Manusia Purba Mendaki bersama Orang Kota

Pepatah “Kacang lupa Kulit” adalah ungkapan rasa lupa akan masa lalu. Sore dengan dibalut sejuknya udara pegunungan datanglah teman yang sudah lama menjadi kawan naik gunung, karena sebuah pekerjaan mengharuskan untuk berpisah sementara. Banyak suka duka yang berdua kami alami, ditemani secangkir teh madu dan singkong rebus kami mengenang masa lalu yang dilalu bersama.

Kami berasal dari keluarga “kurang mampu”, jangankan naik gunung, bisa sekolah saja sudah beruntung sekali. Kebetulan kami dianugerahi otak yang sedikit encer, sehingga kami diterima disebuah SMA paling favorit di kota kami. Kebanggaan dan sekaligus ketakutan, karena akan bersaing dengan siswa dari SMP lain yang jauh lebih pintar, tajir dan berkecukupan.

Saat SMU kita mulai kenal dengan naik gunung dari sebuah Eskul, yang sudah berdiri tahun 86. Seleksi sampai pendidikan dasar kami lalui bukan perkara yang sulit, apalagi dengan istilah “okol” (power), kami menjadi terdepan. Kebiasaan kerja keras; nyangkul, nyambit, jalan kaki menjadi modal kami. Tibalah saat pendakian pertama kami, bingung melanda kami, sebab kami tidak memiliki peralatan yang diminta. Dengan mental kebo budeg kami karyakan apa adanya. Celana karate, sebagai ganti celana lapangan “alpina”, ransel tentara seabagai ganti “carier”, rantang sebagai ganti trangia/nesting. Segi peralatan tidak menjadi soal, tetapi cukup minder juga.

Yang menggelitik tawa kami adalah saat membuka bekal, sebenarnya malu juga saat ini harus dibuka aibnya hehehehe…. maluuuu. Bekal kami saat itu tersimpan rapi dan super padat dalam sebuah “tepak”/lunch box yang berisi; nasi jagung dan “rolade” (daun singkong yang digoreng tepung). Saat acara makan bersama, banyak yang merinding melihat menu kami, kebetulan kami juga melirik menu teman; nasi, corned, abon, daging rendang, sarden, dan lauk yang enak, mahal lagi. Tak ada satupun yang mau tuker-tukeran hehehe….  “yah lumayan, timbang kaliren mending sego jagung”

Kami berjalan kembali, saat istirahat kembali, bekal dibuka untuk dinikmati. Menu kali ini adalah makanan kecil; biskuit, roti, sereal, dan kami berdua hanya bisa melongo melihat menu mereka. Kami tak sedikitpun membuka menu kami daripada nafsu makan mereka hilang. Setelah mereka selesai makan dan berjalan kembali, kami berduan nyungsep dibalik semak untuk membuka makanan rahasia kami. Jadah “nasi ketan yang dipadatkan” dan srundeng (parutan kelapa yang digoreng), jenang (dodol), gelek (kue dari jagung mirip onde-onde).

Menu murah meriah, tradisional menjadi andalan kami, itupun hasil ngembat waktu kondangan hehehehe…. Hal luar biasa terjadi, makanan yang kami bawa, memberikan power yang luar biasa. Perut super kenyang, karena gelek yang mengembang dilambung dan tenaga yang luar biasa dimanan dodol memiliki kalori yang tinggi. Kami hampir 1 jam ditinggal, tetapi bisa berjalan mendahuli bahkan sampai puncak paling depan.

Saat dipuncak gunung kami semua berkumpul untuk masak, dan jaman itu menu yang paling istimewa adalah “pop mie”. Baru kali itu kami melihat dengan mata kepala, sebab sebelumnya hanya dari layar tipi. Saat merekan mau mendidihkan air, kompor gas, parafin atau spiritus dikeluarkan, kami hanya plengak-plengok cari tempat yang aman daripada ditertawakan laiknya manusia purba.

Setelah muter-muter akhirnya dapat juga tempat yang cukup strategis, berupa dinding batu yang bebas hembusan angin. Saat mereka masak dengan kompor modern, kami masih dengan cara konvensional dan kuno lagi. Ransel kami buka, lalu bunga-bunga pinus yang kami ambil sepanjang jalan dikeluarkan dan ditata mirip tungku. Dengan guyuran sedikit minyak tanah lalu “jreesss wuuughhhh” api besar dan hangat menyala di subuh itu.

