Putusnya Mata Rantai Metamorfosis Pendidikan


Gencarnya pemberitaan video porno yang dilakukan oleh selebritis membuat kebakaran jenggot beberapa pihak. Polisi, ahli IT, bahkan Presiden RI semua ikut berbicara mengenai tragedi tersebut. Pro kontra ada dimana-mana dan semua mengarah pada permasalahan yang sama. Ribuan orang mengunduh secara gratis, tetapi entah berapa juta yang menggandakan lewat salin-tempel, blue tooth atau terang-terangan sudah dalam format VCD. Korban berjatuhan, baik dari korban/pelaku video, pengedar, pembajak, pengunggah, pemilik warnet dan parahnya generasi muda ikut terlibat didalamnya. Realitanya banyak anak-anak yang nongkrong didepan layar tabung atau LCD, dan bermain di sungai sudah terlupakan sambil berkata “salamat datang dunia teknologi dan selamat jalan masa lalu”.

Beberapa waktu yang lalu membaca sebuah artikel “97% siswa SMP pernah melihat film porno”. Sebuah anggka yang fantastis, walaupun masih diragukan kebenarannya, tetapi setidaknya bisa menjadi lampu suar tentang kondisi anak saat ini. Angka 97% untuk anak SMP, bagaimana dengan anak SD, atau mungkin anak SMU yang hampir 100%, apalagi mahasiswa yang sudah naik levelnya menjadi pemainnya. Sungguh fenomena yang bak gunung es di tengah lautan tropis, aneh tetapi nyata. Seberapa besar pendampingan pendidikan formal sekolah dangan non formal “keluarga” dalam membentengi generasi mudah saat ini salayaknya dipertanyakan.

Mempersiapkan anak-anak atau generasi muda bukanlah perkara yang mudah pada kondisi terpaan jaman yang susah ditebak. Budaya hedonisme seolah sudah mengakar kuat dan menjadi racun yang semakin hari semakin akut seolah tak ada antidot-nya. Pendidikan formal dan nonformal seolah hanya sebagai rutinitas belaka dan selanjutnya gemerlapnya dunia yang berperan. Berbagai cara dilakukan orang tua untuk memoles putra-putrinya menjadi penerusnya kelak dan menjadi anak yang bisa dibanggakan. Segala cara ditempuh untuk mencapai tujuannya, tetapi kadangkala menjadi bumerang bagi anak itu sendiri.

Mencoba sedikit belajar dari kisah-kisah jaman kerajaan dahulu, dimana seorang putra mahkota diharuskan “ngenger”, berguru antar pedepokan, belajar olah jiwa dan kanuragan, mengembara dipelosok-pelosok desa. Tujuan pendidikan ala Pangeran jaman dulu, setidaknya memberikan gambaranya nyata kondisi sebenarnya, dimana bekal olah jiwa dan kanuragan langsung bisa dipraktikan. Ngenger selama sekian waktu untuk menempa diri menjadi seorang calon raja dengan segala macam kesulitan dan rintangan, dan walhasil menjadi sesosok pemimpin yang mendekati sempurna. Metode seperti itu juga diterapkan dikerajaan Inggris dimana putra mahkota dikirim di wilayah konflik, perang dan bencana.

Menjadi pertanyaan saat ini adalah bagaimana dengan pangeran, putri atau putra mahkota dalam pendidikannya. Tidak usah berbicara tentang kerajaan dahulu, tetapi beberapa kalangan orang mampu sepertinya enggan belajar dari kisah nyata. Generasi muda sekarang seolah terlena dan dimanjakan oleh fasilitas dan teknologi. Tidak memunafikan perkembangan jaman, tetapi setidaknya ada dampak negatif atau sebuah ada mata rantai proses yang terpotong. Sistim “ngenger” ala pangeran seolah menjadi cerita legenda dan milik orang-orang tertentu saja, tetapi saat ini sudah era modern dan semua bisa dengan mudah diperoleh.

