Transformasi Jumari Oleh Selly Demi Gengsi

Pulang nimba ilmu, setelah seharian dijejali ilmu pasti oleh para Doktor dan Profeso saatnya merebahkan badan dijajaran kursi kosong bus. Satu persatu penumpang naik dan mencari bangku kosong untuk mencari yang paling nyaman. Kebiasaan saya adalah duduk dikursi dekat pintu, agar akses jalan mudah dan jarang orang mau duduk disana. Disaat hendak menikmati nikmatnya OTW ada sebuah pemandangan unik yang mengernyitkan dahi saya. Seolah tak percaya dengan pemandangan kontras didepan mata saya. Seorang anak kecil, lugu, polos dan agak dekil bersanding dengan perempuan sedikit norak dan menor. Rambut dicat kuning, dibadan penuh aksesoris dari pecahan beling ”manik-manik kaca”, rantai melingkar dikaki dan tangan, ponsel dengan nada kering kenceng, dan parfum yang aduhay bikin ”flay over”.

Kebetulan duduk bersebelahan, jadi agak gimana gitu.. namun sepertinya menjadi point of interest. Dengan nada agak keras perempuan sekitar 25 tahunan ini berbicara pada anak kecil yang persis duduk disampingnya.
”what are you doing… Erie..?” tanya perempuan itu.
”ee…ee….e….” jawab anak kecil dengan ketakutan dan kurang pede.
”what happen Erie….?” kembali bertanya, namun disambut dengan diam adalah emas.
”oke follow me, ikuti saya wan…tu…tri…for..fev…..” dengan menunjukan jemarinya.
”eewan…ee…tuo…eeee teri…eepoor…efev..” dengan gelagepan di ikuti si kecil yang nampak tengsin abis.

Timbul pertanyaan dibenak, siapa tho mereka ini? kok seperti ada yang janggal. Ya otak kotor ini mencoba memberanikan diri untuk invenstigasi ”gayane kaya pulisi aja”. Mereka yang kebetulan duduk bersebrangan dengan saya, maka tidak susah untuk mengobrol dengan mBa Norak abis dengan sikecil yang dipanggil Erie.
”Siang mBa… maaf sedang kasih less ya.. ama anaknya..?” tanya saya.
”bukan mas…ini adik saya… mau aku ajari bahasa inggris” jawabnya sambil meluk pundak Erie.
”wah mBa Guru bahasa inggris donk… hebat banget..?” kembali saya bertanya.
”ndak kok mas.. saya cuma kerja di Singapura aja dan ini baru pulang” jawabnya.
”owh keren.. disana ngajar bahasa Inggris mBa…?” dengan nada penasaran.
”bukan.. saya cuma TKI kerja rumah tangga aja….” jawab dengan sedikit malu.
”haloo Dik.. namanya sapa…?” tanya saya kepada si Kecil, padahal tadi jelas kedengeran How are you…Eriee.
”Jumari Om….” jawabnya dengan lirih dan agak malu.

Pembicaraan berlanjut hingga out of topics, sehingga makin banyak yang bisa menjadi bahan obrolan yang enak. Akhirnya perpisahan disaat mereka turun dengan beberapa dus barang bawaan yang habis mereka borong abis. Dengan lambaian tangan…
”hey Sist hey Erie… see You..bye..bye.. thanks for…..” mereka glagepan kayaknya mendengar ucapan saya.

Kembali ke topik dah, si kecil Jumari yang dipaksa metamorfosis menjadi Erie dan mBa yang berkamuflase menjadi cewek ala selebritis Singapura menjadi sesuatu yang kontradiksi. Kata norak dibenak mereka yang baru mudik dari negara manca, boleh jadi untuk memberitahu khalayak ramai ”its me…”. Dibalik mendapatkan pengakuan diri, sepertinya ada yang sedikit membuat gundah gulana pihak lain. Jumari yang dipaksa menjadi Erie, mungkin dimata mBaknya menjadi hal yang biasa, lumrah, sebab dia mengaku bernaman Selly, tidak tahu sebenarnya siapa ”salimatun, saliyem atau beneran Selly Marcellina” entahlah.

