Kearifan Lokal dan Runtuhnya Moral


Anak muda jaman sekarang aneh, entah sudah jaman atau pola pikirnya yang berubah. Dahulu, disaat saya masih ingusan, katakanlah tempat-tempat yang dianggap angker, sakral, wingit benar-benar dihindari untuk menjauhkan dari malapetaka. Kuburan, pohon besar, goa, atau mata air keramat, kini bukan angker lagi seperti jaman dahulu, tetapi sudah ramai dan jadi obyek wisata. Kearifan lokal yang semakin digerus jaman dan teknologi, sehingga nilai-nilai moral yang ada disana luntur sudah akibat perubahan peradaban.

Sungai, mata air, makan atau tempat-tempat yang sakral, secara spiritual mempunyai nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi. Orang boleh mengatakan disana ada mahluk penunggunya atau banyak mahluk kasat mata. Ada juga yang mengatakan ada hewan buas, ular sebesar pohon kelapa, atau jenis hewan yang lain. Nilai-nilai kearifan lokal yang diciptakan tersebut, difungsikan untuk menjaga tempat yang dimaksud agar terjaga kondisinya. Mungkin ada yang mengatakan, di mata air banyak setan atau siluman ular, agar orang tidak mendekat demi menjaga sumber kehidupan berupa air bersih. Atau pohon besar, dimana orang tidak boleh mengganggu gugat, tetapi pada logikanya agar pohon tersebut berfungsi menjaga kestabilan tanah dan menjadi sumber mata air.

Realita sekarang, adalah tempat-tempat yang disakralkan tak ubahnya menjadi arena bermain muda-mudi yang sedang sekedar main-main atau memadu kasih. Tempanya dijamin sepi, nyaman, dan tak ada yang mengganggu, dan dijamin aman untuk berbuat sesuka hati. Kuburan Cina, yang dibangun dengan baik disertai pelataran yang bagus, bersih kini tak ubahnya taman bermain muda-mudi menjelang petang hingga larut malam. Mereka seolah tanpa sadar ada apa didalam sana, namun gelora asmara atau euforia darah muda menutupi itu semua. Kearifan lokal seolah hiasan belaka, dan hanya dimiliki generasi tua.

Kearifan lokal yang terusif oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ternyata membawa getah bagi pihak-pihak lain yang berbeda kepentingan. 2 hari yang lalu, kami berempat mendapat tugas untuk monitoring kwalitas air sungai disebuah bendungan “dam” irigasi. Seperti biasa dengan peralatan analisa, kami langsung menuju dam, guna melakukan sampling dan identifikasi. Disaat sedang persiapan alat, tiba-tiba didatangi seorang lelaki dengan sabit ditangan dan mengacung-acungkan. Bayangkan siapa yang tidak begetar kakinya dengan acungan sabit yang mengkilat. Saat itu saya sedang ploting letak koordinat dan terlihat teman sudah berubah raut mukanya.

Teriakan lantang lelaki itu “ini bukan tempat wisata, ini tempat berbayaha, cepat pergi atau saya pukul kamu”. Dengan sabit yang diayun-ayunkan senada mengancam hendak mengusir kami. Dengan teriakan tak kalah kerasnya saya cuma menyahut “pak kami hanya sampling air, buat penelitian, kami tidak wisata atau piknik”. Setelah mendengar ucapan saya, bapaknya berubah dari galak menjadi sedikit lunak. Dengan nada halus dan bahasa jawa krama, coba saya jelaskan maksud kedatangan kami disini hendak apa. Sudah saya tebak, semua terjadi kesalahah pahaman diantara kami. Dengan jabat tangan kami meminta maaf jika kami masuk tanpa ijin, beliau juga menjelaskan kenapa semua ini terjadi.

Bendungan yang menjadi titik nadi pertanian, memang sangat dilindungi, sebab banyak yang menyalahgunakan. Dari mabuk-mabukan, berbuat zinah, hingga pencurian besi sering terjadi dibendungan, sehingga penjaga bertindak tegas dan keras. Parah lagi, sering terjadi kejadian diluar kewajaran dan logika manusia, sehingga harus dijaga agar terhindar dari segala hal-hal yang tidak diinginkan. Berawal dari kejadian yang tidak baik tersebut, penjaga bendungan bertindak protektf terhadap siapa saja yang masuk dilokasi bendungan. Akhir dari kejadian saat itu, kamin langsung mendapat surat sakti, silahkan kalau mau ngubek-ngubek bendungan, kalau perlu saya temani dan bantu demi kebaikan bersama.

