Memanen Energi Tersembunyi

Jika hukum kekekalan energi yang mengatakan ”energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan” masih berlaku, maka tidak ada krisis energi. Energi bersifat kekal, jika merujuk pada hukum kekekalan energi, namun energi bersifat fleksibel. Energi bisa berubah bentuk, dimainkan, disimpat, dikumpulkan, diledakkan dan terserah mau diapakan. Energi hanyalah sebuah siklus yang selau berputar, berubah dan berpindah saja. Jika ada yang mengatakan kehabisan energi, krisis energi, itu hanyalah hitung-hitungan untung rugi secara ekonomi belaka.

Jika dibilang saat ini kita krisis energi, sebenarnya tidak juga. Banyak energi yang tersimpan, namun kita tidak bisa membangkitkan, mengubah, mengatur dan memanfaatkannya. Tidak usah muluk-muluk berbicara energi nuklir, panas bumi, atau air terjun, ternyata disekitar kita banyak tersimpan energi yang besar tanpa kita sadari. Matahari yang terik acapakali menjadi bahan caci maki yang takut panas, kulitnya hitam, tetapi jika sedikit bersahabat dengannya akan lain cerita.

Mereka yang mencaci maki matahari kadang tak sadar, mereka barusan makan apa?. Makanan yang mereka makan, tanpa ada matahari, itu mustahil. Apa yang mereka hirup saat bernapas itu juga karena matahari. Tumbuhan dengan bantuan matahari bisa berfotosintesis dan bernapas, hasilnya adalah nutrisi dan oksigen. Artinya apa yang kita makan dan hirup, matahari andil besar dalam sintesisnya. Usai mamaki matahari lalu masuk keruangan sambil menyalakan pendingin ruangan, lalu mandi air hangat, tanpa sadar diatas rumah ada panle tenaga surya ”solar cell”.

Siapa mahluk hidup yang tidak buang hajat, atau sisa metabolisme?. Apakah sisa metabolisme itu benar-benar sisa dan tidak berguna sama sekali?. Ternyata sisa metabolisme, mungkin dari hewan disebut tinja, masih memiliki kandungan energi yang tinggi. Di Jepang, baru saja ada yang menemukan makanan dari hajat, mungkin bagi kita masih menjijikan. Jika dilihat dari konteks sains, didalam tinja, energi yang terkandung masih luar biasa banyaknya. Bio Gas adalah salah satu wujud perubahan energinya. Uap dari tinja, berupa gas-gas yang mudah terbakar bisa menjadi alternatif disaat ada kelangkaan BBM dan BBG. Nah andaikata septic tank dibangun menjadi reaktor bio gas, berapa banyak penghematan anggaran dapur.

Nah andaikata kita lapar, tentu akan lemas, artinya kita kekurangan stok energi. Energi kita dari apa? tentu saja makanan dan minuman. Sumber utama energi dalam tubuh adalah karbon. Karbon biasa kita peroleh dari karbohidrat dan lemak. Menjadi pertanyaan sekarang, untuk mendapatkan karbon sebagai sumber energi sumbernya dari karbohidrat dan lemak, sehingga makanan yang mengandung dua unsur tersebut adalah sumber energi. Jika ditanya, makanan apa saja yang mengandung karbohidrat; singkong, gadung, uwi, gembili, sagu, ubi, jagung, umbi-umbian dan masih banyak lagi. Sedangkan makanan yang banyak mengandung minyak; sebut saja kelapa.

Nah lidah kita sebagian tidak familiar dengan sumber makanan tersebut sebagai sumber energi. Lidah kita cenderung manganut budaya yang lumrah; makan beras, kentang, roti, gandum dan lain sebagainya. Masih jarang yang memanfaatkan sumber energi diatas sebagai makanan alternatif, padahal kandungan energinya tak beda jauh dengan beras dan gandum. Hanya urusan rasa dan selera yang membatasi kita untuk mendapatkan energi. Mau bertaruh, besar mana energi roti dan sagu?, coba saja makan sepotong roti lalu beradu lari dengan sodara kita dari papua yang mengkonsumsi sepotong ubi atau sagu. Mau tahu lebih lanjut, buktikan di laboratorium saja.

Memanen energi yang melimpah, namun kita tak berdaya. Banyak sungai berarus deras hanya menjadi obyek wisata dan hanya membangkitkan ekonomi, padahal banyak energi tersimpan disana. Limbah septic tank seolah barang menjijikan, namun didalamnya ada energi yang luar biasa. Negara kita sebagai negara tropis yang dengan pancaran sinar matahari penuh, sayang tidak bisa kita panen, namun acapkali hanya kita caci maki saja. Budaya makan nasi, seolah teriak kelaparan padahal banyak umbi-umbian yang tersia-siakan. Kita kaya energi, namun mampukah kita membangkitkan, mengendalikan dan memanfaatkannya, atau malah mencacinya dan berteriak ”kita krisis energi”. Ingat, hukum kekekalan energi masih berlaku.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. 3ojo said: bener dhave…karena tidak pernah menysukuri alam ini akhirnya nggak tahu memanaatkan …

    benar sekali Om…. alam luar biasa, tapi nganggur

  2. addicted2thatrush said: Krisis energi itu berbanding lurus dengan krisis otak yang kehilangan inovasi dan kreatifitsnya

    sepakat dabs…… setuju

  3. anotherorion said: kadang wong gara2 jijik wis bebeh mikirna sih kang

    yups…sudut pandang dan persepsi Om….

  4. bener dhave…karena tidak pernah menysukuri alam ini akhirnya nggak tahu memanaatkan …

  5. Krisis energi itu berbanding lurus dengan krisis otak yang kehilangan inovasi dan kreatifitsnya

  6. kadang wong gara2 jijik wis bebeh mikirna sih kang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...