Nama Besar Sang Plagiator

Pagi hari udara yang sejuk, dan dunia terbuka seiring sinar mentari menerangi. Sebuah kerinduan dari masa lalu, saat Bapak menjelang lepas subuh memutar tombol radio untuk mendengarkan berita dari RRI. Radi transistor dengan tenaga 4 baterey abese menjadi sumber informasi disaat televisi dan media cetak belum menjamah pedalaman Kalimantan. Sayup-sayup berita dibacakan penyiar dengan suara datar yang sedikit ”kemresek”. Kini masa telah berubah dan semua berubah namun esensinya tetap sama.

Bangun pagi, selesai curhat dengan Sang Khalik saatnya menyaksikan berita. Dulu radio transistor, kini jaman sudah maju dan beralih pada internet. Wah gaya ya… bukan, mau lihat berita aja buka internet, kan ada televisi atau koran?. Sudah hampir 3 bulan tidak pernah melihat televisi, karena hangus disambar petir. Sudah 3 bulan juga tidak baca koran langganan tempat kerja, karena sudah tidak ngantor. Yang ada hanyalah ponsel lipat serbaguna dan tahan lama keluaran 2004.

Disaat sedang berselancar dengan mesin peramban, ada sebuah judul yang menarik. Penasaran dengan isinya lantas buka dan baca, namun sampai ditengah-tengah, seperti ada kejanggalan dalam artikelnya. Banyak penulisan data dan fakta yang salah, lantas meluncur kebawah lagi alhasil cuma karya tulisan seorang mahasiswi. Aneh lagi yang mengunggah tulisan tersebut seorang laki-laki dan tidak ada sangkut pautnya dengan penulis dan bisa dikatakan copas ”salin-tempel”.

Sekilas menarik juga artikel yang saya baca, namun jika hasil jiplakan ya sama aja bohong. Berpindah ke laman sebelah, tak jauh beda parahnya. Plagiator-plagiator dengan bangga menampilkan temuannya untuk menghiasi rumah mayanya. Sungguh luar biasa kreativ mereka, disaat yang lain ”kasatan ide”, tetapi mereka masih deras idenya, walau hasil bocoran pipa orang lain. Enggan rasanya meneruskan dan membaca artikel yang dicomot dari sana-sini tanpa jelas sumber dan kebenarannya. Sungguh internet kalo bisa pinjam punya Nokia ”connecting people”, menghubungkan hasil plagiasi.

Muak dengan ulah plagiator kini cek surat elektronik dulu aja, siapa tahu dapat undian 1 miliar. Wah ada beberapa yang nongol dikotak masuk. Sedikit senang sekali sebab ada beberapa kawan mengirimi saya kabar. Namun setelah semua saya buka, isinya cuma terusan alias forward-an. Mirip surat berantai dengan isi yang sama. Saya mengira, pinter sekali teman saya bikin artikel, ternyata tak jauh beda dengan para penjiplak.

Layaknya missionaris yang menyebarkan ajaran agama yang berasal dari 1 sumber kitab suci, mereka juga berasal dari 1 sumber informasi. Dengan modifikasi dan edit sana-sini bahkan menghapus pengarangnya lalu diklain ini hasil karyanya, sepertinya hal yang biasa. Usai sudah berjalan-jalan didunia maya dan saatnya menuju kampus untuk mencari ilmu.

Disudut kecil tempat biasa kami mengumpulkan laporan, ada berjajar kertas hasil tugas dosen. Iseng aja melihat-lihat kertas A4 dengan huruf times new roman font 12 yang diketik rapi. Sekilas membaca dari beberapa judul makalah yang ada. Mata ini terbelalak saat membaca sebuah tulisan yang saya ingat mirip artikel yang saya baca 4 tahun yang lalu. Susunan kalimatnya mirip, langsung saja menuju daftar pustka dan tak ada satupun sumber yang dicantumkan. Wah ternyata dunia pendidikan sudah dicemari budaya plagiasi.

