Sekolah dan Kuliah Gratis ''wani piro..?''

Sejak uang pertama kali diperkenalkan sebagai alat pembayaran yang sah dan menyingkirkan barter, maka semua berpindah pada benda berharga tersebut. Di bangku SD di perkenalkan pengertian uang, jenis-jenis uang dan dimana uang di cetak. Di bangku SMP di ajarkan bagaimana mengolah uang dan masa SMA bagaimana mengetahui sumber-sumber uang. Saat usai SMA atau duduk di perguruan tinggi baru diajarkan bagaimana mencari uang, mengolah dan lain sebagainya. Intinya dan realitisnya, sekolah dari SD hingga kuliah tertuju bagaimana mendapatkan uang.

Seiring bagaimana cara mendapatkan uang, seolah sisi pelajaran lain tertutupi jika berbicara dengan uang. Gelimang lembaran rupiah mungkin bisa membutakan nilai-nilai yang seharusnya lebih berharga daripada uang. Katakanlah jual beli kunci jawaban, membeli nilai, atau suap dan kesemuanya terjadi di dunia pendidikan, padahal pendidikan mengajarkan untuk menghindari itu semua. Entah salah siapa, apakah kesalahan tenaga pendidik atau murid yang salah tangkap. Tetapi ada sebuah situasi yang memaksa dan menekan untuk menghalalkan cara haram dan curang itu semua.

Sejak awal masuk sekolah, harus berlomba dan berkejaran dengan duit dengan lelang bangku kosong. Para orang tua beradu duit siapa yang paling banyak dan sekolahan yang menentukan pemenangnya. Bahasa lainnya adalah komersialisasi pendidikan. Ada wacana sekolah gratis, memang benar sekolah itu gratis, tetapi SPP tetap bayar, buku ajar wajib di beli, uang gedung wajib dilunasi, harus nebus seragam, dan iuran untuk kegiatan ekstrakurikuler belum lagi pungli-pungli yang tidak jelas. Bangku pendidikan yang seharusnya mengajarkan bagaimana menata otak dan hati nurani harus tercemar dengan uang. Memang siswa tak pusing dengan duit, sebab mereka sudah pusing dengan momok yang bernama Ujian Nasional, sebab yang pusing ria adalah orang tua. Dibalik peningnya kepala orang tua mencari dana untuk sekolah anaknya, akan berimbas dengan anak itu sendiri. Secara tidak langsung anak akan terbeban, bagaimana tidak jika ada pengumuan, siapa yang belum bayar SPP tidak bisa ikut ujian, siapa yang belum lunas LKS tidak boleh ikut test dan masih banyak ancaman-ancamab psikologis yang lain. Padahal jika mau cerdik bisa sedikit mengurangi beban pendidikan. Katakanlah dengan memakai buku-buku ajar yang ada di perpustakaan dan mempelajarinya dengan baik, fotocopy materi-materi yang dianggap penting, dan tips-tips murah meriah yang lain. Namun guru nakal tak kalah pintar, ada saja cara untuk cari obyekan, dari buku LKS atau ajar yang di wajibkan ”padahal bisa mencari warisan dari kakak kelas” atau ikut less yang di ampunya agar selamat nilainya dalal mata pelajarannya.

Pendidikan memang terkesan komersial dan memang komersial. Sebuah lembaga pendidikan mungkin juga pusing bagaimana mencari dana untuk membiyayai oprasionalnya, sehingga wajarlah untuk menghargai sesuatu dengan uang. Katakanlah di tempat saya sekolah, hanya untuk membuat kartu ijin kerja di laboratorium harus membayar 50 ribu dan perpanjangan setiap 4 bulan sekali sebesar 35ribu. Untuk satu atau dua mahasiswa sangat sedikit jumlahnya, tetapi untuk puluhan hingga ratusan mahasiswa menjadi lumbung subur bagi universitas. Belum lagi dengan tagihan-tagihan yang tidak jelas, dari mulai pra kuliah hingga kursus bahasa inggris yang esensi keilmuwannya tidak jelas seolah dipaksakan demi pundi-pundi uang. Masih banyak lagi sumber uang dengan mencari-cari dan membuat sistem agar mahasiswa digiring untuk masuk terjebak dan mau tidak mau harus bayar.

