Ngosek Gunung Perangi Vandalisme


Sebuah kegiatan kepedulian lingkungan yang berkaitan dengan dampak negatif vandalisme dilakukan oleh beberapa organisasi penggiat alam bebas di Kota Salatiga. Kegiatan “Ngosek Gunung Perangi Vandalisme” dengan teman “Save Our Merbabu” dilakukan oleh beberapa kalangan dan latar belakang profesi yang berbeda, seperti; pelajar, mahasiswa, PNS, pegawai swasta dan akademisi. Kegiatan sosial tersebut menekankan pada keprihatinan terhadap tindakan menyimpang dengan corat-coret di bebatuan sepanjang jalur pendakian Gunung Merbabu. Tindakan nyata dengan mengkapanyekan perang terhadap vandalisme dan turun langsung dilapangan dengan membersihkan bebatuan yang ada coretan-coretan.

Bukan perkara yang mudah untuk mewujudnyatakan aksi tersebut, sebab peserta harus menuju lokasi dengan jalan mendaki. Perjalanan di awali dari Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menuju dusun Thekelan yang merupakan desa terakhir dilereng Gunung Merbabu sisi utara. Rintik hujan menyambut perjalanan menuju base camp dengan melewati hutan pinus Umbul Songo, Kopeng. Hujan gerimis dan kabut tipis menyertai sepanjang perjalan menuju desa terakhir dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Di Dusun Thekelan diadakan sedikit koordinasi dengan aparat setempat dengan menyertakan surat ijin dan proposal kegiatan yang telah di tanda tangani oleh Taman Nasional Gunung Merbabu dan Perintah setempat. Setelah prosedur dan birokrasi telah selesai maka perjalanan dilanjutakan menuju pos bayangan satu. Pos dengan nama Pending di ketinggian 1953mdpl menjadi tujuan pertama kegiatan ini. Jalan landai dengan melewati kebun penduduk dan hutan campuran membuat perjalanan terasa menyenangkan walaupun beban ransel terasa berat. Sekitar 1 jam perjalanan sampai juga di Pos Pending yang disambut dengan kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk. Segera tenda didirikan dan membuat makan malam untuk mengisi perut yang sudah kelaparan dan tubuh yang kelelahan. Di kemah tersebut rencana esok hari di susun dan dikoordinasikan dengan para peserta.Pagi yang cerah menyambut di ketinggian 1900mdpl dan dari ufuk timur hangatnya mentari pagi menyinari disertai selimut kabut tipis. Selesai makan pagi dan koordinasi maka kegiatan dimulai. Kegiatan dimulai dengan menyusuri jalanan setapak ke arah puncak dan setiap kali menemukan bebatuan yang ada coretan makan satu atau dua orang peserta berhenti untuk membersihan dan peserta lain melanjutkan perjalanan hingga mendapatkan bebatuan korban tangan jahil, demikian seterusnya. Kegiatan ini memang disengaja di awali dari bawah dan selanjutnya semakin ke atas, sebab semakin ke atas tingkat kesulitan semakin besar.

Sepanjang jalur dari Pos Pending hinggar Pereng Putih “Tebing Putih” yang didominasi bebatuan sangat banyak sekali coretan-coretan, baik dengan cat minyak, cat semprot, “tip-ex”, bahkan ada goresan atau pahatan dengan benda tajam. Berbagai cara di tempuh untuk menghilangkan noda cat tersebut apalagi batuan keras ala andhesit. Dengan larutan thinner sedikit bisa melarutkan cat yang masih baru lalu dengan sikat halus bisa dibersihkan dan dituntaskan dengan lap kain. Untuk noda cat yang sudah lama dan menyerap di bebatuan jauh lebih susah, sebab cat sudah tertanam kuat di pori-pori bebatuan. Dengan larutan Soda Api “NaOH” digunakan untuk melarutkan lalu dengan ampelas kasar digosok-gosokan, walau tidak 100% bersih setidaknya sudah mengurangi luasan permukaan cat. Ide dari petugas di Jalan Tol pun bisa di gunakan, dimana untuk menghilangkan cat marka jalan di aspal dengan cara di bakar, maka di coba juga dengan cat dibebatuan. Noda-noda cat dilumuri dengan thinner atau methanol lalu disulut dengan api ternyata sedikit efektif untuk mengelupas lapisan cat dan dengan mudah tinggal menggosok dengan sikat.

