Kita Sama, Mengapa Berbeda..?

Percayakah kita dari satu nenek moyang yang sama?. Percayakah kita berasal dari budaya yang sama?. Percayakah kita adalah sekumpulan keluarga besar yang terpecar-pencar?. Sebuah pertanyaan klasik yang dengan acapkali mudah kita jawab, namun tak mudah bagaimana menyikapinya. Jika melihat filsafat Theologis, ada yang meyakini bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang ditulis dalam kitab suci, dan kemudian beranak pinak. Maka jika hal tersebut diimani terjawab sudah jika kita dari satu nenek moyang. Jika dilihat dari kajian evolusi, kita berasal dari nenek moyang yang sama yakni Homo Sapien progresif, dilihat dari morfologis dan fisiologis tubuh. Keyakinan kita dar satu nenek moyang diperkuat dengan kajian ilmu biologimolekuler dengan melihat susunan materi genetis, yakni DNA dan semua identik untuk mamalia yang disebut dengan manusia.
Mengapa ada perbedaan? yang acapkali menimbulkan gesekan, padahal satu nenek moyang dan satu keturuan yang bisa diasumsikan semua adalah sodara. Perbedaan budaya adalah jawaban mengapa gesekan itu terjadi. Masih hangat dalam pemberitaan dengan penolakan Lady Gaga konser di Indonesia, kembali masalah budaya itu menjadi agenda dasarnya selain mengatas namakan Tuhan. Apakah kita berasal dari budaya yang sama?, jika ada yang menjawab berbeda itu sah saja karena nyatanya memang berbeda masing-masing budayanya. Namun dilihat dari pola perkembangan manusia, masalah budaya hanyalah faktor lingkungan dan geografis semata.
Jika masih percaya, mengimani dan mengaku kita dari satu nenek moyang, maka asumsi kita berasal dari satu budaya. Pola persebaran dan distribusi manusia kepelosok penjuru dunia ribuan bahkan jutaan yang lalu dan oleh sebab bencana alam, banjir, gempa, pergeseran benua memisahkan satu dengan yang lainnya. Perpisahan secara geografis otomatis sebagai manusia yang tercipta untuk bisa beradaptasi akan segera membentuk budayanya sendiri-sendiri sebagai terjemahan kondisi lingkungan waktu itu. Sodara kita yang dikutub sana, tak akan sama dengan sodara kita yang di gurun pasir, begitu juga kita yang ada di katulistiwa tak mungkin sama dengan yang disub tropis.
Nusantara dari Sabang hingga Merauki, Alor sampai Talaud sebuah bentang alam dengan ribuan gugusan pulau besar dan kecil yang masing-masing adalah warna-warni budaya. Dengan mudah mata kita menyebutkan; dari wajah anda pasti dari Irian, dari logat kamu pasti dari Jawa, dari suara khas kamu pasti dari batak, dari warna kulit kamu pasti dari Manado?. Sangat mudah bukan mengidentifikasi suara, bahasa, logat bahkan hingga warna kulit. Itu baru Indonesia, belum lagi dunia yang jauh lebih beragama dengan warna-warni.
Sangat prihatin jika, dua orang saling bentrok gara-gara perbedaan paham, kemudian menyebar antar kelompok, desa, hingga membesar dalam wujud SARA. Kelompok ormas yang mengotak-ngotakan diri dan menentang kelompok lain yang berbeda pandangan, baik wujud segitiga, segi enam, trapesium, jajaran genjang atau lingkaran. Tindakan anarkis berujung dengan kekerasan, aksi sweeping berakhir dengan bentrokan itu acapkali yang terlihat. Siapa yang kuat itu yang menang, tak ubahnya dengan hukum rimba, padahal manusia tercipta menganut hukum alam, siapa yang beradaptasi itu yang bertahan.
Konsep evolusi yang kadang disalah arti dan terjemahkan. Sekarang bukan lagi saatnya siapa yang kuat itu yang menang, tetapi siapa yang bisa beradaptasi itu yang akan bertahan. Konsep adaptasi, juga disalah artikan, dengan kompetisi dan antagonisme. Mengapa manusia eksis sampai saat ini? karena ada sinergis yakni memaknai Homo Homini Socius, semua manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan. Konsep evolusi “survival of the fittest” seharusnya diterjemahkan dengan saling bersinergis satu dengan yang lain layaknya mahluk sosial agar semua bisa bertahan hidup.
Dalam keadaan nyaman tentram, selalu ada seja tetes-tetes konflik yang membesar menjadi guyuran hujan pertikaian. Jika diamati, kapan kita rukun? jawabannya saat Tuhan mengingatkan. Berapa kali Tuhan mengingatkan lewat tragedi, bencana alam, dan saya yakin semua turun tangan layaknya homo homini socius. Saat semua sudah dalam keadaan homeostatis kembali muncul gesekan yang seharusnya tidak perlu. Dalam warna yang sudah samar, tak adalagi perbedaan warna, maka dicari-cari gelap terang, benar-salah, baik buruk untuk memunculkan konflik baru. Mengapa demikian, hukum rimbalah yang muncul selanjutnya.

