Tak Selamanya Gunung Itu Cerah, ada kalanya GALAK….


Tak selamanya langit itu cerah
Ada kalanya bermuram durja
Warna biru menjadi kelabu
Hawa sejuk menjadi beku 
Angin sepoy seolah membelai 
Kini mengoyak yang dilalui

Siang itu, entah apa yang ada dibenak kami berdua saat melepaskan langkah dari base-camp. Saya dan Satriawan “Kerno” (thebangsat.multiply.com) akan mencoba menuju puncak merbabu. Yang saya ingat sekarang bukan kisahnya bagaimana mencapai puncak, teriak-teriak bahagia, atau sebuah euforia, tetapi sebuah tragedi kebodohan yang telah kami lakukan. 10 tahun yang lalu, saat kami berdua masih kelas 2 SMA, hari Kamis kami bolos sekolah untuk naik gunung. Sebenarnya ada 4 orang lagi, tetapi mereka berangkat keesokan harinya.

Selepas dari base camp, dua ransel besar melekat dipundak kami. Segala peralatan sudah kami bawa sesuai dengan standard yang ada, kami berdua adalah tim yang berangkat duluan membawa tenda untuk 4 rekan kami yang akan menyusul. Pos bayangan pertama sudah kami lewati, kemudian lurus mengikuti jalan setapak. Seperti ada yang aneh, sebab kami terasa belum pernah melewati jalur ini dan benar saja, 4 kali lewat rute ini kami ternyata salah jalur, ternyata jalur penduduk mencari kayu.

Siang bolong jam 12.00 matahari sedang galak-galaknya, kami putuskan untuk naik melewati jurang Pereng Putih. Kami berjalan melipir sambil berpegangan pada rerumputan dan tanah yang labil. Hampir 2 jam kami berjuang ditepi jurang yang terjal, peluh keringat membasahi sekujur tubuh. Rasa takut seolah sirna oleh semangat kami yang terus menembus jurang untuk menuju jalur yang benar. Akhirnya perjuangan berakhir juga, kami istirahat dibibir jurang dan tersadar “suruh ngulang, aku gak berani…sumpah, edan tenan”.

Setelah istirahat kami kembali berjalan, menuju pos 1 lalu segera bergegas menuju pos 2. Di pos 2 kami meninggalkan jejak berupa tulisan “Kebo 1 & Kerno camp dipos 4” sebuah tulisan ditanah lapang pos. Berjalan menuju pos 3, terasa semakin berat dan berat. Tepat jam 17.00 kami sampai di Pos 3, yang konon ceritanya tempat ini adalah pintu gerbang mahluk halus, karena ada sebuah batu berlobang yang dinamai “Watu Gubug”. Kami merinding, segera beranjak menuju pos 4, Gunung Watu Tulis atau Puncak Pemancar.

Sebuah track terjal dengan sisi kiri jurang menganga siap menerkam bulat-bulat untuk kesalahan. Berjalan pelan dan beriringan, lambat dengan nafas terputus-putus, akhirnya sampai juga disalah satu dari 7 puncak yang ada. Digunung yang besar ini, hanya ada kami berdua, dua remaja SMA kelas 2. Segera tenda dome didirakan dengan 6 sudut frame. Sore hilang malam bernjak, langit yang tadinya berkawan berubah drastis. Sunset yang indah berubah menjadi galak, kilat petir menyambar, awan hitam bergulung cepat dan hempasan angin serasa mengoyak tenda. Kami berdua hanya diam dalam ketakutan dan hujan mulai turun dengan lebatnya, angin kencang begitu terasa, dimana tenda kami seperti ada yang menindih. Tiba-tiba terdengar “klak…pletak..tak..pletak…kraaak…”, terlihat frame tenda ada yang retak dan patah.
 
Segera kami keluar untuk memperbaiki tenda, memasang pasak dan tali untuk menguatkan tenda dari terpaan angin. “jegleeeeer…crak..tra..k….kkkk.” kami dikejutkan sebuah sambaran petir yang menghantam tiang pemancar. Kilatan petir, tepat disamping kami dan api membakar antena. Kami berdiri shock dan diam terpaku, tak ada kata yang terucap, segera kami masuk tenda, ketakutan, kecemasan dan tidak bisa berfikir harus berbuat apa dan ditenda setengah roboh, kami mencoba bertahan. Hujan semakin lebat, angin semakin kencang dan petir tak hentinya. Tetes-tetes air hujan mulai menerobos dinding tenda, dan “sreeeet kreeek” pintu tenda sobek dan hempasan angin memenuhi ruangan tenda.

