Lidah yang Terlanjur Kaku dengan Beras

BBM yang mendekati detik-detik kenaikan harga sudah disambut meriah oleh kenaikan beberapa bahan pokok, angkutan bus dan beberapa barang lain yang kadang tak ada sangkut pautnya dengan BBM. Memang pusing jika terus berkutat dengan BBM yang tak jelas akar permasalahan ujung pangkalnya, yang penting bisa makan kenyang, beres. Pangan adalah kebutuhan vital bagi kita. Kita yang sudah terbudaya dengan mengkonsumsi beras, pasti tak akan lari jauh-jauh dengan padi. Nah jika BBM naik, bagaimana dengan harga beras, akankah mengikuti atau tetap konsisten dengan harga saat ini.
Memang susah jika fisiologi kita sudah terpola “belum makan jika belum makan nasi”. Jika melihat komposisi proksimat “protein, lemak, karbohidrat” beras, tak jauh berbeda dengan jagung, sagu, ubi jalar, singkong dan lain sebaianya. Budaya yang membentuk kita tak bisa lepas dari beras. Negeri kita yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, sangat kecewa jika hanya padi yang di apresiasi. Masih banyak sumber makanan lain yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan kultur masyrakat setempat. Papua dengan ubi jalar, sagu, NTT dengan jagung, dan tempat-tempat lain yang masih dengan ubi kayu “gaplel/tiwul”. Bagaimana jika kultur-kultur tersebut dikolaborasikan, sehingga keanekaragaman pangan itu tercipta?.
pertanyaan sekarang adalah, apakah masrakat yang sudah sejak kecil terbiasa dengan nasi lalu harus mengkonsumsi sagu atau ubi jalar? sangat aneh sekali. Itulah masalah dengan kebiasaan yang sudah terpatri di mind set dan lidah kita. Pagi ini 28/3/2012 iku panen ubu jalar di dusun Srumbung, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Di areal sawah yang dibudidayakan tanaman yang konon berasal dari Benua Amerika tumbuh subur disini. Ubi jalar yang katanya unggul dengan varietas AC dan Nusantara tanaman di areal persawahan.
Pertanyaan menggelitik muncul, kenapa yang mustinya sawah untuk menanam padi di ganti dengan ubi jalar. Jawaban realistis muncul dari pak Kepala Dusun Srumbung Jurang “mudah ditanam, cepat menghasilkan, mudah menjual, harga lebih bagus dari padi dan menguntungkan”. Tak heran jika dalam 1 hektar sawah bisa menghasilkan uang 12-24 juta dari menanam Ubi Jalar. Nilai yang fantastis, sebab bisa mendapatkan hasil 2 kali lipat dibanding dengan menanam padi. Tidak heran jika sawah-sawah di daerah tersebut beralih fungsi yang semula ditanami padi sekarang ditanami Ubi Jalar.
Tidak semua berkutat dengan Ubi jalar, namun padi tetap mendapat giliran. Usai panen padi, sawah di keringkan, lalu di bajak, di pupuk baru di tanami ubi jalar. usia tanam hingga panen berikisar 4-6 bulan, setelah itu bisa di tanamai Ubi jalar tahap yang ke-2 dan usai itu baru ditanami padi kembali. 2 jenis varietas yang dikembangkan, yakni varietas Ac yang perkilo dihargai Rp 2.500,00 dan Nusantara Rp. 2000.00. Petani juga tidak usah pusing menjual, karena tangkulak datang langsung untuk membeli dan mengangkutnya.
Menurut informasi, ubi jalar yang dibeli oleng para tengkulak akan dibawa di industri saus. Ubi jalar menjadi bahan baku utama dalam pembuatan saus, sehingga membutuhkan material dalam jumlah banyak dan kontinyu. Satu pertanyaan kembali muncul, apakah penduduk setempat yang menanam ubi jalar juga mengkonsumsinya?. Jawaban yang muncul adalah tidak, sebab ubi jalar sebagian besar di jual. Hanya beberapa saja yang dikonsumsi, sebab ubi jalar jenis ini tidak tahan lama waktu penyimpanannya.
Menamam untuk di jual dan jarang yang dikonsumsi sendiri, itulah yang terjadi. Apakah tidak ada teknologi bagaimana mengolah ubi jalar selain dibuat saus. Mungkin dibuat tepung, keripik, dodol yang intinya produk turunannya. Karena potensi karbohidrat yang tinggi bisa menjadi potensi bahan baku industri alkohol atau bio etanol. Sangat disayangkan jika, produk yang melimpah tersebut hanya masuk dalam gudang pabrik saus saja tanpa ada produk turunan lain yang nilainya mungkin bisa lebih besar daripada sebotol saus.
Tanah kita yang subur ibarat kolam susu, batu dan kayu jadi tanaman “kata Koes Plus” sangat sayang jika hasil buminya tidak bisa di apresisasi. Tugas siapa yang bisa mengubah barang yang bernilai sekilo 2000 perak bisa berkali lipat?. Banyak sekolah dan perguruan tinggi yang mampu mencetak lulusan dengan kemampuan melipat gandakan. Kolaborasikan sumberdaya alam dan manusia, pasti yakin akan jauh lebih bermanfaat dari pada pusing mikir BBM naik.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. laurentiadewi said: Nah, enakan gitu :)Tp kl pergi jauh di bumi nusantara *ceileh* dan nguras fisik, sebisa mungkin emang aku usahain makan nasi sih. Biar ga msk angin *sugesti*.

