Hembusan Angin Surga dan Cita-cita Anak Bangsa

Semalam mendengar celotehan teman-teman kuliah tentang cita-cita mereka waktu kecil. Ada bermacam cita-cita, dari Dokter, insinyur, pilot, tentara dll, namun tak satupun cita-cita yang digapai sebab saat ini mereka masih berkutat dengan studi dan mengaku tidak punya cita-cita lagi. Hanya satu cita-cita ”cepet lulus dan bergelar master”. Impian masa lalu yang terkubur oleh keadaan dan tekanan lingkungan, jangankan digapai disentuh saja susah.

Doktrinasi sejak kecil tentang cita-cita seolah mimpi yang dipaksakan oleh orang tua lewat gambar, televisi dan dongeng gambalnya. Dipaksa mimpi dan setelah bangun dikenakan atribut tentara, polisi, dokter untuk karnaval 17-an. Mimpi yang diskenario tanpa ada tindak lanjut, sehingga hanya jadi kenangan pahit masa lalu. Tak ada asa dan cerita untuk sebuah cita-cita, sebab mimpi-mimpi itu berlalu begitu saja. Dokter, polisi, tentara sudah lupakan saja dan hadapi realita menjadi mahasiswa pembedah kodok.

Apakah saat ini para orang tua meracuni anak-anak mereka dengan mimpi..?, tawaran menggiurkan tentu saja masih ada. Coba andaikata saya ditawari jadi dokter, apakah orang tua saya mampu membiayai saya kuliah kedokteran yang bisa nembus angka 1 miliar. Jangankan dokter, untuk bisa dapat pangkat bintara di kepolisian saja udah puluhan juta, itu saja kalau lolos. Ngimpi kali ya orang tua memberikan cita-cita menjadi pilot tanpa pernah mengajak anaknya main-main dibandara, museum yang ada pesawatnya atau mainan peswat-pesawatan.

Cita-cita adalah harapan masa lalu yang kata guru SD saya ”gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, kenyataannya ya hanya digantung saja dan diombang-ambingkan oleh benda-benda luar angkasa yang bernama mimpi gombal yang tak pernah merasakan lelapnya malam. Andaikata mimpi itu saya gantungkan di langit ketujuh mungkin masih bisa diraih dibanding setinggi langit, sebab diatas langit masih ada langit. Andaikata tangan ini tak sampai dilangit yang ke-6 masih ada langit ke 4, 2 atau hanya diatas puncak gunung saja, dan apes-apesnya masih bisa diraih didalam jurang kesusahan.

Memberikan mimpi masalalu bak angin surga yang dihembuskan sesaat dan hilang berlalu begitu saja. Tak ada follow up dan realisasi, yang ada hanya sebatas ucapan dibibir manis. Andaikata bisa ditindak lanjuti, tidak susah menjadi seorang dokter karena banyak sekali sekolah kedokteran, apalagi TNI POLRI yang jauh dari cukup bahkan kebutuhan pilot juga masih banyak, namun layaknya angin surga yang berhembus. Ini hanyalah angan saja, andaikata niat jadi dokter maka sejak kecil sudah diarahkan dengan dunia kedokteran dan tidak dibebani dengan hafalan yang jauh tidak ada sangkut pautnya dengan dunia suntik menyuntik.

Di negara sebelah sana yang barusan kena gempa dan tsunami anak-anak sudah digiring kearah cita-citanya sejak dini. Urusan nanti ganti cita-cita atau tidak tercapai urusan belakangan, yang penting arah dan tujuan anak-anak jelas. Berbagai upaya orang tua dan pemerintah dilakukan agar generasi muda cerah masa depannya. Bagaimana dengan negeri merah putih yang baru bisa menggalakan sekolah gratis, namun harga buku yang melambung tinggi?. Wajib belajar 9 tahun, UN yang menjadi momok dan angka pengangguran tinggi setelah jadi sarjana. Saatnya negara merealisasikan mimpi-mimpi anak bangsa bukannya membangunkannya disaat mereka terlelap dalam buaian cita-cita dengan angin surga. Begitu juga dengan anak bangsa, mari bermimpi dan gantungkan cita di langit yang mampu kau gapai dan bangun wujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.

Salam

DhaVe
KK 190311, 06.30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. ohtrie said: cita-citakuuuu..ingin jadi pilottt…..lah jebul ngepit wae ra isaaaa, piye jalll..? 🙂

    pit roda 3 Om…

  2. rembulanku said: ho oh, dan itu tho yang kebanyakan terjadi di masyarakat tanpa disadari oleh si pelaku [ortu & anak]

    cita-citakuuuu..ingin jadi pilottt…..lah jebul ngepit wae ra isaaaa, piye jalll..? 🙂

  3. rembulanku said: ho oh, dan itu tho yang kebanyakan terjadi di masyarakat tanpa disadari oleh si pelaku [ortu & anak]

    >sist Ave:kebetulan komunikatrok udah sembuh, sehingga bisa bercerita… makasih… jangan lupa nanasnya…

  4. rembulanku said: ho oh, dan itu tho yang kebanyakan terjadi di masyarakat tanpa disadari oleh si pelaku [ortu & anak]

    Lama juga tak membaca ceriteramu, Bung Dhave! 😀

  5. rembulanku said: ho oh, dan itu tho yang kebanyakan terjadi di masyarakat tanpa disadari oleh si pelaku [ortu & anak]

    termasuk aku jadi korbannya hehehe D

  6. dhave29 said: anak jadi alat meraih cita-cita ya hehe 🙂

    ho oh, dan itu tho yang kebanyakan terjadi di masyarakat tanpa disadari oleh si pelaku [ortu & anak]

  7. >mbae yang mahasiswa:PPsMbUksw hehe… wah liat realita aja deh…>mba Lala:haha..jadi anak jadi alat meraih cita-cita ya hehe 🙂

  8. ponakanku belum genap 2th tapi dipundaknya dah ada beban berat untuk masa depan dari ortunya fiewh…. mulai dari memaksa masuk sekolah sejak usia sangat dini hingga pengarahan ke sekolah mewah bertaraf internasional agar cita2 orang tuanya tercapai [bukan cita2 anaknya]

  9. kuliah dmn om?? saia dlu pgn jd dokter, lah kok skrg ngulikin kompie. hehe :p

  10. >mBa Rehan:hahaha… sekarang jadi apa…pramu…pramu…pramu…pramus yustisio hahaa

  11. wah,,, jadi ingat cita – cita saya waktu SD jadi pramugari sekarang nggak mungkiiiin. Kurang tinggi haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...