Negeriku di Lapangan Hijau

9 bulan sudah, berkutat dengan cidera ”meniscus”, atau bergesernya sendi lutut hingga terjadi pembengkakan. Tidak usah dibicarakan bagaimana rasanya, namun intinya buat lurusin kaki dan berjalan normal sangat susah. Aktivitas pun terhambat, termasuk di lapangan sepak bola, sebab gara-gara sepak bolalah yang menyebabkan cidera tersebut. Kini walaupun belum sembuh total, sudah bisa kembali kelapangan walau harus dibalut agar terhindar dari cidera. Akhirnya, menginjak lapangan dan bola siap menanti untuk ditendang.

Latihan perdana, tidak banyak yang berubah, walau mungkin agak kaku gerakannya, namun secara kekuatan fisik masih sama. Namun mata ini melihat sebuah pemandangan yang menarik dan mencoba menarik dan menghubungkan antar ujung benang merah. Pada sesi latihan yang dibagi menjadi 3 group; senior, junior dan SSB. Semua memiliki pola dan gaya yang sama, walau dengan kwalitas yang berbeda. Tidak akan membicarakan layaknya komentator di televisi, namun coba melihat apa yang menarik dari lapangan hijau.

Pemain mana yang tidak ingin menciptakan gol dan kemenangan, sebab disitulah esensi sepak bola. Tidak peduli penyerang, gelandang, pemain belakang atau bahkan kiper memiliki hak untuk mencetak gol ke gawang lawan. Pada sesi latihan, semua berlatih dan berlomba mengarahkan bola menuju gawang bagaimana caranya agar gol. Menarik sekali, tidak peduli pemain diposisi apa yang penting gol dan gol. Ambisi, oportunis bahkan strategi cerdik hingga licik agar bisa membobol gawang lawan.

Selesai sesi latihan saatnya sesi permainan, dimana pemain menempatkan diri pada posisi masing-masing. Seolah irama musik, semua sudah tahu apa tugas dan tanggung jawabnya untuk sikulit bundar. Satu kesalahan, akan berdampak pada semua tim, disitulah letak permainan tim. Disaat penyerang menyia-nyiakan peluang emas, makan pemain lahin terlihat begitu gusar. Bilamana gelandang tidak bisa mengatur permainan, maka pemain lain terlihat frustasi. Berbeda jika pemain belakang bermain buruk, maka yang lain akan berdebar jantungnya. Lain halnya jika penjaga gawang selalu bertindak ceroboh, maka hanya kecemasan dan kejengkelan yang ada. Berbeda jika tim bermain bagus, semua akan memberikan acungan jempol.

Bagaimana dengan kesebelasan negeri ini?. Semua punya ambisi yang sama, semua memilih posisinya masing-masing walau terkadang harus berebut kursi. Disaat mereka bermain cantik, maka acungan jempol yang diterima, disaat mereka terjatuh maka jempol terbalik dan makian yang diterima. Tak ada bedanya, lapangan hijau dengan lapangan kekuasaan di negeri ini. Wasit sebagai pengadil bisa bermain skor, disaat berlatih semua bisa dimanipulasi, disaat ada yang cidera berobat keluar negeri dan tidak lagi pada timnya.

Skandal pengaturan skor layaknya konspirasi mereka yang berdasi, disaat terjadi suap menyuap layaknya ladang gratifikasi, dan sportifitas dinodai oleh ketamakan dan kekayaan. Saling jegal, sikut bahkan keroyok, berharap pemain lawan cidera, kalau perlu istirahat seumur hidup. Dari SSB hingga tim senior, sudah diajari bagaimana bermain bola yang baik dan benar serta penuh sportifitas. Sejak PAUD hingga menjadi pejabat juga diajari bagaimana menjadi pemimpin. Ambisi, oportunis, kecerdikan, kelihaian hingga kekuatan dibangun agar menjadi yang terbaik.

Ahh lamunan itu hilang disaat peluit kick off ditiup dan melihat bola bergulir. Menjadi pemain belakang memang menyenangkan, bisa melihat disaat rekan menyerang atau siap menghadang disaat kubu lawan datang. Ini hanyalah sepak bola yang tidak kenal politik dan kriminal, namun tetap ada bumbunya. Sepak bola hanyalah bagaimana bermain tim dan menyarangkan gol ke gawang lawan. Sangat sederhana, namun pelatih yang penuh trik dan intrik terkadang memberikan aroma politik yang penuh tanda tanya. Andaikata pelatih hanya mengajarkan bagaimana menendang bola agar tercipta gol, tanpa ada trik dan intrik maka tak akan seseru politik negeri ini yang panas. Busyet.. tak terasa sudah banyak bola bersarang… banyak ngalamun…

salam

DhaVe
Tm 17072011, 1600

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. poniyemsaja said: sendang9 ?? kapaan??

    rawaseneng…. kamsutku hahahha….. sori sms yah..

  2. dhave29 said: udah tak blebet….melu ke sendang9…. kah?

    sendang9 ?? kapaan??

  3. poniyemsaja said: hati-hati…inget dengkulnyaa…..

    udah tak blebet….melu ke sendang9…. kah?

  4. dhave29 said: nanti sore sudah kompetisi lagi hehehe πŸ˜€

    hati-hati…inget dengkulnyaa…..

  5. smallnote said: Saya sudah gantung sepatu sebelum mengikuti seleksi PSSI :-))

    haha..laskar 11…. iku Sist…

  6. sulisyk said: pensiun ah dari main bola

    ayolah,….

  7. poniyemsaja said: weh.. sudah bal-balan lagi??

    nanti sore sudah kompetisi lagi hehehe πŸ˜€

  8. orangjava said: Pertamaxxxxxxxxxxxxxx…hehehe nanti baca dirumah

    ah mBah Kung…

  9. Saya sudah gantung sepatu sebelum mengikuti seleksi PSSI :-))

  10. pensiun ah dari main bola

  11. Hati2 menjaga sendi, mudah2n segera normal kembali

  12. weh.. sudah bal-balan lagi??

  13. Pertamaxxxxxxxxxxxxxx…hehehe nanti baca dirumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...