Kami memakan beberapa biskuit dan gelek (kue jagung) dan minum air sebanyak mungkin untuk bekal turun. Dibawah guyuran hujan, hempasan angin dan kilatan cahaya petir, kami membongkar tenda dan barang-barang kami. Kami merasa tidak mampu untuk bertahan, dimana kondisi cuaca semakin memburuk, tenda sudah rubuh, dan hanya kami berdua saja.

Semua peralatan kami segera kami pindahkan dalam ransel, sekitar jam 19.30 puluh kami mencoba merayap turun, tiba-tiba senter kami bohlamnya putus. Gelaplah yang ada dan saat ada petir dan kilat cahaya, terlihat jurang growah sedalam 150meter siap menerkam kami bulat-bulat disisi kanan kami. Tak terbayangkan bagaiamana jika terpeleset dan jatuh bebas dibawah sana. Kami berjalan dalam gelap dan guyuran hujan deras dan suara kami nyaris oleh suara hujan yang turun dan gemuruh petir. 

Saya lalu mengikatkan tali weebing ditangan Kerno untuk saling menjaga. Saya berjalan paling depan dan Kerno menahan saat saya terjatuh terjembab, atau terpeleset kedalam jalur yang dalam. Licinnya jalan, membuat kaki tangan dan pantat untuk berjalan setapak demi setapak. Terpeleset, jatuh, terjembab dan lumpur memenuhi sekujur tubuh kami yang basah kuyup. Saling dukung dan mengingatkan membuat kami menjaga spirit kami. Badan menggigil kedinginan dan gelap malam membuat semakin turun mental ini. Hujan belum juga reda, angin masih berhembus dan kilatan petir bertalu-talu. Yang menjadi penerang kami hanyalah kilatan cahaya petir dan saat itulah mata dan otak merekam jalur yang benar. Pelan-pelan kami merayap dan jalan dalam kegelapan dan suasana mencekam.

Perjuangan belum selasai, Pos 3 kami lalui, suasana mistis terasa dan kami segera turun menuju pos 2. Dipos2 hujan masih rintik-rintik turun, kami mencoba melihat pesan kami yang ditulis ditanah. Kilatan cahaya petir membantu melihat kami, dan terlihat sapuan angin mengurai tulisan, tetapi masih bisa terbaca. Kami tidak bisa berlama-lama, dan segera kembali menuju pos 1. Kami mencoba berteriak, untuk minta bantuan, sebab jurang besar ada didekat kami.

Terhenti langkah kami, saat ada teriakan balasan dan kilatan lampu senter. Kami girang bukan kepalang, dikejauhan nampak 2 cahaya senter menuju arah kami. Kami berhenti dan menunggu siapa gerangan yang menuju arah kami. Perasaan lega, tenang dan percaya diri kembali muncul saat 2 teman kami datang. Rasa menggigil, basah kuyup sirna begitu teman kami Adhi “cempon” dan Ari “slamet” menghampiri kami. Segera kami diberi air minum dan ransel kami dibawa mereka berdua. Kami berempat berjalan beriringan menuju pos 1. Setelah sekitar 1 jam berjalan kami sampai di Pos1.

Ternyata mereka juga terjebak badai dan memutuskan camp di pos1, akhirnya kami kembali dan bertemu dengan kawan-kawan. Minuman hangat dan makanan segera kami santap, dan malam itu kami habiskan untuk menceritakan apa yang terjadi 6 jam sebelumnya.

Tak selamanya Gunung itu cerah, ada kalanya galak dan kelabu, bersiaplah menghadapinya.

Thanks To

Jesus Christ… berkatmu begitu nyata…
Kerno; edan tenan kowe… gak nyangka… hebat Sam..
Cempon&Slamet; feeling-mu josss
Nia; masakanmu…top markoto..p
Cobus; semangat dan logistikmu memang banyak, tendamu anget

Salam

DhaVe
Office, 6 Oktober 2009, 15:45

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. alexandraprisnadiani said: asyem ik!!!

    piss…mBak..oiss… aku yo sering ngglundung kie.. :p

  2. pilaryogya said: Namanya juga Manusia :p

    hehehe…. piss 😀

  3. dhave29 said: gari ngglundung wae…

    asyem ik!!!