Dari bangku sekolahan saja ”mind set” sudah mengarah pada pola kapitalis. Jangan salah jika ada jargon ”wani piro” / berani berapa bermunculan dan semua bermuara pada uang. Mau legalisir ijazah saja muncul ”wani piro” dan jatuh pada angka 2ribu perak perlembar, padahal hanya cap dan tanda tangan. Miris sekali jika segala sesuatu harus dengan uang, terlebih lagi di lingkungan pendidikan. Memang semua uang yang berbicara, tetapi apakah selamanya hati nurani ini akan di bungkam. Kapitalis-kapitalis pendidikan bermunculan, walau ada slogan sekolah gratis tetap saja bayar, sebab tidak ada yang gratis di dunia ini. Yang gratis mungkin hati nurani yang akan selalu ada walau harus terdiam sesaat gara-gara uang. WC umum, saja bayar apalagi sekolah, namun hati nurani tetap gratis, tinggal ”wani piro..?”.

salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. alam204 said: alhamdulillah saya selalu dapat beasiswa, hehe… jarang sekali bayar 😀

    anak pinter 😀

  2. slamsr said: yang penting bayar uang semester lantjarrrr djajauang dan warisannya itu udah ada sejak jaman embah saya main dakon…tapi wacana sekolah gratis itu bisa jadi meringankan beban

    alhamdulillah saya selalu dapat beasiswa, hehe… jarang sekali bayar 😀

  3. slamsr said: yang penting bayar uang semester lantjarrrr djajauang dan warisannya itu udah ada sejak jaman embah saya main dakon…tapi wacana sekolah gratis itu bisa jadi meringankan beban

    wacana sajah yah..?amin dah lancar jaya

  4. rawins said: makanya aku selalu merasa beruntung om…soale ga pernah kuliah…

    hahaha…masih aja bilang UNTUNG yah..? rasa syukur sekaligus penghiburan diri

  5. rengganiez said: masih inget jaman SMA karena gak mau beli LKS pada rame2 potokopi, dimarahi sama gurunya..lha bedanya jauh banget je..ngotot2an ama guru, Ohh belakangan baru tau, guru dapat persenan dari penjualan LKS. Sementara dalih yang dipakai untuk menyerang siswa adalah pelanggaran hak cipta…huhuhuhu

    yang penting bayar uang semester lantjarrrr djajauang dan warisannya itu udah ada sejak jaman embah saya main dakon…tapi wacana sekolah gratis itu bisa jadi meringankan beban

  6. rengganiez said: masih inget jaman SMA karena gak mau beli LKS pada rame2 potokopi, dimarahi sama gurunya..lha bedanya jauh banget je..ngotot2an ama guru, Ohh belakangan baru tau, guru dapat persenan dari penjualan LKS. Sementara dalih yang dipakai untuk menyerang siswa adalah pelanggaran hak cipta…huhuhuhu

    makanya aku selalu merasa beruntung om…soale ga pernah kuliah…

  7. rengganiez said: masih inget jaman SMA karena gak mau beli LKS pada rame2 potokopi, dimarahi sama gurunya..lha bedanya jauh banget je..ngotot2an ama guru, Ohh belakangan baru tau, guru dapat persenan dari penjualan LKS. Sementara dalih yang dipakai untuk menyerang siswa adalah pelanggaran hak cipta…huhuhuhu

    kreatifitas yang di jebak oleh komisi LKS…. wajib… bisnis terselubung Guru, karena guru juga jadi tim penulis mau tidak mau wajib bali biar laris