Kendala besar mulai ada di depan mata disaat ada bataun yang sengaja digores dan dipahat dengan benda tajam. Tidak mungkin dengan menggosok dan ditakutkan bisa menambah memperparah kerusakan. Dengan sentuhan ala Dokter gigi, maka batuan dengan luka gores ditambal dengan semen atau sejenisnya. Mungkin tidak sempurna menyamarkan luka-luka dipermukaan bebatuan, tetapi sedikit bisa mengembalikan sifat alami batuan tersebut apalagi jika lumut sudah tumbuh berkembang. Tidak hanya batuan yang menjadi korban tangan tidak bertanggung jawab, tetapi pepohonan tidak luput menjadi sasaran. Kulit-kulit pohon menjadi media tulisan dengan menyayat permukaanya dengan benda tajam. Sebuah luka yang akan tetap ada dan tidak bisa di sembuhkan, dan mungkin pohon tersebut dengan mekanisme recoveri bisa menutupi. Usaha apapun mustahil sepertinya untuk menghilangkan luka-luka saya di kulit pohon.
Menjelang waktu matahari di atas kepala kegiatan di hentikan, sebab cuaca sudah kurang bersahabat. Rintik hujan mulai turun dan menandakan untuk kembali ke kemah. Akhirnya kegiatan hari itu di akhiri dan bersiap untuk kegiatan serupa di lokasi yang lebih tinggi diwaktu selanjutnya dan menjadi agenda rutin. Dilain tempat juga di adakan aksi serupan namun lebih menuju kepada kegiatan edukasi. Para peserta yang berprofesi guru mempresentasikan tentang dampak negatif vandalisme serta memberikan penyadaran kepada anak didiknya. Penyadaran usia dini diharapkan bisa memberikan pengertian tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari aksi corat-coret yang bukan pada tempatnya. Sebuah harapan besar di coretkan dalam benak ini untuk perang terhadap vandalisme dan tetap
menjaga keindahan
alam melalui wujud nyata.

http:sosbud.kompasiana.com/2010/06/16/manusia-modern-berbudaya-manusia-purba-dalam-mencari-eksistensi/#1684025

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. alenia24cappuccino said: kalo pengen ngosek tugu puncak tapi ga usah ijin2 gitu termasuk ilegal ? dilarang? *nanya serius*

    gak papa…. niat kita baik kok….

  2. ndiphe13 said: hehee ono watu kemebol barang kae mas…

    kalo pengen ngosek tugu puncak tapi ga usah ijin2 gitu termasuk ilegal ? dilarang? *nanya serius*

  3. ndiphe13 said: hehee ono watu kemebol barang kae mas…

    Hahaha… disembur tinner….

  4. lugusekali said: Maju terus mas danang dkk!!! Waaaah… Kalo aku boleh naik gunung kaya mas ama teman2 aku ikutan tuh…

    hehee ono watu kemebol barang kae mas…

  5. lugusekali said: Maju terus mas danang dkk!!! Waaaah… Kalo aku boleh naik gunung kaya mas ama teman2 aku ikutan tuh…

    Boleh aja…. yook ikuod..ikod dah….

  6. tjahjokoe said: saluut..lanjoot…

    Yoook lanjooot Om…..Makasih… ikod yah kapan-kapan…..

  7. hamdiruby said: tak kira opo ngosek2 gunung… :psalut mas… lanjutkan!!

    HAhaha…. emang dikira apaan….?yuuuk Lanjoot Om..?

  8. smallnote said: Tarik saya ke sana, Mas Dhaveeeee

    Maju terus mas danang dkk!!! Waaaah… Kalo aku boleh naik gunung kaya mas ama teman2 aku ikutan tuh…

  9. smallnote said: Tarik saya ke sana, Mas Dhaveeeee

    saluut..lanjoot…

  10. smallnote said: Tarik saya ke sana, Mas Dhaveeeee

    tak kira opo ngosek2 gunung… :psalut mas… lanjutkan!!

  11. smallnote said: Tarik saya ke sana, Mas Dhaveeeee

    Syap kencangkan sabuk pengaman…. dah

  12. lalarosa said: wis pokoke tetep ngosek watu 😀

    Tarik saya ke sana, Mas Dhaveeeee

  13. lalarosa said: wis pokoke tetep ngosek watu 😀

    kosek..kosek dan kosek selalu biar kinclong

  14. agnes2008 said: Mangtapss…. !! lanjoot…!

    Syaaab Bu…maree lanjoot dah….

  15. henidebudi said: mestinya nulis tuh di blog lebih banyak yg liat n baca…nulis dibatu kaya jaman pra sejarah aja… hmmm bukan cinta alam kalo itu

    Berarti apa dunk…ngrusak alam ya,,,,seniman keblinger hehehe 😀

  16. wis pokoke tetep ngosek watu 😀

  17. Mangtapss…. !! lanjoot…!

  18. mestinya nulis tuh di blog lebih banyak yg liat n baca…nulis dibatu kaya jaman pra sejarah aja… hmmm bukan cinta alam kalo itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...