Ini Bencana Manusia, Bukannya Bencana Alam

Merenung sejenak sambil trenyuh melihat tragedi dari layar kaca. Banjir ada dimana-mana, tak peduli dengan Indonesia yang hutannya gundul, atau luar negeri yang konon sudah menjadi negara maju. AIr seolah tak pandang bulu melibas apa saja yang ada diposisi yang lebih rendah. Hanya dalam sekejab, energi perusak berupa air telah mampu menghancurkan apa saja yang dilewati. Ratusan nyawa melayang, puluhan jasad tak ditemukan, dan tak terhitung kerugian materi.

Air yang katanya bisa dikendalikan didaratan, kini seolah berontak dari cengkraman bendungan, waduk, atau sungai. Manusia hanya bisa terpana takjub melihat dasyatnya air. Siapa yang menjadi sebab semua ini, pasti semua sepakat menjadikan air sebagai kambing hitam. Bolehlah, karena air adalah biang keroknya. Apabila ditelusuri dari hilir sampai hulu, maka manusia berandil besar dari bencana ini. Andaikata tidak ada korban manusia dan harta bendanya, mungkin tidak akan jadi masalah. Manusia berperan sebagai obyek dan target korban, sehingga sudah sepatutunya dipersalahkan.

APakah terpikirkan seberapa besar kerusakan ekologis yang ditimbulkan oleh manusia yang kemudian menjadi karma kepada manusia itu lagi. Tidak sportif jika menyebut sebagai bencana alam, tetapi bagaimana jika disebut bencana manusia, karena manusia sebagai sumber dan korbannya. Keserakahan manusia yang berorientasi pada sektor ekonomi dengan terus mengeruk hasil bumi tanpa memperhatikan efek ekologinya.

Alam yang disakiti dengan terus dijarah tanpa ada garansi dan ganti rugi tentu saja tidak akan tinggal diam begitu saja. Alam tak tanggung-tanggung dalam melampiaskan amarahnya kepada pengrusaknya dan mereka yang tak tahu apa-apa. Tidak bisa disalahkan jika alam ini murka dan mengamuk kepada siapa saja. Tragedi yang ada bukanlah hukuman, tapi sebuah peringatan kecil. Alam yang kesakitan sedikit meronta untuk diobati dengan mengembalikan fungsi dan perannya dalam sistem biosfer.

Keserakahan segelintir manusia yang mencari keuntungan harus ditebus dengan korban jiwa dan benda. Tidak tahu siapa yang menanggung, apakah mereka yang duduk manis diatas mebel mahal atau yang asyik dengan corat-coret diatas kertas putih pulp. Jika ditarik benang merah, seharusnya bisa menjadi bahan refleksi dibalik tragedi ini. Bijak terhdapam alam, ramah kepada lingkungan, arif terhadap tindakan, setidaknya bisa menjadi obat yang mujarab sebelum sakit semakin parah. Cukup sudah tragedi ini, dan kembalikan lagi fungsi ekologis layaknya eden dalam bumi yang seimbang dan berkesinambungan. Tebang keserakahan dan menjarah hutan, dan bakar aktivitas yang tak ramah terhadap alam. Alam memang minta diperlakukan alami…

salam

DhaVe
TM, 18012010, 13:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. otto13 said: The Day After Tomorrow..Merinding aku kalo inget pilem itu…Pelajaran SD kita dahulu rasanya sudah musnah dech, tidak berbekas, demi hidup yang lebih baik, mengeruk kekayaan alam, spt yang mas sebutkan “tanpa ada garansi dan ganti rugi”..Saatnya alam menyerang balik…

    iya menunggu… saja biar tahu rasa,,,,,mengerikan jika harus membayangkan

  2. smallnote said: Alam tak berbeda dengan watak manusia

    The Day After Tomorrow..Merinding aku kalo inget pilem itu…Pelajaran SD kita dahulu rasanya sudah musnah dech, tidak berbekas, demi hidup yang lebih baik, mengeruk kekayaan alam, spt yang mas sebutkan “tanpa ada garansi dan ganti rugi”..Saatnya alam menyerang balik…

  3. smallnote said: Alam tak berbeda dengan watak manusia

    persis sama….

  4. Alam tak berbeda dengan watak manusia

  5. >cak Nono:mari iku di pepe…>mas Rudal:yea… betool.. alam memang kurang bersahabat dan manusia yang terkadang yang memecah persahabatan… makasih Om…>bu Peb:kabar Baik Bu.. maaf lama gak nulis.. lagi diluar jangkauan inet..semoga terlaksana.. saya setuju dan dukuuuung..semangat..

  6. bener banget dhavePa kabar.makanya gue masih punya bbrp passion yg blum sempet gue wujudkanmoga2 nanti bisa gue wujudkan terutama di pendidikan anak2 , baik itu ttg greenpeace deelel

  7. Di Indonesia masalah banjir disebabkan karena kelalaian isi buminya, sedangkan di jerman saat ini banjir disebabkan oleh alam yg tidak bersahabat dgn manusianya yaitu ES mencair dan alirnya ke sungai mengakibatkan meluap ke jalan-jalan dan rumah penduduk. Tapi kalau di jakarta banjir uang hehehe….Nice share I like it somuch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...