Bersyukur saat ini saya berdiri ditengah-tengah warna nusantara. Dari ujung Sumatra hingga Papua, Nusa Tenggara hingga Sulawesi hadir sebagai representasi Indonesia mini. Dalam lebatnya hutan Pinus kami dipersatukan dalam perbedaan warna, untuk saling mengerti dan memahami perbedaan diantara kita. Jalinan dan untaian cinta tanah air bisa kami terjemahkan dalam wujud saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain. Mampu mengendalikan diri dari setiap gesekan, melihat perbedaan secara bijaksana dan meredam emosi yang ada. Sadar kita dari satu nenek moyang yang artinya satu sodara dengan materi genetik yang identik.

Perbedaan kita hanyalah masalah bentang alam dari lebatnya hutan dan luasnya lautan, namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang. Saat ditanya bagaimana dengan Lady Gaga atau isu film Soegija.? sebagai simbol saat ini yang menggesek perbedaan? “sangat bodoh jika moralitas, iman dan budaya itu berubah gara-gara seorang Lady Gaga dan Film karya Garin Nugraha”, itu yang bisa disimpulkan dari kita yang nyata-nyata berbeda warna. Tak ada paksaan, tidak mengatasnamakan Tuhan, karena semua adalah milik Tuhan baik Lady Gaga dan Soegija.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. timurcahaya said: Tuhan membuat alam dengan hukumnya. dia tidak akan melanggarnya sendiri hukum yang telah ia ciptakan

    sepakat Om…

  2. bimosaurus said: driji ya ada jempol ada jentik…. kecuali kalau mau nyanyi lagu : jari tanganku… jari tanganku.. jempol semuaaa, jempol semua, jari kakikuuu juga samaaaaaautoprongol

    Tuhan membuat alam dengan hukumnya. dia tidak akan melanggarnya sendiri hukum yang telah ia ciptakan

  3. bimosaurus said: driji ya ada jempol ada jentik…. kecuali kalau mau nyanyi lagu : jari tanganku… jari tanganku.. jempol semuaaa, jempol semua, jari kakikuuu juga samaaaaaautoprongol

    baru sempurna disebut jemari…. kan Om

  4. rawins said: sudah jelas isi kepala berbeda tapi kenapa maksa inginkan dunia isinya seragamlupa bahwa perbedaan itu membawa nikmatpakai sandal kanan semua juga gaenakapalagi jeruk makan jerukmboh nek buatmu..?

    hehehe…..kalo saya tetep sebutkan lima titik perbedaan saja kok mas….

  5. rudal2008 said: Nice sharing Mas Dhave, I like it somuch and Thank you verymuch.

    semoga berkenan Om Rudi….

  6. duabadai said: good journal 🙂

    makasih Om….

