Secercah Harapan Dibalik Angka-angka Keramat

Malam yang sepi, disebuah desa di pinggir kota Salatiga. Waktu menunjukan puku 9 malam, suasana nampak sepi dan hanya suara binatang malam yang terus bernyanyi, namun berbeda dengan sebuah warung didekat pos ronda. Warung kelontong kecil, nampak cukup ramai dengan gelak tawa dan perdebatan sengit membelah kesunyian malam. Beberapa orang dewasa dan mereka yang sudah uzur nampak asyik berkutat dengan kertas dan pulpen menuliskan deretan angka-angka. Perhitungan yang rumit, rumus-rumus buatan sendiri, hingga statistik berisikan peluang menjadi pembahasan yang sengit, untuk mendapatkan satu, dua atau empat deret angka nomer hoki. Togel, nomer buntut, atau apalah namanya marak kembali dan menghangatkan malam dilereng Gunung Merbabu, setelah sekian lama ditidurkan oleh yang berwajib dan kini sudah kembali bergairah.

”Celakalah mereka yang tidak punya harapan”, sebuah kata-kata manis yang menghiasi perdebatan sengit diantara pengunjung kios kecil malam itu. Berbagai profesi, dari petani, supir, pagawai kantor pos hingga PNS duduk sama rata berdiri sama tinggi untuk mencari nomer hoki. Walau hanya bertaruh seribu, dua ribu bahkan puluhan ribu, tetap saja dilayani oleh bandar yang dengan lincah merekap nomer demi nomer permintaan pelanggan. Bermacam kombinasi angka, yang dihitung dengan cermat yang terkadang tidak sesuai dengan hukum pakem mate-matika menjadi harapan mereka malam ini. Ilmu ”gothak-gathuk mathuk” atau saling menghubungkan dari mimpi, fenomena alam hingga orang gila ditanya, adalah seni dibalik togel.

Sebuah sepeda motor datang, lalu bergegas dikerubuti mereka yang sedari tadi kebingungan mendapatkan nomer cantik. Baru saja ada yang datang dari sebuah mata air keramat diujung desa dan sepertinya mendapat petunjuk deretan angka-angka yang bakalan keluar. Antara percaya tidak percaya, ada juga yang nekat bertaruh, sebab keberuntungan tak ada yang menduga. Ada sebuah sisi yang manarik, dimana tempat-tempat keramat yang diyakini angker dan berbahaya, kini menjadi ramai sejak nomer buntut mulai jalan kembali. Pemburu togel sepertinya sudah tidak kenal rasa takut demi mendapatkan angka keramat dan berharap tembus dini hari nanti.

Malam semakin larut, dan bandar segera melakukan rekapitulasi dan siap-siap tutup buku. Semua yang hadir malam itu kembali mengambil sandal yang tertata rapi disamping bale-bale, ada yang sibuk totalan gorengan dan secangkir kopi, atau masih sibuk dengan ramalan ”taypak atau mbah ratu”. Bandar sudah pergi memacu motornya, para petaruh pulang kerumah masing-masing, warung juga sudah ditutup, dan binatang malam masih saja berdendang dikesunyian malam. Sebelum terlelap ada sebuah harapan akan keberuntungan dan menjadi penghantar mimpi yang indah dalam iringan doa.

Pagi menjelang, disebuah papan kecil didekat pos ojek, muncul kombinasi empat angka. Wajah murung, kesal, hingga yang berlompatan nampak disaat berpasang-pasang mata menyaksikan takdir dari coretan angka tadi malam. Ada yang sibuk evaluasi, koreksi hingga mengumpat, bahkan sibuk mengingat-ingat siapa yang tembus dan berharap nanti malam ada kopi dan gorengan gratis. Saatnya kembali bekerja, untuk mencari rejeki dan menyisihkan sedikit untuk mengadu angka keberuntungan malam nanti.

Togel, semenjak jamannya SDSB sudah mendarah daging bagi sebagian masyarakat. Dibalik angka-angka keramat, ada harapan dan lecutan semangat yang membuat orang bergairah. Bagi mereka yang kecanduan, akan menjadi berhala, tetapi bagi yang iseng menjadi harapan akan sebuah keberuntungan. Masalah itu haram, ilegal atau apalah, kembali ke personal masing-masing. Banyak yang membuka usaha gorengan laris manis, penjual pulsa selalu laku, dan suasana malam mencekam menjadi penuh kehangatan dan persaudaraan. Dimana lagi tempat ngumpul kalau bukan di warto ”warung togel”. Ada simbiosis mutualisme dan komensalisme, satu sisi saling menguntungkan sisi lain tidak ada yang dirugikan. Bagi yang kontra, mungkin mereka yang belum tembus, atau belum pernah merasakan nikmatnya racun angka keramat tersebut. Disisi hukum, biarkan KUHP yang berbicara, disisi agama sudah menjadi tugas pemuka agama untuk berkotbah memberikan pencerahan, disisi sosial, masyarakat sudah belajar mana yang baik atau buruk untuk dirinya masing-masing. Secercah harapan dibalik angka keramat untuk esok pagi, manusia berusaha, Tuhan yang berkehendak.