  8. elok46 said: heheh biasa to maswong tahun 2000 aja masuk UK aja udah nyumbang 150juta (idih nyumbang hehe) yo gak heran kalo sekarang banyak kasus mal praktek :)parah tenan

    ning lha tenan kok kang, nek arep praktikum gak ono anggaran alat2 prakteke dadi gelem gak gelem emang siswa sing kudu iuran, po meneh sekolah swasta sik nembe ngadeg wis ngider proposal neng ndi2 okeh2e mung entuk nasehat tunggu kabar berikutnya, haish prek

  9. elok46 said: heheh biasa to maswong tahun 2000 aja masuk UK aja udah nyumbang 150juta (idih nyumbang hehe) yo gak heran kalo sekarang banyak kasus mal praktek :)parah tenan

    masih inget jaman SMA karena gak mau beli LKS pada rame2 potokopi, dimarahi sama gurunya..lha bedanya jauh banget je..ngotot2an ama guru, Ohh belakangan baru tau, guru dapat persenan dari penjualan LKS. Sementara dalih yang dipakai untuk menyerang siswa adalah pelanggaran hak cipta…huhuhuhu

  10. elok46 said: heheh biasa to maswong tahun 2000 aja masuk UK aja udah nyumbang 150juta (idih nyumbang hehe) yo gak heran kalo sekarang banyak kasus mal praktek :)parah tenan

    hahaha getu yah.. atas nama pendidikan

  11. rirhikyu said: baru tau?wkwkwkwkwkwk

    heheh biasa to maswong tahun 2000 aja masuk UK aja udah nyumbang 150juta (idih nyumbang hehe) yo gak heran kalo sekarang banyak kasus mal praktek :)parah tenan

  12. rirhikyu said: baru tau?wkwkwkwkwkwk

    tau kan sekarang

  13. smallnote said: Judulne salah tulis ya, Mas? ‘Sekolan’ atau ‘Sekolah’? Tadi malah saya bacanya selokan. :-))

    sekolah…oke reivsi hahaha…maklum pake hengpongmakasih Sist

  14. sukmakutersenyum said: ndak tau dehpusing hehehe

    nah udah pusing kan….?

  15. siasetia said: mas dhave tanya pada nurani pasti dia bilang hatinya ga gratis hhahahahah :p

    gratis gak yahhh?

  16. bambangpriantono said: Wooooooo

    ada apa cak…mikir bp3 anak?

  17. rembulanku said: ponakanku mlebu smp negri sing jare gratistapi yo mung gratis ga bayar SPP tapi liyan2e ngadubilahwong tuane pusyiang mikir biaya2 gedung, buku, seragam, praktek dlltotal jutaan, lha piye sing ora mampu ning pinter? po yo nyawang thok?gratis ngomong tok kethoke

    emang…ngomong itu gratis…kadang juga bayar dink..pas telpon

  18. bimosaurus said: Lha? Negeri ini tidak ada murid, tidak ada mahasiswa, tidak ada pasien.. Yang ada hanyalah : Konsumen

    hahahahaaa…betoool Om…sepakat

  19. bimosaurus said: Lha? Negeri ini tidak ada murid, tidak ada mahasiswa, tidak ada pasien.. Yang ada hanyalah : Konsumen

    baru tau?wkwkwkwkwkwk

  20. dhave29 said: hati nurani

    Judulne salah tulis ya, Mas? ‘Sekolan’ atau ‘Sekolah’? Tadi malah saya bacanya selokan. :-))

  21. dhave29 said: hati nurani

    ndak tau dehpusing hehehe

  22. dhave29 said: hati nurani

    mas dhave tanya pada nurani pasti dia bilang hatinya ga gratis hhahahahah :p

  23. ponakanku mlebu smp negri sing jare gratistapi yo mung gratis ga bayar SPP tapi liyan2e ngadubilahwong tuane pusyiang mikir biaya2 gedung, buku, seragam, praktek dlltotal jutaan, lha piye sing ora mampu ning pinter? po yo nyawang thok?gratis ngomong tok kethoke

  24. Lha? Negeri ini tidak ada murid, tidak ada mahasiswa, tidak ada pasien.. Yang ada hanyalah : Konsumen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...