Evolusi dan Adaptasi untuk Membunuh dan Mengelabuhi

Dalam kajian evolusi ada sebuah mekanisme untuk mempertahankan diri dari hukum alam dengan cara adaptasi/penyesuaian diri terhadap lingkungan. Sebuah bentuk perjuangan untuk hidup/ strugle for life dilakukan bermacam cara, baik untuk tumbuhan dan hewan. Mahluk hidup berlomba-lomba beradaptasi dalam rangka mempertahankan hidupnya dari seleksi alam yang tak pandang kasihan.

Alelopoati, sebuah istilah yang dipakai oleh tanaman untuk mempertahankan diri dari tanaman lain. Tanaman Alang-alang/ C.CILINDRICA akan mengeluarkan senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman lain. Efek dari alelopati adalah terjadi ledakan ladang ilalang yang sangat susah dikendalikan, sehingga biasanya akan berdampak buruk bagi lahan pertanian. Selain alelopati, masih banyak mekanisme adapatasi untuk mempertahankan diri seperti; lapisan lilin, daun penyengat, duri, racun, dan lain sebagainya.

Hewan juga tak kurang akan, dari yang paling kecil sampai yang segede jerapah juga beradaptasi dalam rangka evolusi. Mekanisme pertahanan diri bisa dalam wujud, merubah bentuk tubuh, merubah warna tubuh/mimikri, atau memiliki habbit untuk mengelabuhi musuh, memiliki bisa/racun, lapisan cangkang dan masih banyak lagi yang lain. Semua cara pertahan diri tersebut untuk menjaga eksitensi untuk terus hidup. Bunglon/Cameleon, gurita/octopus dengan lihainya mampu menipu musuhnya dengan merubah warna tubuh sebagai mekanisme pertahanan diri. Ular yang licik dengan mulut berbisanya juga demikian, atau kura-kura dengan cangkang kerasnya.

Sebuah fenomena unik ada dikebun rumah untuk menjelaskan diri dari sebuah strategi pertahanan diri. Ulat jeruk memiliki cara yang unik sekaligus sedikit menakutkan jika dicermati lebih dekat, sebab penyamaran/kamuflase yang . Dengan bentuk yang hijau bulat bisa menyamarkan diri dengan warna dedaunan. Bentuk tubuh dengan 2 mata menonjol besar dengan garis kepala yang jelas sungguh menakutkan, padahal sebatas tipuan belaka. 2 warna mata tersebut hanyalah kamuflase, sebab kepala ada di ujung seperti mulut. Dengan kepala yang berbentuk keci, mata juga kecil dengan rahang mungilnya bersembunyi dibalik tubuh bongsornya. Apabila di ganggu akan mengeluarkan oragan mirip lidah merah yang bercabang. Musuh yang melihat juluran lidah ini akan menganggap layaknya ular. Sungguh mekanisme pertahanan diri yang bagus, sebab untuk melindungi tubuh lunak dan lemahnya ulat tersebut melengkapi diri deri dengan berbagai kamuflase.

Manusia sebagai Top evolusi juga tak kalah cerdik dengan binatang maupun tumbuhan dalam rangka adaptasi. Berbagai kamuflase, tipu muslihat, mulut berbisa, lidah berduri, kepala yang keras dan masih banyak lagi yang lain. Sungguh luar bisa bukan mekanisme pertahanan diri, dari sesama manusia dan lingkungan. Yang menjadi pertanyaan, belajar dari siapa manusia bisa melakukan mekanisme tersebut. Mencoba melirik didunia penciptaan, dimana beberapa alat modern diciptakan dengan rancang bangun hewan. Helikopeter dengan gaya kolibri, pesawat dengan style capung/camar, baju tentara tak beda dengan bunglon, make up wajah juga tak beda jauh dengan buah kesemek.Β 

Dengan modal akal budi manusia bisa berbuat apa saja untuk terus bertahan hidup, tetapi yang menjadi pertanyaan kenapa masih mengorbankan sesamanya. Satu hal yang dimiliki manusia dan membedakan dengan hewan adalah hati nurani. Sebab hewan hanya dikaruniai akal dan instik, sedangkan manusia diberi bonus hati nurani, acapkali lebih parah dari hewan dalam tingkah laku dan tutur katanya. Apakah terjadi degradasi evolusi atau kerusakan adaptasi disaat manusia tidak bisa mengendalikan dirinya dan layaknya alang-alang dengan alelopatinya, ingin menguasai untuk kaumnya sendiri dan mengkesampingkan yang lain. Manusia bertubuh bunglon yang selalu mimikri dibalik kecurangan dalam prilakunya, atau layaknya binatang kanibal. Sebuah karunia dari Tuhan yang luar biasa, selayaknya digunakan untuk sesama dalam damai sejahtera.
Sedikit menundukan kepala menjelang paskah…..

Salam

DhaVe
Kamar tidur, 30 maret 2010, 05:30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. smallnote said: Kalau kita bertemu, tolong ajarkan saya berfotografi, Mas Dhave πŸ™‚

    dengan senang hati Sist…..

  2. rirhikyu said: renungan yg indah ^_^mari kita menundukkan kepala sejenak

    Kalau kita bertemu, tolong ajarkan saya berfotografi, Mas Dhave πŸ™‚

  3. rirhikyu said: renungan yg indah ^_^mari kita menundukkan kepala sejenak

    yuk mari….

  4. simplyhapinessme said: :)) renungan untukku sebelum paskah thanks mas ^^

    renungan yg indah ^_^mari kita menundukkan kepala sejenak

  5. simplyhapinessme said: :)) renungan untukku sebelum paskah thanks mas ^^

    Yups… semoga berkenan,,,salam

  6. fitrahanugrah said: peace mas…

    piss juga yah…. πŸ˜€

  7. sulisyk said: terjawab sudah postingan yang kemarin, yuk makan jeruk hahaha

    iyak…. sambung menyambung menjadi satu deh…yokk..aku minta sego goyeng dan es jeyuuk…

  8. agnes2008 said: Tapi si lidah merah itu sangat amat menyeramkaaaaaaaan…!!

    :)) renungan untukku sebelum paskah thanks mas ^^

  9. agnes2008 said: Tapi si lidah merah itu sangat amat menyeramkaaaaaaaan…!!

    peace mas…

  10. agnes2008 said: Tapi si lidah merah itu sangat amat menyeramkaaaaaaaan…!!

    terjawab sudah postingan yang kemarin, yuk makan jeruk hahaha

  11. agnes2008 said: Tapi si lidah merah itu sangat amat menyeramkaaaaaaaan…!!

    marai kaget… mBak…. kaya ulo wae….nah loh..

  12. dhave29 said: lalap godong jeruk mbe nyeplus uler…. tambah seger kalee mBak….aku malah durung sarapan jeh….

    Tapi si lidah merah itu sangat amat menyeramkaaaaaaaan…!!

  13. agnes2008 said: Menyimak pelajaran Flora dan Fauna … sarapan pagi yang segar…

    lalap godong jeruk mbe nyeplus uler…. tambah seger kalee mBak….aku malah durung sarapan jeh….

  14. agnes2008 said: No1 Juaraaa…Fotone sip!

    hahaha barang 2nd mBak…. sisa-sisa aplotan….

  15. Menyimak pelajaran Flora dan Fauna … sarapan pagi yang segar…

  16. No1 Juaraaa…Fotone sip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...