Sumpah Pemuda yang Dinistakan Bahasa

Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.

Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.

Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.

Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.

Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.

Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.

Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.

Salam
DhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: setuju mbah kung…

    wah mbahkung lagi gemes… rombak dengan darah pelayan…. salah ya salibkan dia..

  2. dhave29 said: setuju mbah kung…

    Iya SBY suruh pensiun aja…mulai dari DPR tidur dalam Rapat, aku kok malah anti deh, diketawain disini….apalagi dengar si A si B dibebasin …weh…

  3. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    setuju mbah kung…

  4. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    Ganyang yang ngaco, periode baru jangan dipilih, wong Koruptor mala diampunin gile….

  5. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    mbah Kung, jaman sudah berubah… ya sumpah tinggal sumpah… mau bagaimana lagi cobamba Sandra, hayu bu guru kasih contoh yang baik lho ya…sist Ave, itulah para penikmat sejarah…

  6. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    Kadang saya sebagai golongan muda merasa sedih dengan keadaan bahwa Sumpah Pemuda hanya dicatat sebagai sejarah, bukan sebagai semangat mempertahankan kemerdekaan.

  7. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    Lho katanya sekarani ini jaman global warming, eh.. Globalisasi. Ya mungkin mereka yang suka nyampur2in bahasa Indonesia dengan bahasa ngenggres atau bahasa apapun itu (termasuk di dalamnya bahasa alay) sedang belajar,mengingat, menambah kosakata yang sedang dipelajari itu.. Haha

  8. dhave29 said: Tanggal 28 Oktober 1928, sebuah sejarah ditorehkan oleh pemuda-pemudi dari seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sebuah ikrar yang dinamakan sumpah pemuda yang berisi satu tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Pekik sejarah yang menyulut api semangat nasionalisme generasi muda dari seluruh penjuru Indonesia. Disaat 2 bulan lagi menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terjadi nasionalisme sesaat diberbagai golongan dan kepentingan. Perang dengan Malaysia, Ganyang Malaysia dan entah apalagi yang mereka teriakan.Mencoba melihat sisi lain dari 3 sumpah yang telah diikrarkan dengan realita saat ini. Sedikit trenyuh juga disaat Bangsa ini sudah merdeka dan generasi ini bisa menikmati buah-buah kemerdekaan. Lebih miris lagi dengan melihat beberapa kaum terpelajar yang konon menjadi ujung tombak, tanpa sadar telah meninabobokan sumpah pemuda. Entah dengan alasan apa mereka melakukan ”sirep” kepada Ibu Pertiwi.Sedikit mengambil contoh, salah satu artis ABG yang konon orang tuanya aseli Indonesia dan tinggal di Indonesai seolah menciderai hati negeri ini. Bisa diperhatikan, setiap kosakata yang dipakai melenceng jauh dari kaidah bahasa Indonesia. Mungkin dalam dunia hiburan akan menjadi daya tarik biar laku, tetapi bagaimana dengan keseharian. Bagi beberapa orang akan muak bila mendengar celotehan Bahasa Indonesia rasa Gado-gado, bahkan menjadi bumbu pemanis saja. Hidup dan cari duit di Indonesia tetapi merusak bahasa nasional, parah lagi yang mengaku pernah menjadi permaisuri dikerajaan seberang.Pernah suatu saat menghadiri seminar ilmiah yang dihadiri kaum terpelajar. Ada sebuah pidato ilmiah yang disampaikan oleh seorang guru besar. Pidato dengan bahasa Indonesia baku, bahkan ada beberapa kosakata yang tidak dipahami. Beberapa peserta yang mengaku dirinya orang terpelajar sempat komat-kamit ”bahasanya payah, saya tidak paham, bahasanya katrok, dasar orang udik, ndeso” dan masih banyak lagi umpatan dan komentar tentang pidato tersebut.Mungkin akan sangat heran jika kata isolasi di ganti cuplik, web site diganti laman, atau valid diterjemahkan valid dan penggunaan kosakata baru; sangkil, lembap tidak pakai ”b”. Bahasa yang baik dan benar, tetapi diartikan lain bagis sebagian orang yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Beberapa kosakata mungkin akan sangat menyulitkan, bahkan tidak dimengeri atau seolah terlihat kaku dan aneh. Cap kurang komunikatif, modern dan modis sepertinya melekat erat dengan penggunaan bahasa baku, tetapi dibalik itu semua ada sebuah rasa yang orang lain tidak bisa rasakan.Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. Masih dalam tanda petik bahwa tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing dan berkiblat pada bahasa asing, tetapi para ahli bahasa telah menyempurnkan menjadi Bahasa Indonesia.Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya. Mencoba mencintai Indonesia lewat kekayaan bahasanya.SalamDhaVe, kamar adem, 2 September 2010, 10:15