salam

DhaVe
kk,14062011,06:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. elok46 said: yup betul semua pasti ada pro dan kontra to tinggal darimana kita melihatnya dan bagaimana bersikap :)jossssss

    sepakaaat,,,,

  2. rembulanku said: weh… ganti profesi tho Mo?*tutup lawang, tutup jendela, tutup kuping, tutup mata*

    yup betul semua pasti ada pro dan kontra to tinggal darimana kita melihatnya dan bagaimana bersikap :)jossssss

  3. rembulanku said: weh… ganti profesi tho Mo?*tutup lawang, tutup jendela, tutup kuping, tutup mata*

    sing laris bakul gorengane….loh..peluang mBa….sambi dadi agen ae…

  4. yswitopr said: huahahahahhaa…aku dulu pernah nyeletuk dan tembusssssss… dapat persenan.. lumayan buat beli sepatu… hahahahhaa….*ngobong dupa sambil komat-kamit… sapa tau bisa tembus lagi dan bisa beli lensa…

    10 nomeran Mo hahahhaa……sapa reti l series…

  5. alexandraprisnadiani said: di mujahidin belon rame lagi, yang ngejual udah meninggal….

    mau buka cabang ..?

  6. sulisyk said: wah saiki bengi2 mesti suasanae regeng ya mas

    hangat dan rame hahahaaa

  7. sulisyk said: wakakakakaka berarti sekarang belajar kelompok marak lagi ga bu?

    bimbel Om hahaha

  8. sukmakutersenyum said: hhahaha belajar matematika gtu :p

    yah…. rumusnya rumit pokoke

  9. marpleholmes said: hehehe

    :Dikut basang juga?

  10. alexandraprisnadiani said: nek bapakku istilahnya belajar kelompok, soale do dolanan ongko….hehehedulu udah pernah bapak dapet 60 rebu, aku yang suruh ambil, dikasih persenan 10 rebu…xixixi

    tembus kie critane….

  11. sulisyk said: petromax dl**tinggal adus bacanya nanti*siang**

    hahaha…sentir ah

  12. yswitopr said: huahahahahhaa…aku dulu pernah nyeletuk dan tembusssssss… dapat persenan.. lumayan buat beli sepatu… hahahahhaa….*ngobong dupa sambil komat-kamit… sapa tau bisa tembus lagi dan bisa beli lensa…

    weh… ganti profesi tho Mo?*tutup lawang, tutup jendela, tutup kuping, tutup mata*

  13. sulisyk said: wakakakakaka berarti sekarang belajar kelompok marak lagi ga bu?

    huahahahahhaa…aku dulu pernah nyeletuk dan tembusssssss… dapat persenan.. lumayan buat beli sepatu… hahahahhaa….*ngobong dupa sambil komat-kamit… sapa tau bisa tembus lagi dan bisa beli lensa…

  14. sulisyk said: wakakakakaka berarti sekarang belajar kelompok marak lagi ga bu?

    di mujahidin belon rame lagi, yang ngejual udah meninggal….

  15. alexandraprisnadiani said: nek bapakku istilahnya belajar kelompok, soale do dolanan ongko….hehehedulu udah pernah bapak dapet 60 rebu, aku yang suruh ambil, dikasih persenan 10 rebu…xixixi

    wah saiki bengi2 mesti suasanae regeng ya mas

  16. alexandraprisnadiani said: nek bapakku istilahnya belajar kelompok, soale do dolanan ongko….hehehedulu udah pernah bapak dapet 60 rebu, aku yang suruh ambil, dikasih persenan 10 rebu…xixixi

    wakakakakaka berarti sekarang belajar kelompok marak lagi ga bu?

  17. hhahaha belajar matematika gtu :p

  18. nek bapakku istilahnya belajar kelompok, soale do dolanan ongko….hehehedulu udah pernah bapak dapet 60 rebu, aku yang suruh ambil, dikasih persenan 10 rebu…xixixi

  19. petromax dl**tinggal adus bacanya nanti*siang**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...