  4. dhave29 said: bersilat lidah tepatnya… 😀

    Namanya juga Manusia :p

  5. alexandraprisnadiani said: takut ga bisa bawa badan dengan sukses, sampai di bawah lagi om… keberatan badan… ngeri juga…!!!

    gari ngglundung wae…

  6. dhave29 said: @alex; mBak, padahal 2 gunung siap menunggu kok ndak pernah dikunjungi. Kasihan sindoro sumbing, aku pernah jatoh bebas 10an meter disumbing….wiiuhhh ngeri abisss

    takut ga bisa bawa badan dengan sukses, sampai di bawah lagi om… keberatan badan… ngeri juga…!!!

  7. polarbugs said: mas dhave mah suka ngutak ngatik kata.. :p

    bersilat lidah tepatnya… 😀

  8. pilaryogya said: Huahahaha.. Pedes..*Cabeeee kaleee*

    mas dhave mah suka ngutak ngatik kata.. :p

  9. dhave29 said: @polar; romantisme pendaki kan disitu, kalo gak begitu ndak punya seni dunk.. 😀

    hayyahh…. romantisme yang “mengerikan..” :phahaa,, emg, meski gitu, sy juga pernh merasakannya kok..! *dlm hati cm bs blg,, mau begimana lagi.. :p*

  10. dhave29 said: @polar; romantisme pendaki kan disitu, kalo gak begitu ndak punya seni dunk.. 😀

    Huahahaha.. Pedes..*Cabeeee kaleee*

  11. dhave29 said: @polar;udah sakau dan ketagihan akuut… mau..mau dan mau lageee….

    @polar; romantisme pendaki kan disitu, kalo gak begitu ndak punya seni dunk.. 😀

  12. dhave29 said: @polar;udah sakau dan ketagihan akuut… mau..mau dan mau lageee….

    gaswattss

  13. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    @polar;udah sakau dan ketagihan akuut… mau..mau dan mau lageee….

  14. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    o mai got….cerita udah macem2.. tapi teteeppp aja ga ada kapoknya? nyandu mas?! :p

  15. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    @ndiphe; iya..ya.. setiap kisah ada ceritanya sendiri, ayo berbagi buat rekan-rekan dibawah… mengerikan, tetapi ngangeni [email protected]; wes lek ndang gage ora nganggo sue, ayo kita hajar gunung… Mas Andi sudah siap ntuh…siap..siap…@alex; mBak, padahal 2 gunung siap menunggu kok ndak pernah dikunjungi. Kasihan sindoro sumbing, aku pernah jatoh bebas 10an meter disumbing….wiiuhhh ngeri abisss

  16. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    Baca ceritanya ikut tegang,apalagi ikut naik gunung! Hehe..Nais setori!

  17. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    hehehe memang begitu mas, pernah juga mengalami pengalaman yang serupa, perjuangan menggapai puncak slamet, entah tekat atau nekad, kondisi dari plawangan ke puncak dengan badai bergelora luar biasa, dan memang alam kurang bersahabat saat itu, dan akhirnya nyampe juga di pucuk slamet….hehehehe…ini udah masuk musim hujan yah, jadi kangen gunung waktu ujan…

  18. dhave29 said: @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

    aku sudah kangen sekali dengan embun pagi diatas gunung…….

  19. pilaryogya said: Tak tambahin kasmaran with Tabung reaksi + Canon + Climbing + Gunung = ?? 😀

    @alexhamz; yach… Tuhan ada rencana indah dibalik sebuah penciptaan, Adrenalin tercipta saat kita merasa dekat dengannya…@lala; yach.. setidaknya layak dicoba mBak…

  20. pilaryogya said: Tak tambahin kasmaran with Tabung reaksi + Canon + Climbing + Gunung = ?? 😀

    setidaknya kamu tau kenapa Tuhan menciptakan Adrenalin…

  21. pilaryogya said: Tak tambahin kasmaran with Tabung reaksi + Canon + Climbing + Gunung = ?? 😀

    wah, beneran ga berani naik gunung masmending cari berkat di rumahNya saja yang aman dan nyaman

  22. pilaryogya said: Tak tambahin kasmaran with Tabung reaksi + Canon + Climbing + Gunung = ?? 😀

    PR sajah ya..? gak tau jawabnya sie… tak cari japlakan dulu…

  23. dhave29 said: Bethul PakDe..Om..ehh Mbak deng… ting..ting..klutuk..klutuk..tabung reaksi beradu dengan petri..

