Kebohongan Politikus dan Ilmuwan

Barusan mendapat sebuah pernyataan yang menimbulkan inspirasi di kepala yang sudah gatal lama tida menulis. Seorang ilmuwan ”tidak boleh salah dan bohong”, sedang politikus ”tidak boleh salah tetapi bohong”. Mungkin sangat susah memahami beda ilmuwan dan politikus dari sisi kebohongan. Satu dunia akan sepakat 1+1=2 atau nama ilmiah Jagung adalah Zea Mays, tetapi apakah semua sepakat Nazarudin mantan bendahara Partai Demokrat tidak bersalah.

Bosan sepertinya mendengarkan nyanyian politikus negeri ini yang semakin nyaring bernyanyi dengan nada-nada sumbang. Saling korek kesalahan, saling tusuk dan tendang-tendangan serta merasa dirinya yang paling benar, walaupun akhirnya ”bohong”. Berapa banyak yang tertipu dari mulut manis politikus, walaupun beberapa menyuarakan kebenaran. Berapa banyak mereka yang bekerja di ladang politik yang mengembat duit rakyat, walau beberapa ada yang berkontribusi untuk rakyat. Bohong atau tidak, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Diranah ilmuwan, berbohong adalah sebuah dosa terbesar jika semua dilakukan. Manipulasi, plagiasi mungkin masih marak walau kebohongan ilmiah adalah sebuah kesalahan fatal. Dibesarkan dan ditanam nilai ilmiah dikebun para ilmuwan, seolah otak ini tercuci untuk bilang A adalah A dan B adalah B. Tidak perlu banyak berbicara dan berputar-putar, tetapi katakanlah fakta berdasar data dan analisa. Lucu dan aneh disaat dihadapkan dengan mereka yang setiap hari bergulat dengan silat lidah dan putaran uang hitam.

Masih ingat saat belum genap 2 minggu lulus ujian skripsi, dan belum genap 1 minggu bekerja; tak kala menangani proyek ada uang 400 juta ditangan serta 40 juta uang ucapan terimakasih. Andaikata waktu itu saya sudah bisa bersilat lidah, memutar uang, menjalankan prinsip ekonomi dan tahu celah-celah hukum sudah berpindah itu uang ke saku saya, ”mendadak kaya” tanpa ada yang menyalahkan. Tidak tahu mengapa prinsip-prinsip 1+1=2 dan ZEA MAYS adalah Jagung masih tertanam kuat di hati dan kepala, sehinggi 440 juta kembali ke bagian keuangan. Akhirnya bau busuk itu tercium, disaat-saat menjelang pengunduran diri terdengar berita uang hampir 1/2 miliar dibuat rayahan pimpinan dan kawan-kawan.

Belum selesai perjalanan lingkaran uang setan, praktik-praktik suap, gratifikasi, korupsi hingga manipulasi masih saja berlalu. Memang berat mengatakan kejujuran atas nama uang, dan kebohongan lebih berkuasa demi kekayaan. Siapa yang tidak tergiur rentetan tawaran rejeki cuma-cuma hasil manipulasi dan korupsi. Tidak usah mikir BLBI, Bank Century atau perseteruan pengurus partai, dalam kehidupan sesehari tantangan terberat menanti. Apakah anda yakin mereka yang berbicara panjang lebar, dengan bibir manisnya menyuarakan kebenaran, atau yang pelit bicara seolah ”no comment” atau acuh tak acuh adalah pembohong, kembali hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Beberapa kali duduk bersama dalam ruangan sidang AMDAL ”Analisis Mengenai Dampak Lingkungan”, dimana Ilmuwan dan Politikus dipertemukan. Apa yang terjadi disaat politikus dan ilmuwan masuk ruangan sudah tanda tangan dan menerima amplop putih yang tidak di lem, dan lembaran kertas warna merah menyembul didalamnya. Sebuah simbol agar didalam ruangan nanti jangan banyak bicara. Memang benar didalam ruangan, bagi yang tahu makna amplop akan lebih banyak menganggukan kepala, dan yang tidak tahu atau isinya tidak cocok tetap akan bicara lantang dan blak-blakan. Pulang sidang kembali tanda tangan, dan kembali amplop mampir ditangan sambil peluk dan jabat tangan. Sebuah simbol ”good job, atau besok jangan kembali lagi”.

Apa arti amplop tersebut, mungkin bagi politikus adalah simbol-simbol yang penuh makna harapan, pujian atau ancaman, bagaimana dengan ilmuwan, mungkin barusan berkata ”ketiban durian”. Tidak ada justifikasi politik itu pembohong dan tidak ada jaminan mereka jujur. Tidak ada klaim ilmuwan memegang kode etik, walau tidak sedikit yang menciderai nilai-nilai kebenaran. Uang memang menutupi kebenaran, entah harus berbohong atau menyuarakan kebenaran walau hanya sepatah kata. Mungkin, yang benar katakan benar walau sakit, daripada sehat berkata sakit dengan berbohong.

salam

DhaVe
TM210711,1530

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: ngapusi ae golek slamet

    sluman slumun slamet mba

  2. bambangpriantono said: Jujur ajur

    ora edan ora keduman

  3. smallnote said: Banyak yang jujur tapi lebih banyak yang tidak jujur.

    ada rumusnya yah hehhehe πŸ˜€

  4. mmamir38 said: Di negri ini kagak ada tempat lagi buat orang jujur!

    menunggu negeri Impian Om yan mampu mereka yang berlandaskan kejujuran”Gong 2000 aja masih menanti kejujuran”

  5. m4s0k3 said: Ya, kita bosan dibohongi segelintir manusia kemaruk πŸ™

    padahal sudah ketahuan kalu bohong ya..

  6. sulisyk said: kui duite seko ngendi ya, aku kok bingung asal usul terus muara akhirnya ke man…

    nah KPk aja bingung….. nyetak dan guntinge dewe kali ya..?

  7. Banyak yang jujur tapi lebih banyak yang tidak jujur.

  8. Di negri ini kagak ada tempat lagi buat orang jujur!

  9. Ya, kita bosan dibohongi segelintir manusia kemaruk πŸ™

  10. kui duite seko ngendi ya, aku kok bingung asal usul terus muara akhirnya ke man…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...