secara ilmiah, hanya butuh 0,05-0,5% larutan klorofil untuk merangsang fibroblas, atau sel pembentuk jaringan ikat, yang dapat menghentikan aliran darah dan mengeringkan luka. Kira-kira seperti itu logika mengapa kunyahan daun Pegagan bisa menghentikan, mengeringkan dan menyembuhkan luka.
Saat ini darah tumbuhan ini sudah banyak dimanfaatkan dalam industri makanan minuman, sebagai pewarna alami. Industri farmasi tidak mau kalah dengan memanfaatkan klorofil sebagai obat-obatan antibiotik, penyembuh luka. Dalam bidang medis klorofil digunakan sebagai PDT/photodynamic terapy yakni untuk terapi kangker. Dalam bidang fisika klorofil digunakan sebagai sensitizer sel surya, dan para petani memakai sebagai bioinsectisida.
Terkuak sudah mengapa Brama Kumbara atau Wiro Sableng yang terluka dikasih baluran berupa tumbukan dedaunan pada luka, dan meminum ramuan-ramuan ajaib dari tumbuh-tumbuhan. Negeri kita yang katanya sebagai zamrud katulistiwa yang gemah ripah loh jinawi, tanam tongkat pun jadi tanaman seharusnya bisa memanfaatkan potensi alam yang melimpah ini. Kearifan lokal dalam bidang medis dengan ramuan-ramuan tradisional yang saat ini sudah bisa terkuak misterinya lewat ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekayaan yang tak ternilai. Sebuah aset yang sangat berharga dan layak dijaga dan dikembangkan.
Budaya “back to nature”, luka dikasih getah dahan pisang atau kunyahan daun pegegang bisa menjadi pelajaran pada generasi kita yang sepertinya bergantung pada medikal pabrikan. Klorofil menjadi jawaban dari sebuah kearifan lokal yang hanya mengunyah daun Pegagan bisa menyembuhkan luka. Tugas siapa untuk menguak “wisdom local” ini kepada masyarakat dengan melihat secara ilmiah dan menyedarhanakannya menjadi sebuah pencerahan..?.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. totosuharyanto said: Ibuk-ku pernah terluka oleh arit di jari telunjuknya, darah mengucur deras.. Beliau tidak bingung dengan obat merah, namun lsg menucuinya dengan air, dan “melukai” dahan pisang untuk digunakan cairannya menutup luka yg menganga..Ini tho penjelasannya, mkasih..

    iya Om… logikanya begitu hehehhee 😀

  2. rudal2008 said: Menarik sharingnya, Thanks ya Mas and lekas sembuh.

    Ibuk-ku pernah terluka oleh arit di jari telunjuknya, darah mengucur deras.. Beliau tidak bingung dengan obat merah, namun lsg menucuinya dengan air, dan “melukai” dahan pisang untuk digunakan cairannya menutup luka yg menganga..Ini tho penjelasannya, mkasih..

  3. rudal2008 said: Menarik sharingnya, Thanks ya Mas and lekas sembuh.

    makasih Om Rudi..semoga berkenan….

  4. asasayang said: wingi misua kena beling dikasi tlutuh gedhang dan getah entah pohon apa. .

    wahaha…. brama kumbara nginjak beling…..

  5. rawins said: sing duwe pengalaman ngene ketoknya wong deso kabehhaha

    BETOOOOOOOOOOOOOOOL…..sekali

  6. smallnote said: Jadi pengin camping kalau ingat ini. 🙂

    yuuk angkat ransel….ingat nanas juga bisa buat obat loh….

  7. anotherorion said: nek aku keperang obate tlutuh gedang kang, cepet rapet maning, dadi kepikiran tlutuh gedang isa dinggo nggawe lem barang ra yah?

    tepat sekali…perih tapi manjuuur

  8. siasetia said: buat kutil :p

    apaan ntuh?

  9. Menarik sharingnya, Thanks ya Mas and lekas sembuh.

  10. wingi misua kena beling dikasi tlutuh gedhang dan getah entah pohon apa. .

  11. sing duwe pengalaman ngene ketoknya wong deso kabehhaha

  12. Jadi pengin camping kalau ingat ini. 🙂

  13. nek aku keperang obate tlutuh gedang kang, cepet rapet maning, dadi kepikiran tlutuh gedang isa dinggo nggawe lem barang ra yah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...