Singkong segede paha balita kami bakar dalam bara api sambil merebus air dengan sebuah rantang. Mereka yang asyik masak Pop mie dengan tubuh menggigil berlari menuju jilatan api kami untuk menghangatkan badan. Saat melihat menu dan cara masak kami, ternyata kesan manusia purba hilang “wah pinter tenan koe, kreatif dan istimewa”. Saat air mendidik segera menyeduh wedang jahe dengan gula jawa sebagai pemanis ditemani singkong bakar yang “mongah-mongah” keluar asap sedapnya. Terlihat kontras sekali dengan gelas stereofoam bungkus mie istant dibanding dengan singkong bakar wedang jahe.

Ternyata dan ternyata… mereka lebih tertarik dengan menu kami dan jadi rebutan, singkong bakar dan wedang jahe ludes buat rebutan sambil mengelilingi perapian. Tak tega melihat mereka yang sadis makannya, maka kami keluarkan menu aib kami “jadah” srundeng. Jadah yang dingin tersebut kami bakar sampai sedikit hangus, lalu dimakan dengan lauk srundeng dan lagi-lagi jadi rebutan.

Akhirnya bekal kami ludes nyaris tak tersisa, kami kemudian dikasih Pop Mie. Dengan senyum malu-malu mau, kami coba tuangkan air panas lalu begitu matang kami campur dengan bumbu. “walah enak sego jagung roladene tibake…ora maregi sisan” (walah lebih enak nasi jagung lauk rolade lagiii…tidak bikin kenyang lagi). Dasar perut kampung, terasa ada yang aneh dengan perut kami, eneg dan mau muntah. Ternyata menu kami lebih praktis, enak, bergizi dan bebas bahan pengawet, nyleneh lageeee heheheheheee……

Sedikit riwayat kami, bagaimana orang ndesa dengan menu ndesa tidak kalah dengan mereka yang lebih juooosss… sampai saat ini masih kami pertahankan kenangan tersebut agar teringat kulit pohon dan akar darimana kami berasal.
Semoga berkenan…
Jok Mon, terimakasih sudah sengsara bersama

Salam

DhaVe
Getasan, 26 Oktober 2009; 10:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @lidyajr; hehe… selamat membayangkan…kadang kalau teringat jadi geli sendiri… kalau ada hendikem mau aku buat film pendek nieh hehe… agar lebih afdol…memang masa lalu yang layak dikenang ..pisss salam

  2. huahahahaha.. (ini penyakit nih, kl baca suatu cerita aku suka ngebayangin.. kebayang kalian pada nyungsep di semak, diem2 buka bekel.. hahahaha..) emang mending makan yg merakyat, udah murah meriah, bebas vetsin dan pengawet, lebih bermanfaat buat badan..

  3. @agnes; weh doyan juga ternyata hehehe…. ngangeni yach…[email protected];yen pileg kumaha atuh…. yang penting wareg [email protected];mlandingan, digawe bothok jreeeng Om…. maknyusss tenan…

  4. mlandingan ya echo mas…,

  5. Telo bakar,.. sego jagung… marahii kangen..!!Daun singkong cocol sambel tambah nyuss.. hehe…

  6. @lala; ya… ndak semua begitu mBak… aku iseh tetep seneng mbe roti sumbu… kie ngarepku tak dep mbe cemal-cemil sambi nyruput teh anget… jiaaan joooossss tenan senin iki….iso liburan hehehe

  7. hebat….biasane wong yen terkontaminasi ambu kutho njuk mesti alergi karotelo lan pohong jian….lali blass karo asale

  8. @pilar; sama yach hehehe…. malu-malui juga ya hahaha… asyik [email protected]; lha asli jawa piye maneh… bethul, ilat ndeso kasih makanan modern wah bisa ciloko. sampe saat ini, aku gak mau ikan kaleng, bikin “biduren” alergi kulit dan gatel-gatel, kalo dirumah sih ok…lha kalo pas digunung ntar menghina simpanse hehehe… wes enakan menu ndeso hehehe… apalagi panas mongah-mongah, wedange kemebul…sruput mak nyusss…

  9. hahaha lucu ad beberapa bhs yang ak suka @ mongah mongah hahaha jawa banget gt loh. ada ketela segede paha bayi wah enak yo trus dikasih pop mie ora doyan iku ibarate ora kulino ilate hahaha

  10. @bamb; belum tau dia…. pengin ngrasake sego jagung rolade? follow me…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...