Kenangan dalam ''sepincuk'' Pecel

Akhir pekan, dimana aktivitas rutinitas sesaat dihentikan untuk sekedar menikmati liburan. Iseng-iseng masuk ke pasar tradisional hanya sekedar untuk jalan-jalan dan mencari makanan tempo dulu yang mulai tersingkir makanan cepat saji atau warna-warni. Aneka jajanan tradisional terjajar sepanjang lorong yang kusus menjual aneka makanan. Berjajar dikiri dan kanan, para penjual menawarkan jajanan yang mereka sajikan. Mata melirik pada sebuah lapak yang menjual pecel, dan sepertinya sudah mantab untuk berhenti dan membeli.

Sesaat melihat menu yang tersaji menggiurkan lidah, dimana aneka sayuran hijau, sambel kacang, toge, kerupuk, hingga bermacam jenis gorengan masih hangat dan begitu nikmat. Satu pincuk ”porsi dalam daun pisang” pecel sudah digenggaman tangan. Sepintas mata manatap sepincuk pecel jadi teringat masa-masa saat kuliah dulu. Dosen taksonomi tumbuhan menyuruh mahasiswanya untuk membawa sebungkus pecel menjelang test akhir semester. Dalam ruangan kelas tak ada satu soalpun yang akan diujikan, hanya selembar kertas folio bergaris yang disediakan. ”siapkan pecel, buka lalu daftar takson tumbuhan yang ada didalam pecel”, begitu perintah dosen yang sudah menginjak kepala 6.

Perkiraan diotak meleset semua, dikira selesai ujian akan pesta pecel rame-rame, ternyata memang benar-pesta mengaduk-aduk pecel untuk memilah isinya. Dimulai dari sambel kacang yang berisi; kacang tanah, bawang putih, daun jeruk wangi, dan cabe. Sambel sudah diatasi, lanjut pada sayuran hijau, dari bunga turi, bayam, kangkung hingga kacang panjang. Terakhir adalah secuil nasi ketan dan parutan kelapa ditambah gula jawa dari hasil sadapan nira kelapa. Ada banyak tumbuhan yang didalam, sepincuk pecel, mungkin sebenarnya masih banyak lagi, namun jangan banyak-banyak daripada bikin sakit kepala dan perut. Dari semua daftar tumbuhan, semua harus dikalsifikasikan berdasar taksonnya masing-masing, tentu saja dengan nama ilmiahnya juga.

Entah apa yang ada dibenak saat itu, kenapa begitu mudahnya menghafal nama ilmiah dan taksonnya, yang walaupun acapkali terbalik, salah kamar atau salah sama sekali. Nama-nama indah untuk binomial nomenclature, melekat erat pada masing-masing spesies tumbuhan. Yang teringat saat ini, ARACHIS HYPOGAEA, ALLIUM SATIVUM, CITRUS SP, CAPSIUM ANNUM, SESBANIA GRANDIFLORA, AMARANTHUS SPINOSA, IPOMOEA REPTANS, VIGNA SINENSIS, ORYZA GLUTINOSA hingga COCOS NUCIFERA untuk srundengnya. Sangat menyenangkan masa-masa itu disaat otak dijejali nama-nama tumbuhan.

Yang tidak habis pikir sampai saat ini, kenapa test soalnya dari sepincuk pecel?. Andai terpikir saat itu akan test dengan pecel, makan bawa pecel dengan menu yang sederhana dan tidak macam-macam, karena yang terpikir hanya pesta pecel maka bawa menu pecel selengkap mungkin. Yang terjadi bukannya pesta, malah tragedi akhir semester, namun memberikan kenangan indah dan tak terlupakan dengan komposisi pecel. Dalam benak saat ini, apakah ada pendidik yang punya kreatifitas dengan sepincuk pecel untuk soal-soal ujiannya. Mungkin saat ini tidak harus dengan sepincuk pecel, namun bisa dengan bahan peraga lainnya.

Dari sepincuk pecel, mahasiswa tingkat 4 jadi tahu, dan ingat tanaman apa saja dalam pecel, baik wujud, warna, bau hingga yang sudah dimodifikasi jadi sambel kacang atau srundeng. Dari 5 indera, disaat mata tidak tahu ini tumbuhan apa, hidung bisa menjawab ”ternyata bau bawang putih”, disaat mata dan hidung tidak tahu warna cokelat lembek ini apa, maka lidah akan menjawab ”ini gula jawa”. Sungguh luar biasa test akhir semester saat itu, tak terasa disaat mata, kulit, hidung tidak mampu menjawab makan akan dijawab lidah dan akhirnya masuk keperut. Tidak selamanya test dengan lembaran soal, namun dengan 1 porsi pecel jauh lebih pusing, namun mengenyangkan.

