Terancam jadi Mahasiswa Abadi

Sebuah tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi. Dari surat edaran tentang publikasi karya ilmiah, kontan membuat beberapa pihak sepertinya kelimpungan. Tidak hany pengajar yang pusing, tetapi mahasiswa tak kalah pusing, bahkan menjadi paranoid begitu membaca surat edaran tersebut. Dari latar belakang surat tersebut, dijelaskan bahwa kurangnya atau rendahnya karya ilmiah mahasiswa, dan lebih telak lagi dibandingkan dengan negara tetangga kita, Malaysia. Akibat kurangnya karya ilmiah tersebut dan melihat komparasi dengan negeri Jiran, maka Dirjen Pendidikan tinggi mengeluarkan 3 point penting. ke tiga point tersebut; mahasiswa aras strata 1 agar lulus wajib mempublikasi karya ilmiah dalam jurnal ilmiah, aras S-2 publikasi dalam jurnal ilmiah terakreditas, dan S-3 publikasi di Jurnal Internasional.
Tujuan yang bagus bagus dari Dirjen Pendidikan Tinggi, untuk meningkatkan kualitas akademik mahasiswa. Saat ini, saya hanya bisa berasumsi, setiap karya tulis mungkin hanya di tumpuk di ruang dosen atau perpustakaan Universitas dan menjadi harta karun yang tidak boleh keluar. Jika tidak percaya, publikasi baik skripsi, thesis atau disertasi, hanya kelihatan beberapa bab saja yang dipublikasikan lewat internet, sedangkan bab terpenting yakni hasil dan pembahasan tidak ditampilkan. Ada alasan berkaitan dengan penjiplakan / plagiasi, atau memang benar-benar dirahasiakan itu sudah menjadi fenomena yang umum di dunia akademik.
Dari surat edaran tersebut, memaksa agar harta-harta karun tersebut dipublikasikan seutuhnya tanpa ada yang ditutup-tutupi atau di hilangkan. Sebuah keuntungan beberapa kalangan untuk mendapatkan informasi kuliah, apabila beberapa publikasi tersebut bisa dan mudah di akses. kembali ke masalah publikasi, sebuah tantangan bagi mahasiswa untuk membuat karya ilmiah dan publikasi dalam bentuk jurnal. Dalam surat edaran tersebut, ketentuan berlaku untuk lulusan setelah agustus 2012 menjadi momok bagi mereka yang belum lulus.
pertanyaan kritis saat ini adalah, bagaimana kualitas dari publikasi?. Asumsi saya jika mahasiswa ditekan harus publikasi dalam jurnal ilmiah, bukan persoalan yang mudah dan juga bukan masalah yang pelik. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu publikasi dibeberapa jurnal, namun banyak pula yang tidak mampu. Apakah dengan publikasi, sudah menjadi jaminan atau menjawab pertanyaan berkaitan dengan minimnya publikasi dan kalah banyak dari negeri Jiran?.
Memang dengan lecutan dan cambukan dari Dirjen Perguruan Tinggi layaknya pelatuk pada pistol akademis, untuk menciptakan produk akademis yang berkualitas. Apakah publikasi sudah menjadi barometernya?. Jika dibandingkan dengan negeri Jiran, kita mungkin kalah selangkah dua langkah. Contoh mudahnya; mahalnya pendidikan di Indonesia, sedikitnya kesempatan mengenyam pendidikan yang layak, anggaran pendidikan yang mepet, hingga permasalahn krusial lainnya dalam dunia pendidikan yang tidak beres hingga saat ini. Berapa banyak mereka yang putus sekolah, gagal kuliah hingga studi yang terhambat. Mungkin alangkah bijaknya jika perbaikan mutu pendidikan tidak hanya sebatas pada publikasi saja yang dituntut, tetapi bagaimana pemerintah juga memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan.
Publikasi bukanlah hal yang susah, bahkan jika harus gampang mengalahkan jumlah publikasi dari negeri Jiran. Katakanlah setiap universitas atau fakultas mampu menerbitkan jurnal ilmiah sendiri dan menjadi media mahasiswanya agar lulus, tidak sulit bukan?, tetapi berbicara kwalitas adalah harga yang harus dibayar, sehingga kesan kejar setoran agar lulus tidak ada. Andaikata publikasi sudah banyak, mau diapakan publikasi tersebut..? kembali menjadi tumpukan primbon-primbon ilmu pengetahuan dan mungkin akan membusuk disana.
Apakah masalah sudah usai jika sudah publikasi?, esensinya bukan disitu saya kira, tetapi lebih ke aplikasi dari publikasi tersebut. Saya kira karya ilmiah bisa tak bermakna jika hanya diatas kertas mungkin hanya akan menumpuk begitu saja atau menjadi bahan-bahan konsumsi mereka yang sedang studi. Andaikata hasil publikasi tersebut diimplementasikan menjadi teknologi tepat guna, saya kira jauh lebih bermakna dari publikasi semata. Saat ini yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi nyata bukan publikasi saja. Produk akademis adalah solusi-solusi terhadap masalah masyarakat dan dunia yang jawabannya sudah di uji, dan bisa di pertanggungjawabkan.
Jikan melongok ke atas dan membandingkan dengan negara tetangga, mungkin tak ada habis-habisnya, terlebih dengan negara yang lebih maju yang jauh lebih banyak publikasinya. Jika demikian, maka mata ini hanya akan tersorot “yang penting aku harus publikasi agar bisa lulus”, sehingga bisa mengaburkan proses dan tujuan dari belajar mengajar. Tak ubahnya dengan pelajar yang dihantui Ujian Nasional, dan kini mahasiswa dengan Publikasi Karya Ilmiah. Sebuah tantangan bagi kita yang hidup di lingkungan akademis untuk menjawab surat dari Dirjen Pendidikan Tinggi, selain publikasi yang berkualitas juga profil lulusan yang bisa menjawab permasalah masyrakat dan dunia. Selamat menciptakan karya ilmiah dan publikasi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