Si Kecil Jumari sepertinya harus menerima beban sosial, karena harus memikul ”its me” dari kakanya. Menuruti gaya ekstrem kakak yang baru saja mudik yang sedikit lupa dengan budaya ndeso, lalu mencoba meracuni adiknya dengan gaya megapolitan. Terlihat lugu, malu, tidak percaya diri habis, mungkin dalam benak Jumari ”apa kata orang”. Bisa ditebak, Jumari tidak siap dengan kecaman dan tekanan sosial, namun apa boleh buat, ”its me” kakaknya begitu mendominasi. Bisa dibayangkan jika saat itu Jumari dipergoki teman-teman sekolahnya, byuh…bisa jadi bahan olokan di kelas keesokan harinya.

Gengsi dan gaya hidup seolah menyihir sifat asli kampung menjadi berlebihan demi menaikan status sosial, tetapi mengorbankan sisi lain yang menjadi bagiannya. Tidak salah memang, namun alangkah bijak jika ”bumi tetap dipijak dan langit selalu dijunjung”.

Salam

DhaVe, kamar ademku 1 September 2010, 09:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. ndahneech said: wah… jelas-jelas aku Nyuwun Sewu… bukannya nyuwun tungkak…. mana sewu-nyaa…. ๐Ÿ˜›

    susuk yah,,,,,

  2. dhave29 said: wah…. njaluk ditungkak iki hehehe……

    wah… jelas-jelas aku Nyuwun Sewu… bukannya nyuwun tungkak…. mana sewu-nyaa…. ๐Ÿ˜›

  3. lalarosa said: fiewh… aku kok pengen ndeso wae

    aku manut ajah wes…

  4. dhave29 said: @Om Havi;hehe… bener yah Om…?

    fiewh… aku kok pengen ndeso wae

  5. dhave29 said: @Om Havi;hehe… bener yah Om…?

    -Om Havi; mencoba mengapresiasi hasil jerih payah selama ini ya Om…. luar biasa mereka-sist Ave; tragedi…yah… orang bilang kaya dagelan, tetapi benih-benih bencana mulai tertanam…

  6. dhave29 said: @Om Havi;hehe… bener yah Om…?

    Fakta yang seolah-olah komedi padahal tragedi

  7. dhave29 said: @Om Havi;hehe… bener yah Om…?

    tak terhindarkan,di sono mereka kerja keras,ditempat asalnya mereka temukan nikmat nya jatidiri….,

  8. ndahneech said: ow.. bahasa kramane rongpuluh tu bukan kalihdasa toh?? wkwkwkw…. nggih nyuwun sewuu….mohon maap…xixix

    @Om Havi;hehe… bener yah Om…?

  9. ndahneech said: ow.. bahasa kramane rongpuluh tu bukan kalihdasa toh?? wkwkwkw…. nggih nyuwun sewuu….mohon maap…xixix

    se demikian ada nya,

  10. ndahneech said: ow.. bahasa kramane rongpuluh tu bukan kalihdasa toh?? wkwkwkw…. nggih nyuwun sewuu….mohon maap…xixix

    wah…. njaluk ditungkak iki hehehe……

  11. alexandraprisnadiani said: Mungkin mereka melakukan ini untuk mengaktualisasikan diri. Bahwa mereka bisa pergi ke sono,bahwa mereka bisa mengangkat derajat keluarganya.Yeah just self acctualization. Horotoh bener ra sing nulis kuwe?

