Aku Bukan Pujangga, Tetapi Maling

Memang benar apa kata lirik lagu yang mengatakan ”…pujangga yang pandai merangkai kata. Untaian kata dari seorang pujangga memang terkadang membuat melayang, berimajinasi betapa manis kata-kata itu, enak didengar dan mempunyai makna dalam sekali. Memang tidak ada yang bisa lari dari untaian kata-kata indah karya sayang maestro seni tulis. Mungkin para gadis akan luluh akan untaian ucapan manis dari sang Arjuna gadungan yang copy paste dari Kahlil Gibran atau lagu-lagu melow. Begitu mudahnya lelaki jatuh ditangan kaum Hawa dengan rayuan-rayuan mautnya. Memang kata-kata yang dirangkai begitu indahnya, seperti racun ular berbisa campur arsenic yang tak terasa namun begitu manjur.

Boleh saja ada yang bilang itu kata-kata manis, ada juga bualan gombal sang pujangga. Menjadi pertanyaan, apakah sebatas manis di bibir saja kata-kata indah tersebut. Mungkin ada yang menjawab, iya atau dengan berkata tegas tidak untuk setiap kata-kata yang terucap. Lihat terkadang betapa mudahnya kedua mempelai mengucapkan janji manis dihadapan penghulu untuk sehidup semati, tetapi tidak untuk selingkuh serong dan akhirnya selesai rumah tangganya. Lebih lucu lagi dengan Arjuna yang kasmaran, yang searching di internet atau membuka-buka cover kaset untuk mencuplik kata-kata manis buat pujaan hatinya. Disaat sang gadis sudah luluh, sang Arjuna kembali mencari cinta. Begitu juga dengan kata-kata manis aparat pemerintah, dan ujung-ujungnya masuk bui gara-gara korupsi.

Begitu dasyatnya rayuan gombal, janji palsu, hingga ucapan air mata buaya, jika manis dibibir seolah tiada guna. Mana yang mau sehidup semati, jika pasangan main gila dengan orang lain, siapa yang tahan pacar tetangga lebih hijau hingga harus berpindah hati, siapa tak tergiur dengan lembaran duit gratifikasi dan korupsi. Kata-kata hanyalah kata-kata saat diawal, namun kebelakangnya boleh waktu dan nafsu yang berbicara. Bibir memang manis, namun tindakan bisa merubahnya menjadi sepahit sakarin, jika hanya sebatas ucapan tanpa ada tindakan, iklan rokok mengatakan ”no action talk only” dan teman saya berkata Tony Boster ”waton muni ndobose banter”.

Bagaimana dengan maling sandal japit disebuah warnet?, sudah dimasa, dipukuli dan akhirnya dihakimi beramai-ramai. Maling itu sudah remuk badannya, tidak ngaku, namun semua tahu bahwa di maling dan nyolong sandal. Tidak ada kata-kata manis, namun dengan tindakan yang luar biasa. Sangat kontras dengan mereka yang berjanji setia, sumpah pegawai, dan cinta mati dengan maling sandal japit butut. Orang boleh bilang ”namanya maling mana ada yang mau ngaku”, maling hanya berbuat tanpa ada mulut manis. Mana ada maling dengan bibir manisnya akan bilang, bisa-bisa gagal semua rencana. Begitu sebaliknya dengan mereka, dengan kata-kata manis akhirnya gagal juga.

Nah maling tanpa banyak kata telah berbuat banyak, lebih mulia dibanding pengobral jiplakan pujangga namun tanpa berbuat apa-apa. Ini bukan masalah benar-salah, namun komitmen dari setiap kata yang terucap dari mulut. Lebih baik jadi maling, yang diam namun dengan tindakan, daripada pujangga gadungan yang hanya manis dibibir. Mungkin jadilah pujangga yang berprofesi jadi maling, dimana ucapan dan tindakan selaras. Aku mau mencuri hatimu, Aku akan maling cintamu, dengan kata-kata dan tindakan. Mulutmu harimaumu, dari mulutmu engkau akan dibenarkan begitu juga dipersalahkan. Setiap kata yang keluar dengan penuh kesadaran dan dari hati yang terdalam mempunyai makna yang besar, sebab semua bisa terjadi dan Tuhan mendengar. Jangan kecewakan apa yang telah Tuhan dengar dan jangan buat Dia bersedih, lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

Salam

DhaVe
kk, 030711, 07.30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. sulisyk said: ga nyangka lewat jalan makadam, sepatuku solnya kurang tebel, sakit telapak kaki jadinya

    besok nyeker saja…lebih tahes

  2. smallnote said: Tak semua orang dapat menerima proses, Mas. Makanya terciptalah cara-cara instan

    hehe..iya ya SIst….. banyak pengawet loh…

  3. dhave29 said: hahaha…. aku sehat…dan waras

    ga nyangka lewat jalan makadam, sepatuku solnya kurang tebel, sakit telapak kaki jadinya

  4. siasetia said: mas dhaveeeeeeee tumben bicara gini :p *padahal belum simak betul panjang nian

    Tak semua orang dapat menerima proses, Mas. Makanya terciptalah cara-cara instan

  5. siasetia said: mas dhaveeeeeeee tumben bicara gini :p *padahal belum simak betul panjang nian

    masih standar kok….. ya gini kalo lagi waras mBa…

  6. sulisyk said: curcol mas?*menikmati pegal2 di betis dan telapaj kaki*

    hahaha…. aku sehat…dan waras

  7. hardi45 said: Kalau maling gadungan itu masih maling, tidak?

    namanya gadungan yan nda Om…hehehhe kayae

  8. mahasiswidudul said: Ada yg malingin hati ku nih.. sekarang di bawa kabur gak ada kabar… maleeeeeeeeeeeeeennnnnnnnngggggg XD

    mau donk jadi malingnya,….

  9. bambangpriantono said: Gombal ahwikikikikikikikk

    kan sesama gombalhehehe 😀

  10. ohtrie said: Semoga masih ada pilihan lain mas…. Menjadi diri-sendiri tentu yang terbaik…. 🙂

    itu jauh lebih baik..menurut versinya sendiri Om…

  11. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    mas dhaveeeeeeee tumben bicara gini :p *padahal belum simak betul panjang nian

  12. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    curcol mas?*menikmati pegal2 di betis dan telapaj kaki*

  13. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    Kalau maling gadungan itu masih maling, tidak?

  14. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    Ada yg malingin hati ku nih.. sekarang di bawa kabur gak ada kabar… maleeeeeeeeeeeeeennnnnnnnngggggg XD

  15. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    Gombal ahwikikikikikikikk

  16. dhave29 said: lebih baik jadi maling gadungan daripada pujangga jadi-jadian.

    Semoga masih ada pilihan lain mas…. Menjadi diri-sendiri tentu yang terbaik…. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...