    Lho keselip kok okeh men…hehehehe, kalau sumpah pemuda aku suka ingat jaman SMA(aku dulu di Pramuka) tiap hari Senin pagi, naikin Bendera Merah Putih, dan bersumpah, aku didepan Sumpah Pemuda….Celana Putih Baju Putih…..Kopiah

  9. dhave29 said: -Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…

    -mBah Kakung; ada yang keselip mBah… ya perlu ahli bahasa sepertinya agar pidatonya pakem, atau dibiarkan saja biar keren hehe… -nDuk Nurul; yah benar yang Anda katakan, sebab bahasa sebagai penciri kebudayaan, juga sebagai sarana komunikasi. Jika sejak dini diajarkan yang baik dan benar, kedepannya tentu akan jauh lebih baik, sehingga bisa menempatkan bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan. Bukan begitu…. nDuk..?

  10. dhave29 said: -Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…

    Haha saya teringat putri Indonesia kita yang kemarin sempat ramai dibicarakan karena permasalahan bahasa. =DAda ungkapan “Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar”.Baik= sesuai dengan situasi, kondisi, dan dimengerti. Contoh: Bu, saya bakso lima mangkok.Benar= sesuai EYD.Ragam bahasapun ada yang kaku, resmi, dan santai. Jadi, saat orang Indonesia saling berkomunikasi tidak harus selalu sesuai EYD.

  11. dhave29 said: -Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…

    “Rasa memiliki Indonesia, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi salah satu isi Sumpah Pemuda ”kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia”. SBY lupa Pidato dia 17 Agustusan dicampur aduk Inggris….Lulusan AKABRI…President RI..kok gitu ya???

  12. dhave29 said: -Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…

    -Om Sulis; wahaha… gado-gado pecel yah… ciloko..ciloko… yups laman…. itu kosakata untuk website… mungkin dari kata halaman yah..? coba tanya prof google.-Om Timur Cahaya; wah lucu, ndagel dan kaku sepertinya… mungkin dalam bahasa verbal/lisan sedikit bisa dimaklumi, tetapi untuk bahasa tulisan sebaiknya mengacu pada aturan yang ada deh.

  13. dhave29 said: -Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…

    hehehee…coba deh dibaas dengan formal, pasti malah lucu

  14. dhave29 said: Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya.

    wah bahasaku juga kacau ini, keslentik tenan (mingsih tetep gado2 juga hahaha)btw laman itu bukannya bahasa melayu yg artinya = halaman?

  15. dhave29 said: Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya.

    -Bradher Henibudi; wehehe senyum jua ah… :)-cak Nono; ya ngrusak dan ganti se enak usus mereka, coba kalo diusulkan lalu dijadikan kosakata baru dan masuk dikamus BBI kan jossss…..-Sederek Timur cahaya; wahyooook… syaaap mariii dah… makasih…-BupeB; saya mengaku hehehe…. bener.. secara tidak langsung telah meracuni… ”pertamaaaaax” hahahaha-Cak Nono lagi; minta disobek-sobek ntuh…..

  16. dhave29 said: Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya.

    Contoohhh????…..heheheheh..mana hujyean betchyek, gak adya otjchek..wakakakaka

  17. dhave29 said: Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya.

    sebenarnya kaum blogger jg ikut ambil andil dlm penyebaran bahasa gaul*ngakutp memang kalau sehari-hari kudunya bahasa indonesia EYDhmmm tp memang miris kl denger artis muda yang tak menghargai bhs indonesia fiuhhhhh

  18. dhave29 said: Mencoba belajar bahasa Indonesia dalam berbagai sisi sebagai salah satu wujud cinta Indonesia, tanpa harus maju perang. Mungkin lewat penulisan status dalam media jejaring sosial di internet, penulisan pesan singkat atau dalam penggunaan bahasa verbal sehari-hari. Memang pada awalnya kaku, dan merepotkan, tetapi jika dirasakan bisa memiliki Indonesia seutuhnya.

    marilah kita mencoba hal ini

  19. dhave29 said: -Cak Nono; byuuh sadissss…… ahay… hiperparabola yah…?

    Iyo, dari jaman kejaman generasi muda iku perusak bahasa kok..heheheheeTermasuk komunitas2 minor

  20. -Cak Nono; byuuh sadissss…… ahay… hiperparabola yah…?

  21. Bunuh para alay jablay..hahahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Zoonisis di Sekitar Kita

  Jumat sore ponsel saya berdering menandakan ada pesan masuk dari seorang teman yang meneliti tengtang penyakit tropis. Pesan yang sangat singkat “mas bisa nitip ...