Yang Penting Sampai Sekolah Dulu , Urusan Belajar Belakangan

Potret perjalanan menyusuri aspal yang hitam kelam dalam dunia pendidikan coba saya lewati setelah 12 tahun berlalu. Pagi itu saya mencoba naik bus yang sudah menghantar saya kesekolah selama 6 tahun, dari SMP dan SMA. Tinggal disebuah desa kecil dilereng gunung bukanlah sebuah perkara mudah dalam bidang transportasi. Keterbatasan jasa angkutan, tidak memiliki kendaraan sendiri menjadi sebuah menu dan lembaran perjalanan.

Bisa sekolah di kota dan masuk dalam sebuah tempat belajar favorit dan unggulan adalah hal yang luar biasa bagi seorang anak kampung. Tiap hari harus berjuang sekolah menempuh belasan kilometer pulang pergi selama 6 tahun. Sebuah pencapaian dimana saya beberapa tahun tidak ada tulisan Alpa, Sakit atau ijin yang menghiasi raport. Anugarah yang luar biasa tentunya, bisa masuk full tanpa pernah tidak masuk, tetapi pencapaian itu selalu ternoda dengan kata mutiara “TERLAMBAT”.

Hampir 2-3 kali dalam seminggu selalu mengetuk gerbang besi sekolah yang sudah tertutup rapat dan ditunggui Satpam dengan kumis melintang. Sebuah tantangan untuk menaklukan pak Satpam agar mau membukakan gerbang dan mengijinkan masuk. Dengan jurus andalan “memelas” dan ngesot-ngesot meminta belas kasihan, ternyata bisa meluluhkan hati Satpam yang sangar tersebut. Urusan masuk gerbang sekolah kelar, sekarang masuk ke ruang guru BP/BK yang tak kalah sangarnya. Ratusan bahkan ribuan alasan terlambat mungkin sudah di hapal oleh guru BK. Acapkali kata-kata yang menyakitkan mampir ditelinga;
“ngojek celeng yaaa..?”
“seragam basah”
“naik jaran kepang”
“ndak punya ongkos”
“bus mesinnya ambrol”
dan masih banyak lagi kata-kata menyakitkan yang mampir dikuping, tetapi hal itu sudah menjadi ilmu kebal. Setelag berlari muter lapangan sekian kali dan di akhiri dengan menyapu dan membereskan ruang perpustakaan, ngosek kamar mandi, ngelap kaca ruang guru dan masih banyak lagi. Kalau dihitung-hitung sudah menggantikan tugas pakBon.

Sebuah kata terlambat mungkin klasik, tetapi jika dirunut kebelakang ada sebuah perjuangan untuk menghindari kata terlambat. Tujuan ke Sekolah adalah “tidak terlambat” urusan belajar belakangan setelah sampai sekolah, yang penting sampai dulu disekolahan sebelum jam 06:45 bagaimanapun caranya. Bangun jam 04:30, persiapan lalu jam 05:30 sudah standby di jalan, jika sampai jam 06:00 tidak dapat bus, maka alamat “ngojek celeng, naik kuda lumping, kumis satpam, ngosek wc” sudah menanti. Akhirnya bus datang juga, siap-siap latihan panjat tebing, dimana harus gelangtungan dibibir pintu, tangga bahkan naik diatap bus. Sebuah hal yang mustahil untuk dapat tempat duduk, berdiri dipintu aja sangat susah, kecuali nginep di garasi bus.

Sekarang dalam kondisi dimensi ruang dan waktu yang berselisih, tak banyak yang berubah, bus dengan cat putih hijau, sopir, kernet dan kondektur yang semakin tua masih terlihat sama. Tak ada yang berubah dari armada, awak dan jam-jam keberangkatan, tetapi ada hal yang mencengangkan. Jam 05:30 seperti 12 tahun yang lalu, berdiri di pinggir jalan menanti datangnya kotak sabun. Bus dengan angka 49 yang menghiasi kaca, menghampiri dengan senyuman khas kru bus yang masih mengenal saya. Saat kaki menginjakan dilorong bus, nampak bangku-bangku kosong dan hanya ada beberapa anak sekolah saja. Ini bukan tanggal merah atau liburan sekolah, ada apa dengan penumpang.? Dulu bus ini penuh sesak, andaikata bisa teriak pasti akan akan muntah-muntah.