    nasi memang tiada duanya mBa,,,,

  2. laurentiadewi said: ‘Bersyukurlah’ saya yang tidak menganut aliran “belum merasa makan jika belum makan nasi”.

    Nah, enakan gitu :)Tp kl pergi jauh di bumi nusantara *ceileh* dan nguras fisik, sebisa mungkin emang aku usahain makan nasi sih. Biar ga msk angin *sugesti*.

  3. laurentiadewi said: ‘Bersyukurlah’ saya yang tidak menganut aliran “belum merasa makan jika belum makan nasi”.

    saya tipe yang bisa menyesuaikan mBa…. apa adanya adanya apa hehehe 😀

  4. chris13jkt said: Memang susah mengubah apa yang sudah tertanam di benak kita kalau yang namanya makan ya berarti makan nasi. Padahal baru saja makan roti dan ubi, tetap saja bilang belum makan karena belum ketemu nasi.

    Betul Om.. mind set yang keblinger dan salah kaprah….

  5. poniyemsaja said: lha wong intip saja dianggap bukan nasi… :D*habis makan intip, tetep aja berasa belum kenyang kalo belum makan nasi…

    Bagaimana dengan rengginang, jadah, gendar, lontong, kupat dsb….?dasar budak nasi

  6. smallnote said: Lebih lucu lagi adalah menteri kita yang menyatakan Indonesia sudah menjadi nomor satu penderita diabetes di dunia demi alasan ini saja.

    wahahaha… diabetes….? itu penyakit buat mereka yang gak jaga kesehatan…..jangan2 mentrinya ikut kena penyakit gula juga nie..?

  7. imeel said: perut sy jg berontak klo blm ketemu nasi.mas..hehehe……

    ada temannya dunk saya hgehehhe 😀

  8. rengganiez said: padahal kita punya kementerian pertanian, kementerian perdagangan, belum badan ini bada itu..buanyakkkkk

    banyak orang sedikit yang berkerja..sami mawon Mba…..

  9. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    ‘Bersyukurlah’ saya yang tidak menganut aliran “belum merasa makan jika belum makan nasi”.

  10. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    Memang susah mengubah apa yang sudah tertanam di benak kita kalau yang namanya makan ya berarti makan nasi. Padahal baru saja makan roti dan ubi, tetap saja bilang belum makan karena belum ketemu nasi.

  11. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    lha wong intip saja dianggap bukan nasi… :D*habis makan intip, tetep aja berasa belum kenyang kalo belum makan nasi…

  12. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    Lebih lucu lagi adalah menteri kita yang menyatakan Indonesia sudah menjadi nomor satu penderita diabetes di dunia demi alasan ini saja.

  13. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    perut sy jg berontak klo blm ketemu nasi.mas..hehehe……

  14. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    padahal kita punya kementerian pertanian, kementerian perdagangan, belum badan ini bada itu..buanyakkkkk

  15. edwinlives4ever said: It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

    deal and i’m agree….i can imaging, farmers is producers and the consumers, but how the price? its handled by capitalism

  16. dhave29 said: Tugas siapa yang bisa mengubah barang yang bernilai sekilo 2000 perak bisa berkali lipat?

    It’s a bit of dilemma, isn’t it? If rice production reaches an all time high, the farmers will suffer the all time low price.On the other hand, if the production reaches an all time low, it’s the merchants who enjoy the all time high price, not the farmers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...