Pemburu Yang Salah Sasaran

Apa yang terpikir dibenak anda disaat masuk suatu kawasan, katankanlah hutan atau taman yang ada kicau burungnya. Atau jika rumah kita di desa, dan saat menjelang pagi hari kicau burung menyambut datangnya sang surya. Sungguh simfoni alam yang indah dan terasa damai. Entah apa dibalik makna kicau burung, saya yakin semua orang akan menikmatinya. Tidak peduli spesies apa burung tersebut berkicau, yang penting bisa dinikmati. Nah bagaimana jika tiba-tiba nyanyian merdu burung itu hilang gara-gara suara benda asing yang disebut senapan.

Suatu saat sedang enak-enaknya menikmati kicau burung, dilebat dan rimbunnya hutan pinus, terdengar suara..”dor”. Serentak semua penghuni hutan membisu nyaris hening, yang ada hanyalah gemerisik dedaunan yang diterpa angin. Diseberang terlihat ada 5 jagoan dengan senapan angin di tangan. Salah seorang nampak meluruskan mata, fisir dan target, tak berapa lama terdengar suara letusan. Hutan semakin hening, dan kali ini kepakan sayap burung yang menjauh dan berterbangan dengan panik.

Ternyata mereka, jagoan-jagoan yang mengusik burung-burung bersuara merdu. Nampa ditangan mereka beberapa burung kecil yang sudah kaku, dengan bulu-bulu indah, mungil, cantik harur tergantung diseutas tali. Nampak tetesan darah menodai bulu cantiknya dan lobang timah panas yang menembusnya. Lantas dalam benak ini bertanya-tanya, apa yang jagoan-jagoan ini lakukan dengan mahluk cantik tersebut?.

Menembak adalah hobi, burung dan hewan-hewan kecil adalah targetnya, tepat sasaran adalah kepuasan dan membawa ulang buruan adalah kebanggaan. Begitu ucapan yang sedikit disimpulkan dari obrolan bersama-sama jagoan bersenapan tersebut. Lantas ada nilai ekonomisnya tidak berburu hewan-hewan tersebut?, ternyata tidak ada sama sekali, sapa juga yang mau beli bangkai burung kecil, mau dimakan juga percumah karena tidak ada dagingnya. Keputusan terakhir, rentetan burung kecil yang apes tersebut akan dibuang sia-sia disemak belukar, setelah penembaknya puas dengan pengakuan sebagai penembak jitu.

Apa tidak terpikir, apa fungsi burung di alam bebas, apa peranan mereka. Saya tak beda jauh dengan penembak-penembak jitu tersebut, saya hanya menikmati kicauan mereka, sedangkan pemburu menikmati kelengahan mereka. Egois sekali jika saya hanya bisa menikmati tanpa ada andil, setidaknya melindungi mereka. Saya bukan hero yang harus menjadi tameng buat mereka dari jagoan-jagoan yang tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Hanya dengan obrolan santai penuh canda tawa, sambil berbagi bekal makanan itu yang bisa dilakukan. Lewat canda dan tawa, sedikit menyisipkan pesan-pesan bahwa ada ciptaan yang seharusnya dilindungi, atau memang harus dikendalikan populasinya.

Tidak mungkin ngobrol tentang undang-undang, atau kaca mata ekologi, konservasi, bisa ikut ditembak cilaka. Dalam bualan, saya tukar pengalaman saat ikut berburu Babi Hutan dengan anggota Perbakin. Malam-malam dengan lampu sorot besar, mata mengawasi dengan cermat, dan disaat menemukan target, semua hening, diam dan ”bang” seekor babi besar menggelepar. Kenapa yang menjadi target babi, karena jumlahnya banyak dan mengganggu lahan pertanian. Nah beda dengan burung-burung, sudah jumlahnya semakin sedikit, ditangkapi, dijaring, dijerat, di lem apesnya lagi kena peluru nyasar hahaha… disambut gelak tawa mereka. Padahal burung itu makan ulat yang jadi hama, mbangunin kalian pas pagi hari, ngoceh sana-ngoceh sini, apes-apesnya jatuhin tahi didahi hahaha… gak dosa kan dia, gak salah kan dia, itu cuma naluri saja. ”mas disini kan tidak ada babi, mau nembak apa..?” tanya mereka ”tembak aja cewekmu, pakai senapan cinta” hahaha….

Lantas bualan berlanjut lagi, dengan memamerkan permainan tembak-tembakan di kota yang targetnya manusia. Dengan replika senapan berbagai model, kita bisa sepuasnya menembak, berlari, merayap, bersembunyi, adu strategi, sampai keroyokan. Dibutuhkan sportifikas, jika ditubuh sudah ada noda cat, berarti pura-puralah jadi mayat, jika masih bersih teruslah mencari sasaran. Bukan target mahluk kecil bersuara merdu dan tak berdosa, lah apa gak malu dengan babi hutan, menjadi penutup pembicaraan. ”wadooh isin aku mas… kapok…” jawab jagoan-jagoan bersenapan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. laurentiadewi said: Hahahaha gitu yah, wekekekkk (pake spion ah…..)

    hehe… pake kaca di tikungan jalan kae loh…

  2. laurentiadewi said: Apa bangganya membunuh burung, atau gajah sekalipun, kalo hanya hobby? Apalagi menembak dari belakang, diam2. Pria jaman dulu dibilang ksatria kalo mengalahkan binatang buas melalui pertempuran face to face, bukan menembak dari belakang, apalagi lawannya burung. Byuhhh……..