Sekarang sudah bisa duduk bersanding dengan pak sopir di bangku terdepan, dulu adalah hal yang mustahil, sebab singgasana saya ada di atap bus, pelaminan saya di tangga bus dan ranjang empuk saya dihandling pintu. Sebuah pertanyaan muncul, ada apa?. Sebuah jawaban serak-serak dari pak Sopir yang semakin renta, namun masih cekatan dalam setiap tikungan. Anak sekarang sudah malu naik bus, mereka lebih banyak yang naik motor, boncengan ama teman atau pacarnya. Para gadis sudah dimanjakan motor matic, para cowok sudah ditemani motor dengan cc yang besar dan gagah. Sekarang bus tua ini hanya diminati mereka yang tidak mendapat itu semua dari orang tuanya. Dulu bus ini penuh sesak, sekarang bangku tersisi semua adalah hal yang susah. Jarang ada anak bangun pagi, Banyak anak sekolah berangkat agak siang, karena dengan motor bisa lebih cepat dan santai, tanpa harus gelantungan atau beraksi lagaknya jagoan di atap bus.

Sekarang jaman sudah berubah, sekolahan lapangan tempat bermain sekarang sudah jadi lahan parkir, jalanan dulu yang lengang sekarang sudah penuh sesak dengan lalat-lalat beroda dua dengan dominasi warna biru dan abu-abu. Motor dengan kredit murah, SIM bisa di beli dan prestis yang terangkat telah mengubah motivasi anak sekolah. Tak ada lagi acara bangun pagi, satpam bertengkar dengan siswa terlambat, perpus kembali kotor dan pak Bon tanpa ada pembantu.

Semua sudah berubah, semoga generasi ini lebih baik dari pada dulu….
Yang penting sampai sekolah, urasan belajar belakangan.

Salam

DhaVe
Tunas Mulya, Salatiga-Magelang, 1 Maret 2010, 05:49

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. smallnote said: Tinggal memilih kita akan menjadi apa. Toh, keputusan juga pada tangan kita

    ahay.. bener Sist….

  2. fendrri said: Salut sama perjuangannya mas Dhave. Saya sekolah di kota dengan banyak angkot aja masih sering telat.

    hahaha…. makasih…masa lalu ajah…nie

  3. alam204 said: Haha saya jadi merasa tersindir. Aku kalo berangkat ke kampus pas 1 jam sebelum masuk. Padahal perjalananq juga sejam. ^_^

    Tinggal memilih kita akan menjadi apa. Toh, keputusan juga pada tangan kita

  4. alam204 said: Haha saya jadi merasa tersindir. Aku kalo berangkat ke kampus pas 1 jam sebelum masuk. Padahal perjalananq juga sejam. ^_^

    Salut sama perjuangannya mas Dhave. Saya sekolah di kota dengan banyak angkot aja masih sering telat.

  5. alam204 said: Haha saya jadi merasa tersindir. Aku kalo berangkat ke kampus pas 1 jam sebelum masuk. Padahal perjalananq juga sejam. ^_^

    hayoo.. hayoo..njaluk di jewer iki…..

  6. giehart said: dulu lajan kaki 2-4 km,gak mengeluh….gini sambat …dulu sekolah gak pakai sepatu alias nyeker wajar,..tapi kini jamannya sudah beda….

    waktu telah mengubah segalanya…semoga bisa mengubah kwalitas otaknya juga Om….

  7. soleno said: jadi miris lihat kondisine…di bandung contohnya banyak sekali penjual2 berseliweran depan sekolah..anak2 jadi tidak fokuz..bunyi, bau, mata, padat, sesak…ah pokonya kehilangan ketenangan seperti jaman baheula

    yah pemerkosaan pendidikan menuju komersialisasi….satu bicara ilmu, satu berteriak duit..sama-sama laparnya

  8. elok46 said: iyo waktu dulu sambat terus yang gini gitusekarang waaaaah betapa menyenangkannya masa itubersyukur ak merasakannya

    Haha saya jadi merasa tersindir. Aku kalo berangkat ke kampus pas 1 jam sebelum masuk. Padahal perjalananq juga sejam. ^_^

  9. elok46 said: iyo waktu dulu sambat terus yang gini gitusekarang waaaaah betapa menyenangkannya masa itubersyukur ak merasakannya

    dulu lajan kaki 2-4 km,gak mengeluh….gini sambat …dulu sekolah gak pakai sepatu alias nyeker wajar,..tapi kini jamannya sudah beda….