Kearifan lokal, yang mulai terkikis oleh modernisasi, berbanding lurus dengan degradasi moral pelakunya. Tempat yang dianggap sakral iki untuk berbuat nakal, lokasi yang dulu keramat menjadi tempat zina yang nikmat, lokasi yang angker menjadi lokasi reality show jadi-jadian. Saya kira, orang tua jaman dahulu memberi stempel pada tempat-tempat tertentu ada maksud dan tujuannya berdasar pengalaman keseharian. Dibalik sisi spriritual atau moral, intinya mendatangkan konsekwensi logis jiak tempat tersebut terusik. Mari jaga warisan pendahulu kita, baik dari sisi bangunan dan kearifan yang ada, agar nilai moral masih bisa tumbuh subur untuk generasi mendatang.

Salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: dadi kelingan pas ning wonogiritak ada rasa takut, meski gelap gulita ya tetep nekad pacaran disitu hanya untuk sekedar memuaskan hasrat….

    nah loh… ada saksi mata lagi gehhehen πŸ˜€

  2. siasetia said: ada buktinya mas dhave?

    adalah…. ntar kena RUU APP hahhaaa

  3. bambangpriantono said: Mengko generasi ngarep2 iso luwih parah lho

    sapa tau begitu Cak…

  4. dhave29 said: Bendungan yang menjadi titik nadi pertanian, memang sangat dilindungi, sebab banyak yang menyalahgunakan. Dari mabuk-mabukan, berbuat zinah, hingga pencurian besi sering terjadi dibendungan

    dadi kelingan pas ning wonogiritak ada rasa takut, meski gelap gulita ya tetep nekad pacaran disitu hanya untuk sekedar memuaskan hasrat….

  5. dhave29 said: Tempat yang dianggap sakral iki untuk berbuat nakal, lokasi yang dulu keramat menjadi tempat zina yang nikmat, lokasi yang angker menjadi lokasi reality show jadi-jadian.

    ada buktinya mas dhave?

  6. dhave29 said: ora ngedan ora kumanan…. era gemblung gak gak gaul…jian kasus..kasuss….

    Mengko generasi ngarep2 iso luwih parah lho

  7. 3ojo said: dhave… seandainya saja… kearifan lokal dipadukan pola pikir modern…mungkin kehidupan ini akan lebih indah ya πŸ™‚

    akan lebih harmonis, jika saja moral dan modern… ahklak dan teknologi… oh indahnya peradaban,, sayang tak seiring yang kita inginkan….

  8. bambangpriantono said: Kelakuane cah nom saiki jewww..ancur-ancuran wis.

    ora ngedan ora kumanan…. era gemblung gak gak gaul…jian kasus..kasuss….

  9. pennygata said: ni anak2 muda (tiba2 berasa tuwak), heran yah, pacaran koq ditempat angker, koq pas mau masuk kesitu ndak mikir apa yah? orang kuno dulu bilang, jangan berdua ditempat sepi, entar ada setan lewat bisa gawat, lha anak muda skrng, malah ketempat yg mmg banyak setan , yg bukan cuman lewat mgkn malah memang disitu tempatnya.. hehehehe

    memang enak kumpul bareng setan….kali ya mBa… yah namanya jaman edan, eran ngedan dudu bolone setan…keblinger semua…

  10. sulisyk said: termasuk foto2 ya hahahahahaha**aku blm pernah lo motret2 model di kuburan cina :)))**

    dhave… seandainya saja… kearifan lokal dipadukan pola pikir modern…mungkin kehidupan ini akan lebih indah ya πŸ™‚

  11. sulisyk said: termasuk foto2 ya hahahahahaha**aku blm pernah lo motret2 model di kuburan cina :)))**

    Kelakuane cah nom saiki jewww..ancur-ancuran wis.

  12. sulisyk said: termasuk foto2 ya hahahahahaha**aku blm pernah lo motret2 model di kuburan cina :)))**

    ni anak2 muda (tiba2 berasa tuwak), heran yah, pacaran koq ditempat angker, koq pas mau masuk kesitu ndak mikir apa yah? orang kuno dulu bilang, jangan berdua ditempat sepi, entar ada setan lewat bisa gawat, lha anak muda skrng, malah ketempat yg mmg banyak setan , yg bukan cuman lewat mgkn malah memang disitu tempatnya.. hehehehe

  13. sulisyk said: termasuk foto2 ya hahahahahaha**aku blm pernah lo motret2 model di kuburan cina :)))**

    foto yeyeyehehe… tak taulah Om.. asal gak mabuk ama mesum ajah…..

  14. widiya21 said: meman9 orang-orang sekarang pada gila…lebih gila daripada orang gila itu sendiri

    pada kena Sarap yah hehehe πŸ˜€

  15. dhave29 said: Kuburan Cina, yang dibangun dengan baik disertai pelataran yang bagus, bersih kini tak ubahnya taman bermain muda-mudi menjelang petang hingga larut malam.

    termasuk foto2 ya hahahahahaha**aku blm pernah lo motret2 model di kuburan cina :)))**

  16. meman9 orang-orang sekarang pada gila…lebih gila daripada orang gila itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...