26 comments

  1. duabadai said: semangat masbro! #pecut

    hajaaaaaaaaaaaaar…saja Om

  2. slamsr said: ayoo buruan lulus sebelum agustus…kejar setoran

    alon-alon waton klakon..biar lambat asal selamat Mas…

  3. smallnote said: Selamat datang di negeri hancur lebur.

    tugas kita menata serpihan-serpihan yang berantakan dan menjadikannya bentuk baru Sist.

  4. rudal2008 said: Bingung juga knapa mereka tidak buplikasihkan saja agar yg lain bisa tahu apa benar mereka yg menulisnya atau dibeli dgn uang .Nice share.

    semangat masbro! #pecut

  5. rudal2008 said: Bingung juga knapa mereka tidak buplikasihkan saja agar yg lain bisa tahu apa benar mereka yg menulisnya atau dibeli dgn uang .Nice share.

    ayoo buruan lulus sebelum agustus…kejar setoran

  6. rudal2008 said: Bingung juga knapa mereka tidak buplikasihkan saja agar yg lain bisa tahu apa benar mereka yg menulisnya atau dibeli dgn uang .Nice share.

    Selamat datang di negeri hancur lebur.

  7. rudal2008 said: Bingung juga knapa mereka tidak buplikasihkan saja agar yg lain bisa tahu apa benar mereka yg menulisnya atau dibeli dgn uang .Nice share.

    Betul Om… verivikasi lewat ujian kadang bisa di akali kok…yah akademis butuh kejujuran Om, itu yang terpenting

  8. anotherorion said: betul betul betul

    hehehehe :Dbiasa patroli disana

  9. dhave29 said: di pasar loak banyak bertebaran

    Bingung juga knapa mereka tidak buplikasihkan saja agar yg lain bisa tahu apa benar mereka yg menulisnya atau dibeli dgn uang .Nice share.

  10. dhave29 said: di pasar loak banyak bertebaran

    betul betul betul

  11. rirhikyu said: *lempar nathan ke benua laen 😀

    jauh lebih tinggi grade-nya…..Sist…tapi more better……dah

  12. rengganiez said: penerbitan jadi laris manis dunks..biasanya diikutin dengan ajang bisnis yang menjanjikan 🙂

    yua terutama percetakan, calo skripsi, jasa analisis data hahahahaparah..parah…………………

  13. anotherorion said: TA, Skripsi nek wis mlebu perpus wis ra mokal entuk digowo metu, mending nggolek neng kakak tingkat biasane do eman

    yups di perpus bakalan membusuk……hehehedi pasar loak banyak bertebaran

  14. dhave29 said: lolos dari lobang maut hehehhewah kalo Nathan mah…. bisa 6 kali lipat dari nie….

    *lempar nathan ke benua laen 😀

  15. rirhikyu said: untung dah lulus*mikirin naseb nathan*

    penerbitan jadi laris manis dunks..biasanya diikutin dengan ajang bisnis yang menjanjikan 🙂

  16. rirhikyu said: untung dah lulus*mikirin naseb nathan*

    TA, Skripsi nek wis mlebu perpus wis ra mokal entuk digowo metu, mending nggolek neng kakak tingkat biasane do eman

  17. rirhikyu said: untung dah lulus*mikirin naseb nathan*

    lolos dari lobang maut hehehhewah kalo Nathan mah…. bisa 6 kali lipat dari nie….

  18. bambangpriantono said: Yo, mumpung sik nduwe kesempatan

    wis hajar sajah cak

  19. dhave29 said: pengin mendem po Cak?

    untung dah lulus*mikirin naseb nathan*

  20. dhave29 said: pengin mendem po Cak?

    Yo, mumpung sik nduwe kesempatan

  21. bambangpriantono said: Mendadak pengen kuliah maneh

    pengin mendem po Cak?

  22. mahasiswidudul said: Publikasi karya ilmiah itu gimana sih?? Ditempelin aja di internet gitu?? *was2*

    Mendadak pengen kuliah maneh

  23. mahasiswidudul said: Publikasi karya ilmiah itu gimana sih?? Ditempelin aja di internet gitu?? *was2*

    haha….gak tau aku nie maksudnya gemana,,, di MP kali yah heheheh….

  24. bambangpriantono said: DORRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!

    hahaha……….apes

  25. Publikasi karya ilmiah itu gimana sih?? Ditempelin aja di internet gitu?? *was2*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...