Sebuah contoh sederhana, disaat anak sekolah mendapat tugas dari gurunya membuat sebuah artikel. Dahulu semua berbondong-bondong menuju perpustakaan mencari literatur, buku, majalah, kliping bahkan harus memindai halam koran satu persatu. Sebuah proses panjang dan tidak efisien jika dilihat dari kacamata saat ini. Pada saat ini biarkan pustakawan menjadi penunggu ribuan koleksi buku dan saatnya berpindah di sebuah mall sambil makan, cari hot spot lalu dengan mesin pencari mencari topik artikel, salin lalu tempel setelah itu edit sedikit dan selesai. Sebuah proses yang tidak membutuhkan waktu lama dan hasilnya tidak kalah yang berburu diperpustakaan. Bila mencermati sepertinya ada beberapa mata rantai proses yang terputus dimana penekanan saat ini adalah pada proses hasil akhir, padahal pendidikan adalan pelajaran proses untuk hasil akhir.

Saat ini mungkin banyak anak sekolah yang selalu berkutat dengan buku ajar, internet, dan lembaran-lembaran teori. Menjadi pertanyaan saat ini adalah, puaskan mereka dengan teori yang menjejali otak mereka. Belajar sedikit dari para Pangeran tempo dulu adalah dengan cara turun ke lapangan langsung. Bolehlah sekali-kali mengajak anak main di desa-desa walau hanya sebatas melihat kerbau membajak sawah. Mungkin kerbau dan sawah adalah contoh sederhana, namun sekarang sangat susah menemukan simbiosis hewan dan petani tersebut. Mengajari anak dengan melhat langsung dunia nyata sepertinya bisa memberikan tetesan embun penyegar disaat ada dahaga teori diotak mereka.

Belajar dari alam mungkin menjadi solusi yang baik dalam dunia pendidikan. Sebuah iklan produk susu yang menggambarkan seorang Ibu yang membiarkan anaknya berhujan-hujan ria untuk melihat metamorfosis kupu-kupu. Sebuah tindakan nyata yang patut diacungi jempol buat sang Ibu dengan membiarkan anaknya belajar langsung dari alam. Perubahan telur, ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu indah layaknya sebuah metaformosis pendidikan yang menjadi idaman. Ada sebuah proses yang setahap demi setahap dan berakhir dalam keindahan. Biarkan anak belajar dari alam dan biarkan alam mengajari mereka tentang sebuah proses belajar agar menjadi kupuk-kupu yang indah.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dipandepan said: kasus pajak,kasus bank century, kasus korupsi semuanya kalah sama kasus video porno

    terlupakan sebentar untuk menyiapkan esepsi atau melarikan diri….

  2. ndahneech said: ada stok racooooon apa lagi mas?

    kasus pajak,kasus bank century, kasus korupsi semuanya kalah sama kasus video porno

  3. ndahneech said: ada stok racooooon apa lagi mas?

    ada deh pokoknya….”tridi”

  4. dhave29 said: besok belajar dari racooooon yah?

    ada stok racooooon apa lagi mas?

  5. ndahneech said: kemaren dah diajak belajar dari gunung, besok belajar dari air terjun ya mas yaa…. :phehehe

    besok belajar dari racooooon yah?

  6. marpleholmes said: hmmm…. tulisan yang reflektif, bisa buat renungan siapa aja, utamanya para calon spd.. :)foto2nya bagus2, jadi pengen belajar fotografi sama mas dhave.. 🙂

    makasih Sist,,,okeh mari belajar,,,,

  7. agnes2008 said: wakakakakka – tungkak linggis!

    kemaren dah diajak belajar dari gunung, besok belajar dari air terjun ya mas yaa…. :phehehe

  8. agnes2008 said: wakakakakka – tungkak linggis!

    hmmm…. tulisan yang reflektif, bisa buat renungan siapa aja, utamanya para calon spd.. :)foto2nya bagus2, jadi pengen belajar fotografi sama mas dhave.. 🙂

  9. agnes2008 said: wakakakakka – tungkak linggis!

    hahaha…. mlayuuuuuuuuuu……..

  10. dhave29 said: bapak meriang kalo dolan kesana…..ke Kali adem yuuuk sambil liat merapi, nie aku bungkusin Cucur dari Eyang Putri Seno, hehehe…..

    wakakakakka – tungkak linggis!

