Lebaran ''setor muka lewat dunia maya''

Lebaran memang menjadi magnet bagi semua umat, dan semua seolah merayakannya. Sebuah budaya untuk pulang kekampung halaman, bertemu sanak keluarga dan silaturahmi. mencoba melihat sisi lain dari kacamata yang berbeda dan kontradiski dari sebuah makna suci ”lebaran”. Tradisi baru seiring perkembangan jaman dan pesatnya teknologi yang mengaburkan makna hari suci.

Budaya ditempat saya adanya ritual sungkeman, yaitu sujud meminta maaf dan doa restu kepada orang tua ”kakek nenek, ayah ibu”. Yah budaya turun temurun yang tak pernah saya lakukan, karena seolah hanya seremonial belaka. Tulus, iklas dan berserah mengakui segala kesalahan seolah manis dibibir pada saat itu. Untaian doa monoton hanya terucap tak bedanya dengan pembacaan UUD45 setiap kali ada upacara. Yah seremonial yang terus diulang, tanpa tersentuh sedikitpun makna sebenarnya.

Sekedar setor muka, bisa dikatakan seperti itu atau sekedar basa-basi untuk menguatkan ikatan keluarga yang setelah 1 tahun ditinggal. Ironis benar, satiap setahun sekali minta maaf, padahal belum tentu berbuat kesalahan dalam kurun waktu tersebut. Seolah ada pengampunan masal disetiap kesalahan, tanpa ada upaya perbaikan dan hukuman. Memberi maaf juga mau tidak mau musti dilakukan daripada tertekan situasi dan kondisi. Makna iklas dan tulis seolah mengikuti arus situasional yang terpatok pada 2 tanggal merah dan cuti bersama.

Teknologi tak kalah lagi mengaburkan bendera basa-basi demi sepatah kata ”maaf”. Ratusan pesan singkat mampir dengan kata-kata mutiara hasil ”forward”. Ratusan ucapan nangkring distatus jejaring sosial yang berbelas kasih dan pamrih ”comment”. Puluhan gambar kartu lebaran di ”tag” silih berganti, walau hasil ”unduhan” dari laman tetangga. Entah ada niat apa dengan mengirim pesan singkat, update status dan tag kartu lebaran, apakah dengan niatan tulus atau sekedar basa-basi belaka.

Tidak tahu apa yang terjadi dengan masing-masing individu dengan apa yang telah mereka lakukan. Niat suci bisa dilampirkan lewat kecanggihan teknologi. Kendala ruang dan waktu untuk silaturahmi bisa diatasi dengan bantuan teknologi canggih. Acapkali teknologi hanya sabagai media asal mereka senang, atau menunjukan akan eksistensi dirinya agar bersinar selalu didunia maya ”seleb status”.

Lewat sebuah momment tahunan, alangkah baiknya tetap pada porsi dan proporsinya, sehingga makna indahnya idul fitri bisa selalu dirasakan dan diwujud nyatakan. Sampaikan dengan penuh tulus dan keiklasan disertai kerendahan hati, niscaya berkah ramadahn selalu tercurah. Momment tahunan, biarlah menjadi tradisi yang terus ada, tetapi maknanya tetap selalu ada sepanjang masa. Rasa mengasihi, memafkan dan silaturahmi hendanya buka seremonial tahunan belaka, namun menjadi bekal dalam keseharian. Mari berlebaran, dengan segala kerendahan hati saya ucapkan selamat idul fitri bagi yang merayakan dan yang tidak tetaplah ikut berpartisipasi sebagai wujud toleransi keberagaman.

Salam

DhaVe
Kamar Ademku, 10 September 2010, 14:15

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: mas Trie.. hehe matursuwun…

    ,mba Imeel.. makasih sama2salam selalu…pì÷ÂÞé«ÆбÈÐÙíòñÿÿòÿüòþøúÿüüÿýþþþþþþþþþþþþþþþþþþþþþÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ?÷ÿÿÓ? ,fbb=r,,,1b07

  2. dhave29 said: mas Trie.. hehe matursuwun…

    setuju mas…maaf lahir batin jg….:)

  3. dhave29 said: mas Trie.. hehe matursuwun…

    mas Trie, wehe..he..he..

  4. dhave29 said: mas Trie.. hehe matursuwun…

    dhawah sami-samiii….

  5. mas Trie.. hehe matursuwun…

  6. mas sulis, wehehe pegawe pertamina ya hehesist Ave, sudah mulai dirasakan yah… prihatin

  7. Maaf sebagai tradisi seperti itulah, esensinya mulai hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Jalan Panjang Menuju Bukit Bulan

2 jam perjalanan udara, 15 jam perjalanan darat. Waktu yang harus saya tempuh untuk sampai di satu sudut di tepian bukit barisan antara perbatasan Bengkulu, ...