    lha lak tenan tho….leres sanget mBa…leres dan setuju aku

  12. dhave29 said: -Mo Wit; wehe… wantutri Mo sekarang.. ben gak nDeso haha..hape kiwerti hehe…-mBa Endah; wadoh..kalihdoso ki pripun..rong puluh…tho mBa… engko ora sewelas…ning sedoso setunggal apa setunggal welas… jeng Poni..ancen josss…wis-Mas Johan; yah seperti itu kondisi dan realitanya jew… jadi gimana gitu hehe ”its me”

    ow.. bahasa kramane rongpuluh tu bukan kalihdasa toh?? wkwkwkw…. nggih nyuwun sewuu….mohon maap…xixix

  13. elok46 said: Its me, itulah yang terjadi. mereka butuh pengakuan akan keberadaan mereka.Ironis tp arus perkembgan jaman dan teknologi membuat mereka jg mkn eksis tnp menyaringnya dahulu

    Mungkin mereka melakukan ini untuk mengaktualisasikan diri. Bahwa mereka bisa pergi ke sono,bahwa mereka bisa mengangkat derajat keluarganya.Yeah just self acctualization. Horotoh bener ra sing nulis kuwe?

  14. elok46 said: Its me, itulah yang terjadi. mereka butuh pengakuan akan keberadaan mereka.Ironis tp arus perkembgan jaman dan teknologi membuat mereka jg mkn eksis tnp menyaringnya dahulu

    penting gengsi mBa…. makin gengsi kan makin josss tha hehehe ๐Ÿ˜€

  15. johaneskris said: misalnya mbak cinta laura itu, lali karo bosone dewe, padahal mboke yo wong ndeso

    Kalo ngga getuu ngga lakuu Om hehehe

  16. Its me, itulah yang terjadi. mereka butuh pengakuan akan keberadaan mereka.Ironis tp arus perkembgan jaman dan teknologi membuat mereka jg mkn eksis tnp menyaringnya dahulu

  17. -Mo Wit; wehe… wantutri Mo sekarang.. ben gak nDeso haha..hape kiwerti hehe…-mBa Endah; wadoh..kalihdoso ki pripun..rong puluh…tho mBa… engko ora sewelas…ning sedoso setunggal apa setunggal welas… jeng Poni..ancen josss…wis-Mas Johan; yah seperti itu kondisi dan realitanya jew… jadi gimana gitu hehe ”its me”

  18. misalnya mbak cinta laura itu, lali karo bosone dewe, padahal mboke yo wong ndeso

  19. Sekarang lebih global ya…. dulu kan sebatas jakarta-daerah, sekarang Singapore-Indonesia… hm… kesian negara ini

  20. wong nama bagus-bagus “endah narwastuti” aja malah diganti jadi “poniyem”…. bangga pula… ahahah….lanjutin ngitung: sedasa, sewelas, kalihwelas, tigawelas, sekawanwelas, gangsalwelas, enambelas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, kalihdasa, kalih dasa setunggal…….

  21. kenapa tidak:setunggal.. kalih.. tiga… sekawan… gangsal…saja ya?

  22. -mas Sulis; sebagian…dan memang sebagian… belum siap sepertinya dengan perubahan yang ada… mungkin setelah sekian lama dikampung akan menjadi Selimatun seutuhnya hehhehe…-mBa Ammarylli; yah bener mBa… mereka yang survive yang bisa beradaptasi… semoga bisa kembali beradaptasi dengan lingkungan asalnya..

  23. BupeB, saya juga carut marut jew merasakannya… ada seneg, kasihan, jengkel dan bangga ada yang sukses dinegeri seberang demi keluarga..wuaaaah entahlah… pelangi kehidupan Sist..

  24. Kepribadian beradaptasi dengan lingkungan…dan akhirnya berubah

  25. “sebagian” dari para TKI (sekali lagi “sebagian” ya) memang seperti ini, baru 4 tahun atau bahkan 2 tahun, saat pulang sudah bermetamorfosis jadi sesuatu yang mereka pikir lebih “keren”. Mesakke men mbak mbak

  26. entah miris, entah luchu, entah gimanaaa……ya itulah manusia dan beragam macamnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...