4 Kali di Usir Saat Pertempuran 5 Hari di Semarang

Usir, sebuah makna kata yang miris untuk didengar untuk sebuah maksud tindakan memindah paksakan. Bagimana apabila usir di beri imbuhan di, ya tentulah itu nasib yang harus dijalani. Tidak tahu kenapa petang dan malam itu adalah musibah bagi kebanyakan orang, mungkin belum hokinya atau sebuah kekuasaan yang membuat kondisi seperti itu.

Berawal dari sebuah acara seremoni tahunan, peringatan pertempuran 5 hari di Semarang yang dipusatkan di Tugu Muda dan jatuh setiap tanggal 14 Oktober. Sore itu bersama seorang kawan saya bersemangat untuk tidak melewatkan acara tersebut. Seperti biasa, daypack dan kamera sudah nangkring manis di pundak. Janjian di sebuah spot yang enak untuk melihat dan memotret.

Saat acara segera dimulai, saya, kawan dan banyak orang sudah duduk tertib di dekat tribun acara. Semua hening untuk segera menyaksikan acara, tiba-tiba datang aparat Sat-Pol PP. “Priiiit…priiit..ppriiiit… semua mundur…semuaaa pindah…cepat..cepatttt”, kami di usir mirip kaya pedagang yang digusur beserta lapak-lapaknya. Yang jelas, semua kalang kabut, bagaimana tidak, pantat dengan dudukan yang nyaman harus beranjak mencari tempat baru.

Saya dan Kawan akhirnya berpindah ditempat yang agak jauh, dimana sudah banyak orang yang berkerumun disana. Disebuah taman pinggir trotoar, pantat ini kami letakan, tidak strategis memang, tetapi bagaimana lagi. Sudah enak duduk, ehhh pak Sat-Pol PP dateng ;agi, kali ini lebih sadis karena sambil mengayunkan pentungan dan peluitnya menyalak-nyalak. Pindah lagi akhirnya ke tempat yang lebih jauh lagi, kali ini di trotoar jalan dan yakin seyakin-yakinya gak bakalan di usir, karena kami sudah tidak bisa melihat acaranya dan sudah muak.

Tak ada Sat-Pol PP yang ngusir kami, ternyata ada hujan yang turun, kali ini lebih sadis lagi ngusirnya. Kami yang ada disana berlarian mencari tempat berteduh dan hanya 1 tempat yang ada disana yang paling dekat dan nyaman. Sebuah bangunan milik negara yang diperuntukan untuk menyambut tamu-tamu agung. Bangunan megah ditengah kota, dengan halaman luas, kalau di Ibu Kota mungkin Istana Negara kali ya?.

Kami berlarian menuju Wisma Merdeka untuk “ngeyub” (berteduh), baru saja sampai di halaman dan emperan, eee wadalah di usir lagi dan tidak diperkenankan, kami terpaksa berteduh disebuah tempat yang bertuliskan “Tamu Wajib Lapor Di Pos Kemanan”. Disebuah Pos Keamanan, kami berjejal mencari tempat perlindungan dari guyuran air hujan yang membasahi Kota Semarang Malam ini.

Saat di teras Pos Keamanan, saya ngesot dilantai dan memandangi sebuah bangunan besar disana. Nampak para penggede kota ini bercengkrama di ruang yang terang, hangat dan luas, tidak seperti pos ini, sudah dingin, sempit dan dijejali banyak orang untuk mencari perlindungan. Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

Sebuah impian yang segera buyar oleh tetesan air hujan mulai meredan dan orang-orang kembali menuju lokasi acara. Terlihat antusiasme warga Semarang untuk mengikuti detik-detik acara Pertempuran 5 Hari Semarang. Sungguh tindakan yang patutu diberi acungan jempol. Saat upacara dimulai, semua terlihat khidmat dan tertib, apalagi saat mengheningkan cipta, semua terlihat tunduk. Acara demi acara berlalu, berharap tidak lagi di nodai pengusiran-pengusiran brutal kembali.

Saya hanya membayangkan, bagaimana jika penonton yang di usir paksa tersebut “mutung” (ngambeg) dan pulang tidak mau menyaksikan acara, sungguh akan mengerikan bukan?. Tetapi dasar wong Jowo yang ndableg, tetep ngadeg melu upacara.

Sekian celotehan dan omelan malam ini, maaf tidak ada foto dokumentasi, karena hujan saya tidak takut meriang, tapi lebih sayang kamera.

Semoga memberi inspirasi dan maaf bila ada yang kurang berkenan…
Terimakasih
Jesus Christ, buat berkatMu
Panca, makasih sudah mengundang dan sotonya

Salam

DhaVe
Xsari, 15 Oktober 2009, 07:30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. otto13 said: ironi…ayam sekeluarga mati di lumbung padi yang masih banyak padinya..

    nah..ikan laut mati kehausan di tengah samudra…

  2. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    ironi…ayam sekeluarga mati di lumbung padi yang masih banyak padinya..

  3. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    wkwkwkkwkw

  4. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    @elok; la di usir… ae.. wes kapok nonton acara kaya ngunu maneh haha… wis..cukup..cukup…

  5. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    hahahaha lha buktinya ???

  6. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    @elok; wahahaha…. gitu yach…

  7. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    kehadiranmu tidak diterima bumi mas hahahaha

  8. harataya said: adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

    Bethul mBak…

  9. dhave29 said: @harataya; iya mbak… ini mah biasa, pas jama kul dulu malah wes tau di gebugi trus di ciduk dan dikrangkeng semalem.. wahahaha… apes… di usir ma biyasa, asyik kok ada sensasinya.. 😀

    adrenaline rush yaaa? hehehehhee…..