    Tak tambahin kasmaran with Tabung reaksi + Canon + Climbing + Gunung = ?? 😀

  24. pilaryogya said: Kasmaran sama tabung reaksi cekakakakakka ya kaaaaaan ?

    Bethul PakDe..Om..ehh Mbak deng… ting..ting..klutuk..klutuk..tabung reaksi beradu dengan petri..

  25. dhave29 said: dapat ilham tentunya.. aku tiap hari selalu kasmaran,,,,,

    Kasmaran sama tabung reaksi cekakakakakka ya kaaaaaan ?

  26. hearttone said: Bukankah dahulu syairnya berbunyi “Tak selamanya mendung itu kelabu”? Udah gandi ya mas? Hehe.Salut untuk petualangannya!

    Dalem modifikasi Mo.. Hart.. lha asal ngalamaun, ide..tulis dah…suwun infone..lan apresiasinya,,,,

  27. dhave29 said: Tak selamanya Gunung itu cerah, ada kalanya galak dan kelabu, bersiaplah menghadapinya.

    Bukankah dahulu syairnya berbunyi “Tak selamanya mendung itu kelabu”? Udah gandi ya mas? Hehe.Salut untuk petualangannya!

  28. vivianaasri said: Ciri2 org lg kasmaran, udh dpt tho? Hahaha..

    dapat ilham tentunya.. aku tiap hari selalu kasmaran,,,,,

  29. pilaryogya said: Nyeremin hahaha..coba di ulang jalur yang dipake penduduk cari kayu.. hahaha… *Ketawa Guling2*

    Ciri2 org lg kasmaran, udh dpt tho? Hahaha..

  30. pilaryogya said: Nyeremin hahaha..coba di ulang jalur yang dipake penduduk cari kayu.. hahaha… *Ketawa Guling2*

    @vivi; benar sekali, tapi kalo lagi mood… ohh alangkah cantiknya dan indah sekali, kadang jengkelin…yang pasti selalu ngangenin dan bikin jatuh cinta terus, walau harus sakit dan jatoh bangun….begituuu…

  31. pilaryogya said: Nyeremin hahaha..coba di ulang jalur yang dipake penduduk cari kayu.. hahaha… *Ketawa Guling2*

    Brarti gunung mirip ma cewek, gampang moody, ‘cuaca’ berubah tiba2. Hahaha..

  32. pilaryogya said: Nyeremin hahaha..coba di ulang jalur yang dipake penduduk cari kayu.. hahaha… *Ketawa Guling2*

    udah 2 kali Om.. yang pertama nyasar yang kedua nulungi orang nyasar….nie ceritanya,,http://dhave29.multiply.com/journal/item/43/Di_Puncak_Gunung_Ku_Temukan_Banyak_Orang_Egoisimpas kan?

  33. addicted2thatrush said: Hahaha.. Sambar ganti bro.! Bersyukurlah km selamat.

    Nyeremin hahaha..coba di ulang jalur yang dipake penduduk cari kayu.. hahaha… *Ketawa Guling2*

  34. addicted2thatrush said: Hahaha.. Sambar ganti bro.! Bersyukurlah km selamat.

    terimakasih..udah tak samber pake CANON hehehe,.,,, piss 😀

  35. catatanrani said: bener.. seperti korek api..kadang jadi sahabat.. kadang jadi lawan..tapi.. gunung bukan lawan.. 🙂

    iya,,jadi Kawan… kawan yang berawan,,,, kadang cerah., badai, dan mendung hehehe…. makasih

  36. sulisyk said: bener2 menegangkan, tetapi menjadi indah saat dikenang

    Bener Om.. udah 10 tahun yang lalu, inget saat buka-buka catatan perjalanan…

  37. dhave29 said: Tak selamanya Gunung itu cerah, ada kalanya galak dan kelabu

    Hahaha.. Sambar ganti bro.! Bersyukurlah km selamat.

  38. dhave29 said: Tak selamanya Gunung itu cerah, ada kalanya galak dan kelabu

    bener.. seperti korek api..kadang jadi sahabat.. kadang jadi lawan..tapi.. gunung bukan lawan.. 🙂

  39. bener2 menegangkan, tetapi menjadi indah saat dikenang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...