Matematika Indah pada Waktunya

Sesuatu itu akan indah pada waktunya dan tidak lebih atau kurang. Tuhan dalam karya penciptaannya tidak akan bermain dadu dan spekulasi, tetapi sudah memiliki rancangan yang kadang tidak bisa dipahami manusia. Akan datang masa yang indah disaat waktu telah tiba dan baru tersadar ”tepat pada waktunya”. Yah beberapa hari ini, baru menyadari betapa nikmat rancangan yang dibuat manusia yang dulu 10tahun yang lalu cuma berpesan ”kelak pasti berguna”.

Matematika adalah titik lemah disetiap pelajaran, bahkan gurunya sempat dikutuk jadi himpunan atau bilangan. Deretan angka dan simbol matematika seolah menjadi hantu dibuku kotak. Plesetan MAkin di TEkuni MAkin TIdak KAruan seolah melekat di ilmu hitung tersebut. Otak ini lantas bertanya, mau di apakan nie rumus-rumus, sepertinya tidak ada gunanya sama sekali. Berharap lekas selesai dan buang jauh-jauh itu pelajaran berhitung.

Lulus SMA lalu kuliah yang tidak ada hubungannya dengan angka, dan Biologi jadi pilihan utama. Biologi, wuah bebas dari ilmu hitung seolah menjadi surga disemester pertama. Disemester seleanjutnya hujan badai menjemput. Matematika dasar I dan II, Statistik, kembali menghantui. Pertanyaan muncul kembali ”mau buat apa ini matematika, gak nyambung blas”. Akhir kata cukup dengan nilai C agar terbebas dari belenggu rumus dan angka.

Setelah sekian lama dibangku pesakitan kuliah, akhirnya lulus dan kerja ditempat yang tepat. Nikmatnya kerja barus terasa jika berada ditempat yang tepat pula. Benih-benik kenikmtaian mulai dihinggapi untaian dosa-dosa dan kebencian masa lalu. Disaat suruh menghitung luasan dan volume harus mutar otak bagaimana caranya menghitung. Andaikata dulu bener sedikit aja dipelajaran ilmu hitung, maka akan sangat mudah memecahkan masalah. Baru dah kena batunya dan setelah pontang-panting akhirnya pecah juga masalah walau harus mutar otak jauh lebih jauh.

Puas bekerja dan kini saatnya kembali cari ilmu biar semakin bodoh. Tragedi kembali terjadi, dan musti ketemu dengan matematika yang lebih komplek. Otak sepertinya mendidih dan tidak tahu bagaimana berpikir untuk angka dan rumus. Kalkulus, Geometri, persamaan diferensial, turunan, dan masih banyak lagi pecahan matematika yang harus dipahami. Menyesal diri ini, andai jaman sekolah dulu bisa paham maka saat ini otak tak akan mendidih, minimal suam-suam kuku.

Kini paradigma berubah sudah dan sudah tahu apa itu matematika. Sungguh luar biasa makna setiap simbol dan angka beserta misteri didalamnya. Semua bisa dihitung yah… semua bisa dinyatakan dengan angka, walau kadang kebenarannya masih diragukan. Kini matematikan menjadi bagian hidup dan telah jatuh cinta padanya. Cinta yah harus mau menerima suka dan duka, bersiap menghadapi segalanya walau otak panas. Ada keindahan dan kecantikan dari setiap angka dan simbol yang terangkum dalam jalinan rumus. Saya cinta matematika dan mari berhitung, sebab semua akan indah pada waktunya.

Salam

DhaVe
Kamar Ademku, 08092010, 21:45wib

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. alexamzah said: cukup puas dengan nilai C di Kalkulus 1 dan 2 🙂

    hayoooo aku ngasi ulang ping 3 jew…

  2. henidebudi said: Yupe penyesalan memang selalu belakangan 😀

    So Pasti Om…

  3. cukup puas dengan nilai C di Kalkulus 1 dan 2 🙂

  4. Yupe penyesalan memang selalu belakangan 😀

  5. Om Havi; salam… balik Om…

  6. dhave29 said: mas Trie.. haha mumet mas… wis hajar wae iku rumus2e…

    mas Trie.. weh setara 2sks 700ewu… wadalah…

  7. dhave29 said: mas Trie.. haha mumet mas… wis hajar wae iku rumus2e…

    hajar waee..? mbayar oraa…? 🙂

  8. mas Trie.. haha mumet mas… wis hajar wae iku rumus2e…

  9. yang pasti dengan ilmu hitung (matematika) semuanya sudah dan bakal mengahasilkan kepastian, bukan angan-angan… lima dikali lima ya dua puluh lima, gak bisa ditambah toleransi walopun cuma satu…Nilai matematika tak menutup kemungkinan bisa full 10, tapi kalo nilai yang bukan ilmu hitung, saya meragukannya juka harus dinilai 10… hemmm….loh, kok tumben ku serius gini yaa.. hhii, mangap mass…..

  10. mo wit.. ayo maju urut ganteng hehe

  11. mari berhtung, Om.1234 ……

  12. mas andi, wadalah aku due konco hehe…

  13. wakaka…aku sma, paling ora iso dewe mas…

  14. om pur,yah disitu kuncinya… suka..hehe terimakasih sudah berbagi.

  15. Dhave…., ketika kita tidak bisa mencintai pelajaran matematika dan juga tidak senang dengan guru/dosen matematika….. yang terjadi adalah… harus ngerjakan matematika dengan ‘matimatian” , saya pernah mengalami dan jeblokDan ketika kita mencintai pelajaran matematika juga menyenangi guru/dosen matematika.., rasanya menyenangkan dan oke saja heheheheheh

  16. om Hardi, tetapi semua pasti ada gunanya… makasih om sudah berbagi..

  17. Dulu guru matematika-ku seorang bruder Belanda yang sangat baik sekali. Jelas menerangkannya dan selalu siap memberikan hadiah jika kita dapat mengerjakan soal-soalnya. Karenanya dulu aku sangat menyenangi matematika. Sayang aku sendiri lebih berkutat dengan bahasa dan sekian lama mengajar bahasa Inggris.

  18. mba yagiza, tambah dudul mba.. oon…

  19. Om Havi; matur suwun Om….. semangat pokoke…Sist Ave;ibarat 2 sisi mata uang…oh angka..oh rumus…. wuahahahahah….aaaaaaaa

  20. Tanpa matematika, kita tak bisa menjadi sesuatu. Dengan matematika, kita stress.

  21. selamat belajar,semoga lancar segala yang di kejar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Madu Hutan Leuweung Sancang

8.000 – 10.000 tahun yang lalu nenek moyang kita sudah merampok cadangan makanan lebah. Lukisan dinding goa di Valensia-Spanyol menjadi bukti tindakan tidak berperilebahan tersebut. ...