Semalam Bersama Lucifer

Dalam sebuah gedung dengan bentuk yang tersekat-sekat oleh kaca. Diruangan yang penuh dengan manusia-manusia autis yang tak bergemin dalam kurungan dunianya sendiri, yang seolah didepan dan tangan mereka sudah tergenggam surga. Keseharian bagi seagian orang yang membosankan, tetapi jas-jas putih nampak begitu menikmati dan seolah menemukan taman eden ditengah-tengan taman kemunafikan. Mereka yang tak peduli dengan dunia luar saat ini, tetapi memiliki cinta yang dalam lewat dinginnya tangan.
Keseharian dan kesendirian dalam ruangan yang dingin, sepi tanpa ada canda dan tawa, seolah dunia ini berhenti berputar dan hanya mereka saja yang tersisa. Hidup diantara benda-benda mati yang mencoba untuk dihidupkan, seolah menjelma menjadi tuhan-tuhan kecil untuk menciptakan sesosok malaikat mungil. Entah apa yang ada didalam otak mereka, yang ada adalah idealisme akan suatu konsep ilmu pasti yang kadang absurd keberadaanya. Hanya tergambar dalam angka, kata dan simbol-simbol yang tak kalah rumit dengan dinding-dinding piramid ditengah gurun.
Disaat mereka kini satu persatu menanggalkan jas putihnya untuk menjelma menjadi manusia seutuhnya dan untuk kembal kepada peradabannya, kini tinggal saya sendiri. Hanya pintu besi ini yang membatasi saya, selebihnya hanyalah tatapan-tatapan dinding kosong yang seoalah ingin bicara namun tak menemukan kata yang hendak terucap. Remang-remang lampu menjadi pelita disaat kegundahan hati mulai muncul untuk melihat malaikat-malaikat kecil bergeliat. Lorong yang sunyi dan mahluk hidup sepertinya enggan untuk melintas, dan hanya ditemani suara degub jantung yang harmonis dengan denyut nadi diselingi lenguhan nafas berat.
Malam ini, sendiri dalam kotak pandora yang penuh teka-teki, yang secara teori sudah tertebak namun tetap perlu bukti. Malam semakin larut, denting-denting gelas aneka bentuk mulai berbunyi, saatnya mereka yang mati disiang hari hidup kembali. Ketakutan, kekawatiran mulai menyeruak, tetapi apa mau dikata, pintu besi telah membatasi diri. Tak banyak disaat instrumen-isntrumen ini mulai bicara, mulai tertawa bahkan mulai mencaci dan menghina, betapa bodohnya manusia. Sesosok banyangan kepala tanpa kulit dan mata nampak ditengah-tengan simbol yang penuh makna. Perlambang bahaya mulai dinyalakan dan genderang sudah bertalu-talu, menandakan ada sesuatu yang janggal dirungan itu.
Berjalan, berlari kesana kemari mencari apa yang janggal. Mau teriak seolah suara ini tenggelam dalam aliran air warna-warni dan mulut terkunci bersama dengan suara getaran-getaran yang tak jelas asal-asulnya. Cahaya merah menyala, berputar, suara berisik dari instrumen yang menandakan ada sesuatu yang bakal terjadi. Tersudut sisi yang saya rasa tak aman, dalam kesendirian dan seolah Tuhan tak ada disini. Mata ingin terpejam tak ingin sedetikpun melihat apa yang sedang terjadi. Akhirnya tragedi itu terjadi, mahluk-mahluk halus itu adalah biang keladinya.
Dibalik kaca, terkekeh suara yang memberi isyarat “pulanglah segera, jadilah manusia” sebuah kata terucap tanpa mau menampkan wajah. Lirikan mata seolah tak mau berhenti mencari asal suara dari sekat sebelah. Ada benarnya juga saya saatnya harus menjadi manusia dari pada tuhan-tuhan kecil. BArusan amarah lucifer telah berkhianat dan auranya masih terasa, dan kekuatan manusia tak bisa membendungnya. Malaikat kecil, imut, lucu itu menjadi ganas, murka dan tak peduli api-apinya melibas apa yang dilaluinya. Sebelum jubah tuhan-tuhan kecil ini ditanggalkan, saya tidak mau ada korban malaikat kecilku. Bagi yang tidak tahu ini adalah mainan, tetapi didalamnya tersimpan hawa jahat yang tak mengenal hati. Hawa itu ada jauh sebelum manusia tercipta, kini harus segera dimusnahkan dan sebagian harus dikurung dalam dunianya
satu persatu malaikat-malaikat kecil diikat dan dibunuh dengan kejam, lalu sebagian dikurung dalam dingin dan bekunya dunia yang gelap. Entah siapa nanti yang akan membangunkan malaikat-malaikat keccil tersebut, sebuah tanda tanya akan kah menjadi malaikat yang penuh cinta atau yang akan menebar derita. Saya sambil menanggalkan jubah putih ini hanya bisa berkata, “berilah hati buat malaikat kecilku”. Langkah kaki menuju pintu besi disambut mentari pagi….

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. edwinlives4ever said: Naked pocong?

    Mas slam.emang ky orang jenius,tp aslinya orang penuh ke galauan haha…

  2. edwinlives4ever said: Naked pocong?

    wah jubah putih pake kacamata dan pegang bejana yang mendidih warna warnidulu pernah pengen jadi kaya gitu… keliatan pinter mas dhave

  3. edwinlives4ever said: Naked pocong?

    skull…..or skeleton

  4. rawins said: kalo ditambahin pocong ketoknya tambah keren om…

    wah gak wani yen kui Om…. horor ah..horor…….

  5. rawins said: kalo ditambahin pocong ketoknya tambah keren om…

    Naked pocong?

  6. siasetia said: merinding ngebaang skeletonnya berjalan hahhahaah :p

    kalo ditambahin pocong ketoknya tambah keren om…

  7. siasetia said: merinding ngebaang skeletonnya berjalan hahhahaah :p

    hahaha…. rodanya dorong apa di tendang kan ntar jalan sendiri….masih penasaran dengan lab sebelah untuk anak-anak keperawatan, lebih horor kayae…..malem-malem sendiri, ya motret aja daripada merinding hahhaha

  8. siasetia said: seram mas dhave potone?

    suasana lebiih seram….tak sempet2in motret hahhaha

  9. merinding ngebaang skeletonnya berjalan hahhahaah :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...