Ada sebuah etika dimana saat kita memakai sumber informasi dari pihak lain adalah mencantumkan yang empunya. Beberapa orang mengasumsikan dengan menulis sumber pustka, membuat seolah bodoh dan hanya tergantung pada orang lain. Yah sebuah konsekwensi logis disaat memakai karya orang lain, karena bukan otak kita yang menghasilkan. Sebuah wujud penghargaan dan penghormatan akan karya orang lain. Lha wong orang mbaca puisi yang pertama kali di baca adalah judul lalu pengarangnya.

Ya tak akan habisnya untuk membahas plagiasi, setidaknya bisa belajar bagaiama jika karya sendiri dipakai orang lain tanpa ijin.

Salam
DhaVe
Pojokan rumah, 5 Oktober 2009

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. orangjava said: Risoles bisa dijiplak gak Laaa??

    >mBa Sandra; wehehe just do it…>mBa Lala; dipatenke mBa resolese… ngko dijiplak mBah Kung neng jerman kono loh hahhaaha…ya gak gak ada habisnya…>mBah Kung; yah seperti itu mBah… adol tinuku ilmu.. wuiiih ngeri jan… miris.. >Cak Alex; wah itu mah aji mumpung… blas gak orisinil hehehe…. yoook njiplak yook….

  2. orangjava said: Risoles bisa dijiplak gak Laaa??

    plagiasi… ajang buat eksis.. sapa tau ajah bisa ngetop kaya Sinta – Jojo 🙂

  3. orangjava said: Risoles bisa dijiplak gak Laaa??

    bisa banget mbah wong kasat mata

  4. Risoles bisa dijiplak gak Laaa??

  5. weh…. lagi2 masalah jiplakan :(((

  6. * Wah ternyata dunia pendidikan sudah dicemari budaya plagiasi.* gak heran kalau dengar lagu2 Indonesia atau film2 Indonesia…..mirip ini itu…

  7. ga usah dipikir mas…dilakoni wae…hehe

  8. >mBa Laras; terbukti nyata ya mBa.. kasihan ilmu yang disepadankan dengan materi….. berapa banyak biaya hingga sekripsi kelar kalo akhinya dijual..>mBa Sandra; wah gak deh aku… kalo bisa aku tolong donk…. mikir dengkulku aja mumet… hahaha….

  9. @pakdhe bagong: dulu waktu saya masih kuliah, profesi saya seperti itu…(ngaku.com)kalu aku, walupun dulu pernah jadi “joki” tetep aja semua hasil karya orang lain, tetep ta kasih siapa pengarangnya kok.tapi jarang banget nyontek (plek jiplek) skripsi orang lain. kita kerja tetep pake hati, tetep nyari materi dan tetep mikir..hehehemayan kok, bisa buat beli baju baru…hahahaha

  10. plagiat mah udah hal bisasa kali yah apalagi di kalangan mahasiswa, lah wong banyak juga yang jualan skripsi2 tahun2 lama di pasar je hehehe

  11. >Cak Nono; wah pak dosen mencak-mencak iki…. hehehe….

  12. Buat skripsi? hmmmm lahan yang sangat guriih kriuk-kriuk

  13. >mas Sulis; mau donk kameranya hehehe.. dah gatel mijet shuuuuter hehehehe… hihihihiii…>Kangmas Dedi Bagong; yah.. jualan ilmu getu yah… jasa dan makelar ilmu… kasihan sekaligus peluang. Orang pintar harus berjuang saat disisihkan oleh kepakarannya dan sekarang tidak memintarkan namun membodohi orang lain agar kelihatan pintar. Wua… wuaa….>mBa Agatha; semua berwal dari proses mBa…. Nah etika itu yang perlu dijunjung tinggi… makasih sudah berbagi…salam

  14. Duluuuu pertama kali ngeMP, masih bbrpa kali copas, tapi selalu dicantumkan tulisan siapa, atau kalo gak tau tulisan siapa, aku tulis dpt kiriman dr email teman, tadi pagi… HehehheSkrng udah ampir gak pernah, kecuali puisi2 yg mnrt aku bagus, tentu plus nama pengarang dan tahun hidupnya heheheh

  15. jasa pembuatan skripsi juga sudah menjadi bisnis yg menggiurkan lho?

  16. mohon ijin tak kopas postingan ini, terus mau tak edarkan ke tetangga ya eh ga jadi ah…saya malah mau mengedarkan kamera selir murah, tertarik ga?? xixixixixixi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...