  11. bambangpriantono said: Hwehehehehee….mancal speda

    asal gak mancal kabel bugil ae…. nyetrooom

  12. bambangpriantono said: Puutuuusssss…ahhh.kenapa ya jadi beginiMengapa, oh mengapa?*ngacodotcom*

    Hwehehehehee….mancal speda

  13. bambangpriantono said: Puutuuusssss…ahhh.kenapa ya jadi beginiMengapa, oh mengapa?*ngacodotcom*

    mancal kabel Cak Nono…

  14. amarylli said: wujudkan jadi nyata 🙂

    Puutuuusssss…ahhh.kenapa ya jadi beginiMengapa, oh mengapa?*ngacodotcom*

  15. amarylli said: wujudkan jadi nyata 🙂

    Amiiin dah,,,,,lebuih cepat lebih baik….

  16. agnes2008 said: Pak , ayuk ke mall , time zone !! – kata anakmu

    bapak meriang kalo dolan kesana…..ke Kali adem yuuuk sambil liat merapi, nie aku bungkusin Cucur dari Eyang Putri Seno, hehehe…..

  17. dhave29 said: Ada, hanya sebatas angan saja…..

    wujudkan jadi nyata 🙂

  18. amarylli said: punya ide untuk melakukan metamorfosis untuk yang terjadi disekitarnya ?:)

    hayoo hayoo…. pertanyaannya Om juga liat pidionya kan?Yah perkembangan jaman secara global berdampak plus minus juga global selalu dan selalu… ( wis pokoke maksudnya gitu dah!) Nanti kalau punya anak, ajakin naik gunung sama main di sawah – jajal protes apa gak dia ! hahaha…. *Pak , ayuk ke mall , time zone !! – kata anakmu

  19. amarylli said: punya ide untuk melakukan metamorfosis untuk yang terjadi disekitarnya ?:)

    Ada, hanya sebatas angan saja…..

  20. dhave29 said: iyah ada dan terjadi Sist

    punya ide untuk melakukan metamorfosis untuk yang terjadi disekitarnya ?:)

  21. amarylli said: memprihatinkan ya…

    iyah ada dan terjadi Sist

  22. giehart said: alam memberikan pelajaran bagi kehidupan kita……

    Setuju Om Gie….

  23. sulisyk said: nek ngunu ojo nukokke anak2 HP dan lappie om hahahaha

    memprihatinkan ya…

  24. sulisyk said: nek ngunu ojo nukokke anak2 HP dan lappie om hahahaha

    Mending DSLR ama paket jalan-jalan aja yah,,,gimana….gimana….HP buat ngempi, laptop bwt edit sama aplot

  25. yswitopr said: alam adalah harmoni..ga bakalan habis buat bahan sekolah…

    Sekolah alam…. ada banyak sekali guru

  26. jahewangi said: Asal kupunya juga kupu beneran bukan jadi jadian…. *kkk adoh yo…

    wis gathuk-gathuke wae mBak…

  27. smallnote said: Belajarlah pada alam, pada semesta

    Yuo bener Sist

  28. lalarosa said: soale mau di praktekin sendiri udah terlanjur lanjut usia ya ki :)))))pisss dah 😀

    apa jal?

  29. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    setuju,,,,,ikood..ikood yook…

  30. orangjava said: Jagalah alam, ojo mlintengi manuk!!!!

    setuju…. mlinteng apa ya trus an,,,,mlinteng koruptor wae

  31. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    alam memberikan pelajaran bagi kehidupan kita……

  32. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    nek ngunu ojo nukokke anak2 HP dan lappie om hahahaha

  33. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    alam adalah harmoni..ga bakalan habis buat bahan sekolah…

  34. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    Asal kupunya juga kupu beneran bukan jadi jadian…. *kkk adoh yo…

  35. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    Belajarlah pada alam, pada semesta

  36. udelpot said: nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

    soale mau di praktekin sendiri udah terlanjur lanjut usia ya ki :)))))pisss dah 😀

  37. nah dari situ langkah pertama adalah merit dulu .. bukan begitu? =D

  38. Jagalah alam, ojo mlintengi manuk!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...