    Hahahaha gitu yah, wekekekkk (pake spion ah…..)

  3. laurentiadewi said: Apa bangganya membunuh burung, atau gajah sekalipun, kalo hanya hobby? Apalagi menembak dari belakang, diam2. Pria jaman dulu dibilang ksatria kalo mengalahkan binatang buas melalui pertempuran face to face, bukan menembak dari belakang, apalagi lawannya burung. Byuhhh……..

    hehehe…. kalo gak lewat belakang sekarang gak kena mba..susah…

  4. mmamir38 said: Kalo daerahnya kena serangan ulet, baru nyaho!

    nah loh… hukum lama kan akan berlaku

  5. rembulanku said: badan gede menenteng bedilehladalah… wanine mung karo manuk prenjak

    lha meh nemabk sing manuk wesi diseneni TNI Udara ngko

  6. orangjava said: Dhave disini nembak burung???Langsung dituntut masuk Hotel Prodeo!!!Pantesan sewaktu aku pulang gak ada burung yang nyanyi…seperti dulu..

    haha….sini mah bebas mbah,,,di bedili kabeh

  7. rawins said: waduh, jaman cilik aku kemana mana ga pernah lepas dari ketapel om…seneng mlinthengi manuk neng sawah..

    wes gaswat… di kalimatan sana..lueh akeh kan mas

  8. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    Apa bangganya membunuh burung, atau gajah sekalipun, kalo hanya hobby? Apalagi menembak dari belakang, diam2. Pria jaman dulu dibilang ksatria kalo mengalahkan binatang buas melalui pertempuran face to face, bukan menembak dari belakang, apalagi lawannya burung. Byuhhh……..

  9. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    Kalo daerahnya kena serangan ulet, baru nyaho!

  10. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    badan gede menenteng bedilehladalah… wanine mung karo manuk prenjak

  11. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    Dhave disini nembak burung???Langsung dituntut masuk Hotel Prodeo!!!Pantesan sewaktu aku pulang gak ada burung yang nyanyi…seperti dulu..

  12. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    Dorrrrrrrrrrrrr

  13. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    waduh, jaman cilik aku kemana mana ga pernah lepas dari ketapel om…seneng mlinthengi manuk neng sawah..

  14. duabadai said: hahaha I like this! šŸ™‚

    raja gombal Mas….

  15. rengganiez said: ya habis itu dititeni..lha kuwi guruku tonggo dewe je…nggambar apik gimanapun tetep wae bijine elek. Ini guru khan kalo nilai, muridnya maju di mejanya, jadi gak dikumpulin rame2..Akhire aku seringe nitip konco, daripada entuk elek meneh…nyebahi kok. Jenenge pak Alex…

    haha….. mimpi buruk kui… gambari raine pak guru wae

  16. dhave29 said: ”mas disini kan tidak ada babi, mau nembak apa..?” tanya mereka ”tembak aja cewekmu, pakai senapan cinta” hahaha….

    hahaha I like this! šŸ™‚

  17. dhave29 said: haahaaa….. modyar….kon Pak Guru…..siip mBa gudidea

    ya habis itu dititeni..lha kuwi guruku tonggo dewe je…nggambar apik gimanapun tetep wae bijine elek. Ini guru khan kalo nilai, muridnya maju di mejanya, jadi gak dikumpulin rame2..Akhire aku seringe nitip konco, daripada entuk elek meneh…nyebahi kok. Jenenge pak Alex…

  18. rengganiez said: ak jadi inget jaman SMP..guru nggambarku itu suka banget nembak burung. Nah suatu ketika disuruh gambar dengan tema binatang. Menggambarlah ak burung dan moncong senjata..lalu kemudian ada tulisan : Lindungilah Aku!..Dapet nilai 5…padahal guru itu gak pelit nilai…Dianya cuma nyeletuk…woo iki nyindir kih..

    haahaaa….. modyar….kon Pak Guru…..siip mBa gudidea

  19. smallnote said: Nah! Alam pun butuh keseimbangan.

    homeostatis bahasa retorisnya….. Sist…

  20. siasetia said: jangan toren atau ember….

    hahahha…jerigen wae

  21. siasetia said: kado akhir tahunnnnnnnnn

    dapat toren……

  22. dhave29 said: Egois sekali jika saya hanya bisa menikmati tanpa ada andil, setidaknya melindungi mereka. Saya bukan hero yang harus menjadi tameng buat mereka dari jagoan-jagoan yang tak sadar dengan apa yang dilakukannya.

    ak jadi inget jaman SMP..guru nggambarku itu suka banget nembak burung. Nah suatu ketika disuruh gambar dengan tema binatang. Menggambarlah ak burung dan moncong senjata..lalu kemudian ada tulisan : Lindungilah Aku!..Dapet nilai 5…padahal guru itu gak pelit nilai…Dianya cuma nyeletuk…woo iki nyindir kih..

  23. dhave29 said: Egois sekali jika saya hanya bisa menikmati tanpa ada andil, setidaknya melindungi mereka. Saya bukan hero yang harus menjadi tameng buat mereka dari jagoan-jagoan yang tak sadar dengan apa yang dilakukannya.

    Nah! Alam pun butuh keseimbangan.

  24. jangan toren atau ember….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...