  7. hardi45 said: Namun kita tetap dalam satu Tuhan satu Pencipta dari segala-galanya. Lucu kalau kita ada yang lebih berhak, lebih hebat dan bisa jadi polisi, hakim bagi lainnya.

    nah itu yang acapkali tak disadari Om…. makin hakim rame-rame

  8. siasetia said: sukhoi selesai lady GAGA datang..adakah manfaat lady GAGA datang untuk bangsa Indonesia? itu aja seh

    pengalihan isu..biasa nya getu mba

  9. rawins said: sudah jelas isi kepala berbeda tapi kenapa maksa inginkan dunia isinya seragamlupa bahwa perbedaan itu membawa nikmatpakai sandal kanan semua juga gaenakapalagi jeruk makan jerukmboh nek buatmu..?

    driji ya ada jempol ada jentik…. kecuali kalau mau nyanyi lagu : jari tanganku… jari tanganku.. jempol semuaaa, jempol semua, jari kakikuuu juga samaaaaaautoprongol

  10. dhave29 said: Perbedaan kita hanyalah masalah bentang alam dari lebatnya hutan dan luasnya lautan, namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang

    sudah jelas isi kepala berbeda tapi kenapa maksa inginkan dunia isinya seragamlupa bahwa perbedaan itu membawa nikmatpakai sandal kanan semua juga gaenakapalagi jeruk makan jerukmboh nek buatmu..?

  11. dhave29 said: Perbedaan kita hanyalah masalah bentang alam dari lebatnya hutan dan luasnya lautan, namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang

    Nice sharing Mas Dhave, I like it somuch and Thank you verymuch.

  12. dhave29 said: Perbedaan kita hanyalah masalah bentang alam dari lebatnya hutan dan luasnya lautan, namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang

    good journal 🙂

  13. dhave29 said: Perbedaan kita hanyalah masalah bentang alam dari lebatnya hutan dan luasnya lautan, namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang

    Namun kita tetap dalam satu Tuhan satu Pencipta dari segala-galanya. Lucu kalau kita ada yang lebih berhak, lebih hebat dan bisa jadi polisi, hakim bagi lainnya.

  14. bimosaurus said: Saya sangat autohormat terhadap pak Karno dan para penegak bangsa ini termasuk pak Urip dan Jendral Soedirman. Otak mereka sudah jauh melebihi manusia-manusia jaman sekarang. Coba tengok analogi perbandingan Indonesia dan Afghanistan berikut ini. Indonesia dan Afghanistan sama-sama merdeka dari penjajahan dengan caranya sendiri. Keduanya sama-sama memiliki suku bangsa yang berbeda-beda. Namun apa perbedaannya? Sebelum merdeka, ternyata Indonesia lebih dahulu dipersatukan dan diberi peran yang sama antara satu laskar dengan kelompok pemuda yang lain. Sehingga ketika merdeka, semua merasa berperan dalam kemerdekaan itu. Adapun gerombolan separatis kecil-kecil, namun tidak signifikan dengan persatuan yang telah dibentuk. Berbeda namun Satu, jauh lebih baik daripada sama namun berpecah belah Sedang afghanistan, pasca merdeka, mereka justru bertempur antar laskar sendiri. Mereka gagal mempersatukan perbedaan. Akibatnya, sampai sekarangpun mereka ribut sendiri, padahal agamanya sama..Salut juga pada teman teman di MP… siapa yang mengutamakan persamaan… dia bakal tahu diri untuk segera menyingkir hahahahaa

    sukhoi selesai lady GAGA datang..adakah manfaat lady GAGA datang untuk bangsa Indonesia? itu aja seh

  15. bimosaurus said: Saya sangat autohormat terhadap pak Karno dan para penegak bangsa ini termasuk pak Urip dan Jendral Soedirman. Otak mereka sudah jauh melebihi manusia-manusia jaman sekarang. Coba tengok analogi perbandingan Indonesia dan Afghanistan berikut ini. Indonesia dan Afghanistan sama-sama merdeka dari penjajahan dengan caranya sendiri. Keduanya sama-sama memiliki suku bangsa yang berbeda-beda. Namun apa perbedaannya? Sebelum merdeka, ternyata Indonesia lebih dahulu dipersatukan dan diberi peran yang sama antara satu laskar dengan kelompok pemuda yang lain. Sehingga ketika merdeka, semua merasa berperan dalam kemerdekaan itu. Adapun gerombolan separatis kecil-kecil, namun tidak signifikan dengan persatuan yang telah dibentuk. Berbeda namun Satu, jauh lebih baik daripada sama namun berpecah belah Sedang afghanistan, pasca merdeka, mereka justru bertempur antar laskar sendiri. Mereka gagal mempersatukan perbedaan. Akibatnya, sampai sekarangpun mereka ribut sendiri, padahal agamanya sama..Salut juga pada teman teman di MP… siapa yang mengutamakan persamaan… dia bakal tahu diri untuk segera menyingkir hahahahaa

    wuaaaa mantaaaaap…. autoopininya…..setuju saya Mas Bim…..