Sebuah kerinduan untuk kembali nostalgia masa mahasiswa dulu untuk mencerna nama-nama ilmiah dalam sepincuk pecel. Sebuah harapan, kelak ada pengajar yang bisa mengadopsi model test sepincuk pecel, karena terbukti manjur dan efektif, dimana tidak perlu buat soal dan yang pasti mengenyangkan, walau sesaat membuat sakit kepala dan keringat dingin. Sudah lupakan, sepincuk pecel masa lalu, dan nikmati saja sepincuk pecel ini. Dari sepincuk pecel, banyak spesies tanaman yang berperan memberi warna, rasa dan aroma.

salam
DhaVe
ka, 18062011,18:40

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: jare cak Nono ning smg ono sipincuk pecel 17 sayuranhayoo kae dijlentrengke jeneng2e sayure nganggo jeneng ilmiahwakkakakkaa *rak sidho madang*

    selak mbededeg hahahaha

  2. simbokdhe said: dosen yang kreatif … salut …

    jare cak Nono ning smg ono sipincuk pecel 17 sayuranhayoo kae dijlentrengke jeneng2e sayure nganggo jeneng ilmiahwakkakakkaa *rak sidho madang*

  3. simbokdhe said: dosen yang kreatif … salut …

    makasih BuDhe….

  4. alexandraprisnadiani said: ha nek kuliah konseling, kon nggowo bungkusan opo yooo??hahay

    sego padang sajah….men wareg

  5. smallnote said: Dosen edhan! Hahaha…

    gemblung tepatnya…. kal bawa nenas enak dunk…

  6. siasetia said: untung ga ada test akhir dari masuk ke perut ya mas dhave :p*kreatif

    untung sajah hehhehee πŸ˜€

  7. rembulanfajar said: takjupppp pake P! berkesan banget tuh dosen!

    maksaih mBa,,makasih…

  8. jahewangi said: kelingan pecel madya…..

    mburi bioskop yooh hehehe…

  9. sulisyk said: wahahaha juoooos tenan dosene….

    puool juose Om…..

  10. ohtrie said: weh…apik juga idene iki Kang…..

    ide gila iki critane.. lha yen kon gawa bobor nongko..nggolek ngeni jal..?

  11. siasetia said: haiyaaaaa kirian ada poto-potonya ):

    wah lagi test..lu, sempat motret

  12. rengganiez said: tadi ngimpii, petik kembang turi mau bikin pecel…huuuuu..cuma ngimpi

    ayooo bangun.. banguuun….jhahjajja

  13. matalensaku said: endi fotone…… hahahahahaaaaaa

    belum usum motrem Mo hahahha

  14. bambangpriantono said: Hehehehe..susyaaaaa..’KLIMAASSSS

    mumet pake bangeet hahhaha

  15. yswitopr said: angel timen….hahahahhaa

    pake Pol Mo…

  16. wprazh said: kreatif juga dosennya

    saking kreatifnya

  17. marpleholmes said: dosennya inspiring… pendekatan pembelajaran yang sangat kontekstual…kalo waktu sma saya mempelajari binominal numenclatur dengan metode seperti di atas mungkin ada yang nempel kali ya… he…

    nah salah satu cara biar nyantol ya gini…

  18. henidebudi said: oow nama2nya susah juga ya…

    tapi keren hahhaha πŸ˜€

  19. dhave29 said: hidung tidak mampu menjawab makan akan dijawab lidah dan akhirnya masuk keperut.

    dosen yang kreatif … salut …

  20. dhave29 said: hidung tidak mampu menjawab makan akan dijawab lidah dan akhirnya masuk keperut.

    ha nek kuliah konseling, kon nggowo bungkusan opo yooo??hahay

  21. dhave29 said: hidung tidak mampu menjawab makan akan dijawab lidah dan akhirnya masuk keperut.

    Dosen edhan! Hahaha…

  22. dhave29 said: hidung tidak mampu menjawab makan akan dijawab lidah dan akhirnya masuk keperut.

    untung ga ada test akhir dari masuk ke perut ya mas dhave :p*kreatif

  23. takjupppp pake P! berkesan banget tuh dosen!

  24. kelingan pecel madya…..

  25. wahahaha juoooos tenan dosene….

  26. weh…apik juga idene iki Kang…..

  27. haiyaaaaa kirian ada poto-potonya ):

  28. tadi ngimpii, petik kembang turi mau bikin pecel…huuuuu..cuma ngimpi

  29. endi fotone…… hahahahahaaaaaa

  30. Hehehehe..susyaaaaa..’KLIMAASSSS

  31. angel timen….hahahahhaa

  32. kreatif juga dosennya

  33. dosennya inspiring… pendekatan pembelajaran yang sangat kontekstual…kalo waktu sma saya mempelajari binominal numenclatur dengan metode seperti di atas mungkin ada yang nempel kali ya… he…

  34. oow nama2nya susah juga ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...