Sampahpun Bersumpah

Prilaku menempatkan sampah dari masing-masing orang berbeda. Bagi mereka yang terbiasa akan didikan bagaimana memeprlakukan sampah akan dengan santun bagaimana sampah itu ditempatkan. Bagi mereka yang nyaris belum memiliki kesadaran penuh, bagaimana manajemen sampas, akan dengan seenaknya membuang sampah. Sampah terkesan dengan prilaku orang yang tidak sekolah, miskin, terbelakang dan lain sebagainya, tetapi tidak sedikit juga anak sekolahan, mahasiswa bahkan tenaga pendidik yang kelakuannya lebih parah. Mau bukti…? pergilah ke beberapa kampus, andai ada sampah berserakan ditempat yang bukan semestinya, itu sudah menjadi indikatornya.

Mungkin bagi kita yang terbiasa bagaimana menempatkan sampah pada tempatnya, jika kedapatan atat memergoki orang yang sembarangan menaruh sampah. Mulai di lempar, ditendang, pura-pura sok cuek membuang sampah, atau gerak reflek membuang sampah adalah prilaku yang biasa terjadi. Bayangkan jika diotak ini sudah terpatri bagaimana memperlakukan sampah dengan baik dan benar, tiba-tiba di didepan lewat cewek cantik membuang bungkus makanan ringan seenaknya. Kesan wanita cantik seolah berganti menjadi seorang yang berprilaku layaknya sampah.

Sangat salut kepada Nohara Shinosuke, tokoh kartun asal Jepang dalam serial Crayon Shincan. Ibu Shincan selalu berpesan, agar setiap kali Shincan mengajak Shiro ”anjing putihnya” berjalan-jalan ditaman untuk selalu membawa sekop kecil dan plastik. Berjaga-jaga setiap kali anjing buang kotoran, maka pemiliknya harus bertanggung jawab membersihkannya. Prilaku yang sederhana terhadap kebersihan yang sudah ditanamkan sejak kecil, bahkan orang tuannya yang mengajari.

Bagaimana dengan ditempat kita, kaum-kaum yang terdidik seolah acuh tak acuh dengan prilakunya dalam menempatkan sampah. Di sekolahan atau kampus, sampah berada di tempat yang bukan semestinya. Mereka yang terdidik dan tahu resiko sampah ditempat yang salah, seolah tak peduli. Alasan malas, gengsi, jijik menjadi kambing hitam dalam memperlakukan sampah. Saat ini, berkaitan dengan manajemen sampah hanya sebatas himbauan dan slogan saja. Tulisan ditempat sampah ”buanglah sampah pada tempatnya” hingga ”plastik, organik, kaca” seolah tak berpengaruh sama sekali.

Pernah suatu saat membongkar 3 tong sampah yang berjajar, dengan warna berbeda dan tulisan berbeda. Plastik, Kaca, Organik, semua juga tahu dan bisa mendifinisikan apa makna tulisan tersebut. Tetapi, tindakan nyata seolah hanya slogan belaka. Tak ada sampah yang dipilah, seolah yang terpikir ”saya mau buang sampah disini saja sudah bagus”. Acapkali menjadi pertanyaan, bagaimana tindak lanjut dari 3 jenis sampah tersebut, apakah sebatas slogan atau memang dengan benar akan dikerjakan. Pagi-pagi sebuah truk kuning datang dan mengambil 3 tong sambah untuk dipindahkan isinya. Berharap di bak truk tersebut ada 3 sekat yang terpisah, ternyata sama saja dan semua tercampur jadi satu.

Entah siapa yang salah atau siapa yang merasa dirinya benar. Mungkin yang terbaik kembali pada pribadi masing-masing. Menolak pemberian kantong plasti saat belanja di minimarket, jika memang tidak diperlukan setidaknya bisa mengurangi dampak sampah, walau ada tulisan ”plastik bisa terdegradasi”. Memperlakukan sampah dengan santun, tidak asal buang tetapi mampu menempatkan sampah pada tempatnya dengan baik dan benar. Mungkin mulut ini akan bosan mengingatkan orang yang ngawur membuang sampah, namun akan menjadi pahlawan lingkungan yang konyol kalau hanya mengingatkan. Cukup lakukan apa yang kita bisa, mungkin orang akan sadar dengan kesalahan dalam memperlakukan sampah. Regulasi dan sangsi seolah hanya penghias belaka, tetapi suatu saat alam akan dengan tegas menghukum akibat ulah orang yang tak bertanggung jawab dan korbannya tidak pandang bulu.

Masihkan kita membuang sampah, jangan lakukan itu, tetapi letakan dan taruh sampah pada tempatnya dengan baik dan benar. Kita bukan Michael Jordan yang memiliki akurasi lemparan yang baik, jika tiap kali membuang sampah dengan melempar. Dari pada mengulang dua kali pekerjaan dengan sampah, lebih baik sekali saja tetapi hasilnya baik dan benar, yakni letakan dan taruh. Urusan sampah itu dilarikan atau hanya sebatas dipindah ke TPA itu urusan pemerintah yang membuat aturan dan memperkejakan dinas kebersihan. Namun jika kita sudah bisa memanajemen sampah, kenapa harus tergantung pada dinas kebersihan, tetapi kelola sendiri dan siapa tahu menjadi tambahan rejeki. Andaikata sampah itu bisa bicara, dia akan bersumpah yang baik akan jadi rejeki yang buruk akan jadi bencana.

salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: kelakuan tirun mbokne Deo karo juragane leontinWEEERRRRR

    hahahha. 😀

  2. sulisyk said: dadi kelingan karo mboke prenge hahahahahahaha

    apa ya Om..?pura-pura nglali

  3. orangjava said: Disini Sampah Flat dibagi…Botol berwarna, tak berwarna, kertas+Kerdus, sampah rumah tangga, Bio(sisa makanan dll), bekas peralatan rumah tangga, plastik dan kaleng jadi dibagi bagi…dijemput oleh BSR(kota Praja) 2 kali seminggu, Sampah dibakar diPABRIK, Energinya untuk manasin Air Pemanas, Air kotor tak masuk sungai, ada jaluran sendiri, ketempat pembersihan air kotor.sisa kotoran dibakar dan dijadikan rabuk…jadi sungai dan danau disini bersih, ….kan pernah ada anggota DPR kesini…..

    Anggota DPR kesana kan dalam rangka plesir atas nama kunjungan negara…Kalo cuma ngolah sampah aja. anak bangsa bisa dan pinter kok. DPR gak perlu kunjungan kesana, tetapi duit kunjungan buat bangun IPAL instalasi pengolahan air limbas dsb, dan 1 lagi jangan di korupsi. Mereka dolan kesana hanya nambah beban negara saja…. andai kita bisa.. cantiknya negeri ini

  4. sulisyk said: dadi kelingan karo mboke prenge hahahahahahaha

    kelakuan tirun mbokne Deo karo juragane leontinWEEERRRRR

  5. dhave29 said: RI oh RI mbah…. disana bagaimana?

    dadi kelingan karo mboke prenge hahahahahahaha

  6. dhave29 said: RI oh RI mbah…. disana bagaimana?

    Disini Sampah Flat dibagi…Botol berwarna, tak berwarna, kertas+Kerdus, sampah rumah tangga, Bio(sisa makanan dll), bekas peralatan rumah tangga, plastik dan kaleng jadi dibagi bagi…dijemput oleh BSR(kota Praja) 2 kali seminggu, Sampah dibakar diPABRIK, Energinya untuk manasin Air Pemanas, Air kotor tak masuk sungai, ada jaluran sendiri, ketempat pembersihan air kotor.sisa kotoran dibakar dan dijadikan rabuk…jadi sungai dan danau disini bersih, ….kan pernah ada anggota DPR kesini…..

  7. rirhikyu said: *lirik isi tas*hiks.. isinya sampah yg ga tega dibuang semena2tas gw isinya bungkus2 permen, kertas2 hadehhh…. gimana mo rapih :p

    sama dunk Bu…. saya kira si Kecil ntar kaya ibunya… hormati sampah…

  8. anazkia said: HeheheheUntung gak jauh, yah?jadi gak perlu naik becak 🙂

    nai genjer ajah wae

  9. anazkia said: Eh, ini kok sekarang sering muncul, yah? HeheheMas Slamet mau hijrah ke mari juga? 🙂

    wah tetangga yah…?kalo mau tanya nyapu,,, nie juragan yang jaga petronas tetep kempling

  10. anazkia said: luar biasa kalimat iniMau quote di FB ah

    duh..duh…byuh…. monggo silahkan

  11. slamsr said: bagaimana kalau melihat dulu dari sisi kebersihannya?duh kok jadi blunder, jarang nyapu

    Bersih yah semua pasti mau…. tapi ini sampah mau kemana..? karena semua melihat hanya pada satu sisi yang penting bersih.. soal yang lain kotor mah urusan juragan sampahnya heheyuuk nyapu

  12. orangjava said: *** Andaikata sampah itu bisa bicara, dia akan bersumpah yang baik akan jadi rejeki yang buruk akan jadi bencana.***setahuku di RI dari dulu lupa pembakaran Sampah dan pembersihan Air….

    RI oh RI mbah…. disana bagaimana?

  13. slamsr said: bwehehe kan tetanggaan mba

    *lirik isi tas*hiks.. isinya sampah yg ga tega dibuang semena2tas gw isinya bungkus2 permen, kertas2 hadehhh…. gimana mo rapih :p

  14. slamsr said: bwehehe kan tetanggaan mba

    HeheheheUntung gak jauh, yah?jadi gak perlu naik becak 🙂

  15. anazkia said: Eh, ini kok sekarang sering muncul, yah? HeheheMas Slamet mau hijrah ke mari juga? 🙂

    bwehehe kan tetanggaan mba

  16. slamsr said: bagaimana kalau melihat dulu dari sisi kebersihannya?duh kok jadi blunder, jarang nyapu

    Eh, ini kok sekarang sering muncul, yah? HeheheMas Slamet mau hijrah ke mari juga? 🙂

  17. dhave29 said: Andaikata sampah itu bisa bicara, dia akan bersumpah yang baik akan jadi rejeki yang buruk akan jadi bencana.

    luar biasa kalimat iniMau quote di FB ah

  18. bagaimana kalau melihat dulu dari sisi kebersihannya?duh kok jadi blunder, jarang nyapu

  19. *** Andaikata sampah itu bisa bicara, dia akan bersumpah yang baik akan jadi rejeki yang buruk akan jadi bencana.***setahuku di RI dari dulu lupa pembakaran Sampah dan pembersihan Air….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...