Bahasamu Batas Duniamu

Sudah hampir sebulan uring-uringan dengan guru Bahasa Inggris. Tiap kali tatap muka selalu nyerocos dengan bahasa Inggris yang fasih, seolah tidak mau tahu dengan lidah saya yang terlanjur kaku ”medok” bahas Jawa. Jangankan bahasa Inggris, lha wong ngomong bahasa Indonesia saja wagu. Belum usai dengan nerocos dengan bahasa David Beckham, pulangnya dijejali tugas terjemahan yang seabreg. Dalam sesi kelas yang ada hanya koreksi, dari setiap tata bahasa yang carut marut amburadul. Padahal belum tentu Pangeran Charles berbahasa Inggris yang baik dan benar sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Suasana kelas Bahasa yang membuat tidak betah, dan sepertinya lebih enak pelajaran Kimia yang rumit atau Biologi yang penuh hafalan.

Kata-kata suci yang selalu di ucapkan Bu Guru sebelum memulai pelajaran bahasa Inggrisnya ”bahasamu adalah batas duniamu”. Dengan belajar bahasa, maka seoalah tidak ada batas dibelahan dunia apa saja. Memang benar, bahasa adalah alat komunikasi dimana saja, asal saling mengerti. Sadar pentingnya bahasa, maka apapun menu bahasanya sikat habis tak tersisa dan berharap bisa menembus batas-batas dunia. Mungkin, jadi iri dengan mereka yang menguasai banyak bahasa dan bebas kemana aja dengan berbicara. Saya kira, bakat dan daya ingat sangat berpengaruh dalam kecakapan bahasa asing. Mungkin saya tercipta dengan porsi yang kurang dengan permasalahan bahasa verbal, sebab lidah ini susah sekali menari dalam bahasa asing.

Guru bahasa, yang lincah dan fasih seolah terus memacu lidah agar sesuai dengan intonasi dalam pelafalan setiap kata. Logat Inggris-Jawa dikikis habis agar mirip menjadi Inggris-Liverpool atau Inggris-Chelsea. Andai dulu lahir jadi anak Ratu Elizabeth, mungkin tidak seperti ini kejadiannya, begitu mbrojol langsung menirukan penyiar BBC. Saya muak dan jengkel dimana lidah harus ditekak-tekuk biar mirip logat Cinta Laura, namun apa boleh buat namanya aja guru, di gugu lan di tiru. Saat didalam kelas, suara bisa distel mirip orang bule, begitu keluar kembali seperti Ki Manteb Sudarsono dengan bahasa Jawa medok.

Bisa karena biasa, maka setiap kali bertemu harus memakai Bahasa Inggris. Okelah, disepakati biar cepat fasih dan lancar seperti orang Eropa berkulit sawo matang. Walaupaun, capcus dengan bahasa asing, sepertinya lucu juga dengan membunuh sementara logat asli. Dialek yang sudah mengakar daging, menjadi plasma nuftah seolah sulit dirubah, dan itulah yang menjadi daya tarik Inggris logat Jawa. Jangankan saya, Presiden SBY saja, inggrisnya Medok Melayu, dan tidak seperti Bule, mengapa saya dipaksa kaya bule. Bule yang pinter bahasa Inggris dari Balita saja pengin medok Jawa, kenapa kita harus medok bahasa Bule?. Jika di kalkulasi, banyakan mana, Orang Bule belajar bahasa Jawa, dengan orang Jawa belajar Bahasa Inggris. Seharusnya kita bangga, dikurikulum kita ada pelajaran bahasa Inggris dan Jawa, tetapi di Inggris sana tidak ada muatan lokal ”kawruh basa Jawa”.

Akhirnya, titik jenuh capcus dalam bahasa bule harus di akhiri agar lebih kondusif. Orang yang mempelajari bahasa, maka akan terjebak dalam bahasanya sendiri. Sepinter-pinternya orang bisa dan menekuni bahasa Inggris, Aborogin, atau Sunda, tanpa diselingi ilmu pengetahuan lain, tidak akan paham apa itu hukum Gravitasi, fungsi Logaritma, atau cerita Babad Tanah Jawa. Buat apa belajar bahasa, kalau tidak tahu ilmu pengetahuan. Terbukti guru bahasa Inggris saya tidak paham konsep evolusi itu bagaimana, yang dia tahu hanya terjemahan buku ”the origin of species” itu saja dengan bahasa yang acak kadul dan tidak pas pemakaiannya. Silahkan belajar bahasa asing, dan itu wajib, tetapi imbangi dengan ilmu pengetahuan agar batas dunia itu jelas.

