Tong Kosong Kritis Bunyinya

Gaya bahasa tingkat tinggi, hingga susah dimengerti disertai dengan teori-teori acapkali membuat segan untuk bercakap-cakap. Orang dengan nada bicara tinggi, dan lantang layaknya orator dan bisa mempengaruhi lawan mainnya juga membuat mental down. Mereka yang bisa saja mencari celah hukum, berkelit dari aturan, dan bisa memutar balikan ibarat ular berbisa yang kelaparan. Apalagi mereka yang suka meng kritik dengan membongkar setiap retakan kelemahan hingga menjadi menganga bak singa yang mengkoyak-koyak oposisinya.

Acara demonstrasi, debat, atau obrolan selalu menghiasi layar kaca tiap harinya. Debat antar elit politik memang sudah biasa, atau debat antar pengacara dalam membela kliennya. Bagaimana dengan debat antar kelompok mahasiswa yang diposisikan dan dipaksa berdiri membawa bendera A dan B. Memang sangat menarik dan seru, bagaimana mahasiswa yang berdebat tersebut mengemukakan argumentasi, ide, dan sanggahan. Otak dan ide cemerlang mereka digali untuk menyuarakan nilai-nilai kritis mereka. Saling hantam, saling terkam dengan melihat kelemahan dari lawan mainnya, kemudian mengangkat dan membanting berkeping-keping diiringi sorak kemenangan.

Salah satu cara menciptakan gerasi muda yang kritis adalah dengan berani beragumentasi dan mempertahankan argumennya, atau bisa melihat dari sisi lain dari setiap permasalahan serta mencari solusinya. Sungguh mulia sekali bukan, dari sikap kritis tersebut, sebab mencari sisi lemah untuk menambal demi sebuah kesempurnaan. Mungkin itulah juga yang menjadi landasan ideal adanya opisisi sebagai penyeimbang dan fungsi kontrol dari sebuah sistem perpolitikan.

Sejauh mana sifat kritis itu muncul dan menjadi penambal setiap kelemahan dari sudut pandang lain. Ternyata politik kepentingan telah membuat semuanya berantakan. Sifat kritis yang digadang-gadang menyempurnakan ternyata malah meruntuhkan dan berharap bisa menggantikan lalu membuat bangunan baru. Sifat kritis sepertinya digunakana sebagai amanusi untuk meriap kudeta guna meruntuhkan penghalangnya yang sudah berdiri tegak didepan mata.

Saat menghadiri seminar ilmiah, acapkali sifat kritis digunakan untuk membantai pembicara. Katakanlah seminar proposal skripsi atau thesis, dimana pembicara mengemukakan idenya dihadapan mahasiswa dan dosen, berharap bisa tersosialisasi dan mendapatkan masukan. Kritik pedas hingga ajang pembantaian, walaupun sebenarnya menendang etika dalam seminar, acapkali terjadi. Mereka yang suaranya lepas kendali sepertinya sedang manari diatas mahasiswa frustasi, ketakutan dan lemah mental. Skripsi atau thesis yang mentah gara-gara segelintir orang yang bisa mengorek kelemahan, tanpa tahu bagaimana mencari solusi yang benar.

Sikap kritis kebablasan tanpa ada ruang kendali, sepertinya menjadi tombak penghancur yang beringas dan ditakuti. Mungkin teman saya yang akan seminar akan berdoa buat yang punya mulut kritis itu diare dan tidak datang didalam hajatannya. Kritis memang baik, guna membangun sinergi dan kesempurnaan, tetapi jika tidak diimbangi etika dan jalan baru solusi yang lebih baik sepertinya hanya angin lalu yang sesaat berhembus. Percumah mereka yang orasi namun ”ora ana isi” alias tong kosong nyaring bunyinya, tanpa ada karya nyata yang bisa mereka persembahkan. Semua orang bisa bersuara, walau semua tidak selantang dan sekeras dari mereka yang suka berteriak-teriak. Semua orang bisa melihat dari sudut pandang lain dengan versi kaca matanya sendiri-sendiri. Namun tidak semua mempunyai solusi jitu yang mampu menambal celah-celah kelemahan dengan setiap karya nyata hasil ciptaan sendiri. Sangat mudah menilai atau menyalahkan dengan tutur kata, tetapi tak semudah itu jika harus mencari jalan mana mana yang benar dan menunjukan, mengantarkan hingga menyelesaikan perjalanan. Memang tong kosong berbunyi nyaring, dan lebih nyaring saat dipukul mereka yang keras suarannya padahal kosong isinya.

Salam

DhaVe
KA,220711,0743

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: wah, kelas berat iki

    tak seberat tubuhmu mBa yang mengaku 52Kg

  2. smallnote said: Politik: wahana sinetron yang sedikit lebih berkelas.

    dan reality show terbaru Sist

  3. sulisyk said: lebih enak melihat kusir berdebat daripada elit politik, pengacara dan pejabat berdebat kusir

    bagaimana jika kudanya ikut berdebat..lebih rame sepertinya πŸ˜€

  4. sulisyk said: tanpa etika itulah yang sering kita saksikan, yang menang asal menang yang kalah tak pernah legowo, jalan apapun di tempuh untuk meruntuhkan lawan

    sak enak ususe dewe tentunya πŸ˜€

  5. yswitopr said: huhah… pedesssssssssssss…untung ga pernah ngalami seminar tesis… hihihihi….

    dan tetap Slamet tentunya πŸ˜€

  6. Politik: wahana sinetron yang sedikit lebih berkelas.

  7. lebih enak melihat kusir berdebat daripada elit politik, pengacara dan pejabat berdebat kusir

  8. tanpa etika itulah yang sering kita saksikan, yang menang asal menang yang kalah tak pernah legowo, jalan apapun di tempuh untuk meruntuhkan lawan

  9. huhah… pedesssssssssssss…untung ga pernah ngalami seminar tesis… hihihihi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...