Yesus….. Kenapa Salibmu Diam…?

Salib yang berdiri didepan mata ini seolah mau berkata. Sejuta makna, tetapi bungkam tak bisa berkata-kata. Entah apa yang terjadi, tetapi coba lihat ada secercah cayaha terang dibelakang sana. Salib yang hitam kelam ini seolah menjadi saksi betapa kelamnya kebenaran yang ditutup oleh tabir, namun akan segera sirna oleh cahaya keesaanNya. Salib itu tersinari oleh cayaha kebenaran untuk mengungkap kenapa Dia di salib?. Sang kala yang akan menjawab itu semua, dan kita akan mengetahui saat sesuatu itu indah pada waktunya seperti selendang yang membalutnya.
Hari ini umat Kristiani seluruh dunia memperingati Jumat Agung, yaitu saat Yesus menyerahkan dirinya di kayu salib. Tidak asing lagi cerita bagaimana saat-saat Yesus di salib, mati, lalu dikuburkan dan setelah itu bangkit. Saya kira semua umat Kristen mengetahui sejarah tersebut, bahkan sejak kecil sudah menjadi cerita yang menarik saat di Sekolah minggu. Saya dengan iman yang masih dangkal hanya ingin melihat dari sudut pandang lain bagaimana memandang kisah penyaliban Yesus tersebut dengan kondisi bangsa ini.
Dalam lirik lagu Perahu Retak karya Franky S, ada kalimat “yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan”. Frangky S, mencoba menggambarkan keadaan negeri ini berkaitan dengan ranah hukum yang dijadikan panggung sandiwara. Tak ubahnya panggung tersebut merip awal masehi, saat Yesus mengalami penganiayaan. Siapa saja yang dianggap makar, menentang kebijakan yang ada, langsung tangkap. Siapa yang berkuasa dialah yang berjaya, itulah politik masa itu dan ada sampai saat ini.
Yesus, sebuah nama yang tak asing bagi kita. seorang yang sangat kontroversial, bagi penganutnya dijadikan tokoh panutan dengan ajarannya tentang cinta kasih. Bagi oposisinya, Yesus adalah musuh terbesar yang ada didunia ini, hingga kenyataannya harus ditangkap hingga meregang nyawa di bukit Golgota. Benar kata orang, politik itu kejam, tak pandang orang, yang tak sepaham langsung dihantam tanpa peduli kebenaran dan keadilan, yang penting posisi aman.
Jauh sebelum Yesus dilahirkan, paran Nabi sudah menubuatkan akan kelahiranNya. Banyak yang meragukannya, tetapi seorang raja Masyur Herodes telah membuktikannya. Baru saja mendengar kelahiranNya, ketakutan luar biasa sehingga memunculkan kemarahannya. Akibat kekawatirannya tersebut, banyak anak laki-laki yang baru lahir harus berumur pendek karena dibunuh. Sebelum lahir saja sudah memberikan kontroversi, hingga saat dia lahir muncul tragedi.
Singkat kata, Dia harus menggenapi apa yang telah tertulis dan menghembuskan nafasnya terakhirnya di kayu salib. Konspirasi besar dengan muatan politis ada dibaliknya tanpa ada yang berani mengungkap, membela bahkan membuka tabir-tabir yang menutupinya. Seorang Pilatus pun cuci tangan dan bingung mencari, Dia salah apa hingga harus diperlakukan layaknya durjana.
Bagaimana dengan negeri ini, adakah manusia yang hampir mirip dengan Yesus nasibnya. Orang benar yang harus menerima kenyataan dijadikan pesakitan, dan mereka yang seharusnya menjadi pesakitan malah bersorak riang. Memang saat ini adalah seperti saat Yesus itu di salibkan, dimana kebenaran di bungkam dan tak ada yang berani menyuarakan. Kalaupun ada yang menyuarakan, itupun tak bakal didengar bahkan tutup telinga untuk mencari siasat serangan balik.
Saya tidak tahu, saat ini mereka yang menjadi pesakitan apakah seperti penjahat yang menemani Yesus di Salib, atau memang orang benar yang dipersalahkan. Mungkin waktu yang akan menjawab seperti saat menemukan kebenaran bahwa Yesus tidak terbukti salah. Memang tidak baik menghakimi orang lain, tetapi biarkan hukum ini benar-benar tegak berdiri memayungi yang benar dan menghukum yang salah.

Kini Yesus sudah terlanjur di salib sebagai wujud penggenapan apa yang telah disuratkan. Kiranya contoh dari penyaliban Yesus menjadi permenungan, bagaimana hukum negeri ini di tegakan. Yang bener memang harus benar dan salah biarkan mendapatkan ganjarannya, dengan berpegang pada prinsip keadilan. Jangan sia-siakan kematiannya di kayu salib, tetapi menjadi contoh dan bukti, kebenaran akan tetap dan waktu yang akan membuktikannya. Kini Salib tak bertuan, dan menjadi bayang-bayang kebenaran. Selamat Jumat Agung, salam damai dan kasih.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. chris13jkt said: Tulisan bagus yang bisa menjadi bahan renungan.Thanks dan Selamat Paskah, Dhave . . .

    makasih Om Kris…… Salam

  2. dessykristanti said: Happy Easter …… GBU

    Tulisan bagus yang bisa menjadi bahan renungan.Thanks dan Selamat Paskah, Dhave . . .

  3. dessykristanti said: Happy Easter …… GBU

    terimakasih…GBu tooo…

  4. m4s0k3 said: Paling enak Jumat Agung sambil baca “Yesus Anak Manusia”-nya Kahlil Gibran, mas. Dalem

    weh..weh…. coba nanti saya lihat dah

  5. smallnote said: Selamat mengenang wafat Isa Almasih, Bung.

    makasih Sist ave…

  6. m4s0k3 said: Selamat Jumat Agung, Bung πŸ™‚

    Happy Easter …… GBU

  7. m4s0k3 said: Selamat Jumat Agung, Bung πŸ™‚

    Paling enak Jumat Agung sambil baca “Yesus Anak Manusia”-nya Kahlil Gibran, mas. Dalem

  8. m4s0k3 said: Selamat Jumat Agung, Bung πŸ™‚

    makasih Om…salam

  9. rirhikyu said: Selamat jumat agung jg mas

    Selamat mengenang wafat Isa Almasih, Bung.

  10. rirhikyu said: Selamat jumat agung jg mas

    Selamat Jumat Agung, Bung πŸ™‚

  11. rirhikyu said: Selamat jumat agung jg mas

    Sami-sami BuPeb… met jumat agung dan menjelang paskahGbu…..

  12. Selamat jumat agung jg mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...