Salam

DhaVe
KA, 13062011:16:18

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. elok46 said: Nah tuh dia maksudku mas

    hehehe bener kan….?

  2. dhave29 said: iyah..karena mereka memahami…kita aja yang sok yess….

    Nah tuh dia maksudku mas

  3. elok46 said: aku hanya inget perkataan seorang kawan dari amerikasebenarnya gak usah dipersusah belajar bahasa inggris karena orang bule tahu keterbatasan kita, bicara saja sekehendak hatimu biarkan hati, mimik muka dan tangan yang membuat bahasa sendiri yang lebih universaltapi menurutku orang bule lebih bertoleransi daripada orang indonesia sendiri bukan ???

    iyah..karena mereka memahami…kita aja yang sok yess….

  4. rembulanku said: *mbayangke* yen ketemu face to face diputar lagi crita inibiar ekspresi bisa diliathahahaha

    aku hanya inget perkataan seorang kawan dari amerikasebenarnya gak usah dipersusah belajar bahasa inggris karena orang bule tahu keterbatasan kita, bicara saja sekehendak hatimu biarkan hati, mimik muka dan tangan yang membuat bahasa sendiri yang lebih universaltapi menurutku orang bule lebih bertoleransi daripada orang indonesia sendiri bukan ???

  5. rembulanku said: *mbayangke* yen ketemu face to face diputar lagi crita inibiar ekspresi bisa diliathahahaha

    trus di poto hahahaaa

  6. mahasiswidudul said: ada yg bilangin aku javlish… java english.. ngomong bahasa jawa nyampur bahasa inggris… hahaha.. ya namanya bahasa.. yg penting ngerti sama ngerti laaaaaaahhh… *bahasa isyarat mode on* 😀

    sepakat Mab.sepakat sajah…asal njeplak pokoke

  7. pennygata said: Weleeeh, gak perlu lah sampe aksen enggres banget, pokok tau dasar tenses iso ngomong gak blepotan banget, ngarti lawan ngomong opo wes beres, toh kita lak bukan duta besar/pejabat :DLogat enggresku itu enggres suroboyo, cuwek ae dah :))Ya si guru mgkn terlalu serius blajar bhs sampe gak blajar yg laen :))

    setuju Sist….setujuh sekali.. sala bisa ngomong sama-sama pahan…selesai perkara,,,

  8. siasetia said: genus agapornis hheheh :p

    weh apaan nie Sist

  9. sulisyk said: **donga dosene minggu ngarep ra mlebu**

    kei rica-rica sing pedes hahaha

  10. sulisyk said: mesti dikei pr translate akih

    iyoh hahahaa…ora nyambung mbe biologi sisan…

  11. sulisyk said: mesti nulis karo mecucu iki

    memble Om…prengat prengut

  12. bambangpriantono said: Hehehehehe…Kayaknya aku keslentik deh

    kapok Kon….rasakno….hahahaha

  13. sulisyk said: mesti nulis karo mecucu iki

    *mbayangke* yen ketemu face to face diputar lagi crita inibiar ekspresi bisa diliathahahaha

  14. ada yg bilangin aku javlish… java english.. ngomong bahasa jawa nyampur bahasa inggris… hahaha.. ya namanya bahasa.. yg penting ngerti sama ngerti laaaaaaahhh… *bahasa isyarat mode on* 😀

  15. ********dengan lidah saya yang terlanjur kaku ”medok” bahas Jawa. Jangankan bahasa Inggris, lha wong ngomong bahasa …*Dhave kalau denger orang Zimbabwe ngomong Inggris aku suka ingat Ning YOGJA…mledeg banget Dhave…koyo Pak dalang hehehehe..opo kowe ngono…yo ora opo2 tho?Chas Jowo Dhave……

  16. Weleeeh, gak perlu lah sampe aksen enggres banget, pokok tau dasar tenses iso ngomong gak blepotan banget, ngarti lawan ngomong opo wes beres, toh kita lak bukan duta besar/pejabat :DLogat enggresku itu enggres suroboyo, cuwek ae dah :))Ya si guru mgkn terlalu serius blajar bhs sampe gak blajar yg laen :))

  17. genus agapornis hheheh :p

  18. dan akhirnya klimax hahahahahaha

  19. **donga dosene minggu ngarep ra mlebu**

  20. mesti dikei pr translate akih

  21. mesti nulis karo mecucu iki

  22. Hehehehehe…Kayaknya aku keslentik deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...