  10. elok46 said: iyo waktu dulu sambat terus yang gini gitusekarang waaaaah betapa menyenangkannya masa itubersyukur ak merasakannya

    jadi miris lihat kondisine…di bandung contohnya banyak sekali penjual2 berseliweran depan sekolah..anak2 jadi tidak fokuz..bunyi, bau, mata, padat, sesak…ah pokonya kehilangan ketenangan seperti jaman baheula

  11. elok46 said: iyo waktu dulu sambat terus yang gini gitusekarang waaaaah betapa menyenangkannya masa itubersyukur ak merasakannya

    memory yang indah….hidup lebih hidup πŸ˜€

  12. elok46 said: untung sekolahku deket losoalnya pas sd sekolahku jauh aku kapok mas.untung lumayan tokcer otakku jadi bisa nunut gratis karena pr-nya aku kerjain wakakakaka dasarcerita seru dan kadang merindukan hal kecil tersebutngelangutkan memori indah yang membuat senyum kala mengenangnya

    iyo waktu dulu sambat terus yang gini gitusekarang waaaaah betapa menyenangkannya masa itubersyukur ak merasakannya

  13. elok46 said: untung sekolahku deket losoalnya pas sd sekolahku jauh aku kapok mas.untung lumayan tokcer otakku jadi bisa nunut gratis karena pr-nya aku kerjain wakakakaka dasarcerita seru dan kadang merindukan hal kecil tersebutngelangutkan memori indah yang membuat senyum kala mengenangnya

    baru bisa merasakan sekrang, kalo dulu… sambat terus…sekarang bisa tersenyum lebar mengingat masa lalu yang suram namun indah

  14. udelpot said: hehehehehe .. iya, plus sepeda pancal nor sepeda motor .. =D

    hahaha tepat dugaan saya….

  15. dhave29 said: mesti sekolahan cuma 100m dari rumah ya?atau dimalang memang gak ada bis…. LANDCKL, ABG, LMD hahaha

    untung sekolahku deket losoalnya pas sd sekolahku jauh aku kapok mas.untung lumayan tokcer otakku jadi bisa nunut gratis karena pr-nya aku kerjain wakakakaka dasarcerita seru dan kadang merindukan hal kecil tersebutngelangutkan memori indah yang membuat senyum kala mengenangnya

  16. dhave29 said: mesti sekolahan cuma 100m dari rumah ya?atau dimalang memang gak ada bis…. LANDCKL, ABG, LMD hahaha

    hehehehehe .. iya, plus sepeda pancal nor sepeda motor .. =D

  17. agnes2008 said: Aturan pertama dituruti … urusan lain belakangan.. gitu kali ya?Aku sekolah jalan kaki.- kecuali pas SMA naik angkot. dan belum pernah telat sih… (lali ding, kayaknya gitu) hehe….

    wah asyik no mBak…aku ndeso jeh,,,mau coba ojek celeng atau naik jaran kepang hehehe πŸ˜€

  18. adietoro said: yg penting punya ijazah hehehehehe

    itu yah hahaha….

  19. udelpot said: belon pernah naik bis kota sewaktu masa2 sekolah .. kagak ada di malang ..

    mesti sekolahan cuma 100m dari rumah ya?atau dimalang memang gak ada bis…. LANDCKL, ABG, LMD hahaha

  20. rirhikyu said: di jkt bbrp sekolah masuk jam stgh 7 pagikebayang gak anak2 sekolah yg rumahnya jauh2.. pagi2 jam stgh 6 ketiduran di KRL ditemanin ortunya?stgh 6 dah jalan keluar rumah jg tuk ke sekolah yg kadang melintasi antar kota?(ini yg gw liat anak2 sd jg )*sama seperti km dhave ^^

    ahay.. sebuah realita… semoga terus bersemangat mengejar cita-citasalam

  21. giehart said: yang penting sampai sekolah dulu….dan yang penting lulus dengan nilai baik…..dan yang penting dapat langsung bekerja……dan yang penting lainnya…..penting banget..

    Yang penting….pentiing Om hehehe πŸ˜€

  22. rirhikyu said: pertamax duluannnnn ^^

    Hahahaha…..3 kali berturut-turut dapat gelas cantik, ambil di tugu muda hehehe

  23. Aturan pertama dituruti … urusan lain belakangan.. gitu kali ya?Aku sekolah jalan kaki.- kecuali pas SMA naik angkot. dan belum pernah telat sih… (lali ding, kayaknya gitu) hehe….

  24. yg penting punya ijazah hehehehehe

  25. belon pernah naik bis kota sewaktu masa2 sekolah .. kagak ada di malang ..

  26. di jkt bbrp sekolah masuk jam stgh 7 pagikebayang gak anak2 sekolah yg rumahnya jauh2.. pagi2 jam stgh 6 ketiduran di KRL ditemanin ortunya?stgh 6 dah jalan keluar rumah jg tuk ke sekolah yg kadang melintasi antar kota?(ini yg gw liat anak2 sd jg )*sama seperti km dhave ^^

  27. yang penting sampai sekolah dulu….dan yang penting lulus dengan nilai baik…..dan yang penting dapat langsung bekerja……dan yang penting lainnya…..penting banget..

  28. pertamax duluannnnn ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...