  16. edwinlives4ever said: Can you guarantee that if everybody is alike there will be no conflict?

    now…. i cant answered… tha time be answer…

  17. bimosaurus said: Siapa yang suka sama??? he??? homo kalik!!*autogojeg

    saya suka homo….. hahahahakalo yang lain suka ama selain homo ya silahken…hehehehhe

  18. rengganiez said: Perbedaan akan selalu ada, SARA akan selalu bersentuhan dengan kita selama masih ada di dunia ini, namun gimana membuat perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan dalam wujud saling menyakiti hingga membunuh satu sama lain. Lha piye kita lahir ke dunia saja sudah beda, bahkan yang kembar pun pasti ada setitik perbedaan…

    Kalo sama…. malah jadi berabe ntar hehehhehe

  19. dhave29 said: because we are different

    Saya sangat autohormat terhadap pak Karno dan para penegak bangsa ini termasuk pak Urip dan Jendral Soedirman. Otak mereka sudah jauh melebihi manusia-manusia jaman sekarang. Coba tengok analogi perbandingan Indonesia dan Afghanistan berikut ini. Indonesia dan Afghanistan sama-sama merdeka dari penjajahan dengan caranya sendiri. Keduanya sama-sama memiliki suku bangsa yang berbeda-beda. Namun apa perbedaannya? Sebelum merdeka, ternyata Indonesia lebih dahulu dipersatukan dan diberi peran yang sama antara satu laskar dengan kelompok pemuda yang lain. Sehingga ketika merdeka, semua merasa berperan dalam kemerdekaan itu. Adapun gerombolan separatis kecil-kecil, namun tidak signifikan dengan persatuan yang telah dibentuk. Berbeda namun Satu, jauh lebih baik daripada sama namun berpecah belah Sedang afghanistan, pasca merdeka, mereka justru bertempur antar laskar sendiri. Mereka gagal mempersatukan perbedaan. Akibatnya, sampai sekarangpun mereka ribut sendiri, padahal agamanya sama..Salut juga pada teman teman di MP… siapa yang mengutamakan persamaan… dia bakal tahu diri untuk segera menyingkir hahahahaa

  20. dhave29 said: because we are different

    Can you guarantee that if everybody is alike there will be no conflict?

  21. giehart said: ….dan Tuhan tidak perlu dibela manusia……karena Dia sungguh penguasa dunia, termasuk manusia yang sok “membela” agama dan Tuhan….

    padahala nama mereka pembela keyakinan… kenapa Tuhan dimasukan ya?

  22. edwinlives4ever said: That’s not really the question.The real question is “Why can’t we see the differences as a blessing?”

    i just say…. because we are different 😀

  23. dhave29 said: Mengapa ada perbedaan?

    Siapa yang suka sama??? he??? homo kalik!!*autogojeg

  24. dhave29 said: Mengapa ada perbedaan?

    Perbedaan akan selalu ada, SARA akan selalu bersentuhan dengan kita selama masih ada di dunia ini, namun gimana membuat perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan dalam wujud saling menyakiti hingga membunuh satu sama lain. Lha piye kita lahir ke dunia saja sudah beda, bahkan yang kembar pun pasti ada setitik perbedaan…

  25. dhave29 said: Mengapa ada perbedaan?

    ….dan Tuhan tidak perlu dibela manusia……karena Dia sungguh penguasa dunia, termasuk manusia yang sok “membela” agama dan Tuhan….

  26. dhave29 said: Mengapa ada perbedaan?

    That’s not really the question.The real question is “Why can’t we see the differences as a blessing?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...