  10. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    @harataya; iya mbak… ini mah biasa, pas jama kul dulu malah wes tau di gebugi trus di ciduk dan dikrangkeng semalem.. wahahaha… apes… di usir ma biyasa, asyik kok ada sensasinya.. 😀

  11. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    ikut bersimpati atas pengusiran yang dialami Mas dan teman… emang menyebalkan kalo diusir pake cara yang ga banget gitu…hehhehee…. apalagi kalo dah diusir, trus di kejar polisi satu mobil…..aaahhh…nostalgia nye trit (street) hehehhehee…

  12. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    @mbam; untung caak… coba melok… nyesel Kon…

  13. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    Aku pas ono kelas e…dadi x iso mrono..hehehehe

  14. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    @ndipe; iya..yaaa..benull.. wah asyiiik ntuh, bakalan akeh sing daftar… yo suk yen bisa ganti SBY tak undang do kemping dikantorku yoh hehe…suwun Mas Andi… salam

  15. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    @nakamura; wah iyoo…yoooo… matursembah nuwun koreksine.. nek perlu aku dijewer mawon Mas Wawa yen ana klerune… Syap…ndak mutung akan lebih baik terus, semoga… salam pagiii….

  16. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    “di” sama sekali bukan kata imbuhan mas tapi kata depan, hehehe…tak elingno ojo mutung yo..?!

  17. dhave29 said: Ingin rasanya menjadi orang nomor satu disana dan berteriak lantang, “wahai orang semarang….ini rumah kalian, silahkan masuk dan berteduh disini… dengan duit kalian bangunan ini berdiri, dengan keringat kalian gedung ini ada, kenapa kalian di pos yang memberikan keangkuhan dan ketakutan…mari semua datang kesini..!!!”.

    misale pak SBY ngomong ngono, saben neng jakarta paling penak nginep neng istana merdeka wae mas, neng kono wis dicepakke kasur empuk + makan pagi yang enak. kan wis bayar pajek… gak sah turu neng stasion, hahahaha…

  18. lalarosa said: weh tahu gitu undangan dirumah tak kasih mas Dhave biar dapet tempathehehehehe beneran lho dapet undangan tapi buat simbah yang sudah almarhum

    aku suruh bawa baju Veteran getuu…? lumayan lo dapet snack, makanan kerdus hehehe…apalagi tengah bulan.. cucok buat anak kost nie..

  19. weh tahu gitu undangan dirumah tak kasih mas Dhave biar dapet tempathehehehehe beneran lho dapet undangan tapi buat simbah yang sudah almarhum

  20. @aries; wadoooh kok begitu ya… SBY malu pa ya rakyatnya naik angkot dan bus, apa ada penjurian Kalpataru dimana yang bikin sumpek di umpetin… sadis… sadis… kereee.keree… apa ndak mikir.. dari siapa mereka jadi gituan, tanpa kita *rakyat*, tak ada artinya mereka…

  21. @tjah; Hanya Yang Kuasa yang bisa memberi kemuliaan… kuoso-mulyo… bener juga ya Mas… matur suwun…

  22. ngendi2 podowae..sing kuoso sing mulyo…

  23. @alexhamz; iyooo cak..jadi malu aku, kenapa jadi rakyat melulu… cuma bisa angan-angan dan membayangkan, kapan mereka lengser dan tak genti… wes bakalan jadi sembarang… malu aku dengan tindakan kotaku… sembarang oh semarang…

  24. @addict; wadoooh cuma bisa melongo didepan monitor 14″ xixixix…i makasih infonya…@pilar; iyah… asyiiik..asyiik…

  25. haghaghaghag… sem(b)arang… ajaib emang kota satu ini… motret mbayar 600 ribu buat yang nggak jelas… jalan di trotoar masih aja ditabrak, mau liat seremoni masih pake diusir2 segala… haghaghaghag… trus para orang nomer satu di sem(b)arang bilang.. “Hai rakyatku… biarlah kami yang menikmati smua keramahanmu dan kehangatanmu (selagi kami bisa) kalian cukup dipinggir aja, lihatlah kami… kami cukup bahagia ko’, kan kebahagiaan kami juga cermin kebahagiaan kalian (yang ngiyup berjejalan di pos keamanan)… setidaknya Hujan tidak menunggu kalian.. haghaghaghag..”

  26. Ooo.. jadi ini Nostalgianya hehe :p

  27. cuman mw kasi tw, maxima membata£kan kdatangan miyabi.. Hehehehe..

  28. @sulis; doberman ntuh Asuuu ya Om? wah kagak moto Om… hujan deres.. eman-eman Dik SeLiR saya… cukup cerita [email protected]; dilematis menjalankan perintah atasan… terimakasih mBak buat apresiasinya.. salam

  29. turut prihatin Mas. Kalo saya mungkin langsung balik kanan, pulang n black list acara ini 😉 semoga besok2 nggak ada lagi kejadian seperti ini -kayaknya nggak mungkin ya. saya jadi inget waktu kemaren SBY lewat bsd, orang2 yg lagi nunggu angkot n bus di pinggir jalan disuruh polisi ngumpet di balik semak2 …hahaha.. emangnya perang gerilya?-

  30. bagus ceritanya….memang kadang petugas petugas itu sering menjalankan tugasnya dengan kekasaran yah katanya seh preman berseragam tapi mo bagaimana juga kalau mereka tidak menjalankannya pasti dipecat tapi kalau menjalankannya kadang kelewatan. Sukses untuk hari depan ya pak……

  31. ditunggu poto2nya aja mas..

  32. apeeesss pesss peeessssatpol PP seperti biasa sepeti dobermen tuan kaya angkuh, dobermennya ikut2an arogan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...