Tari Pendet di Klaim, Siapa yang Mau Klaim Noordin M Top….?

Berita basi ditelinga kita apabila Indonesia bertengkar dengan Malaysia. Dari urusan diplomatik, sosial, budaya bahkan sampai pertahanan keamanan. Saat ini serasa seperti bangsa yang sensitif begitu disentil sedikit langsung bereaksi membalas, tanpa berfikir bagaimana menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.

Saya mulai berbicara dari jaman Kerajaan terlebih dahulu sebelum ke masa kini. Saat Majapahit sedang berjaya dibawah tampuk kekuasaan Hayam Wuruk, sang Patih Gajah Mada sesumbar “tidak akan makan buah palapa sebelum Nusantara bersatu”. Nah Mendengar sumpahnya saja bulu kudug merinding, bayangkan seberapa besar wilayah Nusantara, bahkan wilayah Malaysia menjadi bagian Nusantara ini. Sungguh besar bukan bangsa kita pada dulu kala, kenapa saat ini “nglokro/terpuruk”.

Kembali menengok kebelakang sebentar , sang Plokamator berkata “ganyang Malaysia”, lah sungguh hebat lagi, tidak tanggung-tangung bukan. Maka pada waktu itu, kita adalah bangsa yang disegani dan patut diperhitungkan dikancah Internasional.

Pada saat ini, mengambil Manohara saja kesulitan, apalagi TKI yang jumlahnya ribuan di Negri Jiran sana. Sungguh degradasi yang luar biasa dibanding Malaysia yang selalu melompat, dan kita yang tetap konsisten jalan ditempat.

Tari pendet diklaim saja sudah berang, batik kebakaran jenggot, Ambalat yang di cuil juga menjadi masalah. Bukan saatnya berang, kebakaran jenggot, atau mengumpat, tetapi bulatkan tekat untuk menjadi bangsa yang besar. Mungkin Sang Patih Gajah Mada tersenyum manyun melihat generasi saat ini, atau Ir Soekarno termenung sedih, betapa tidak dimana Sumpah Palapa dan slogan Malaysia sudah tertukar Ringgit yang melimpah.

Saat ini sibuk dengan urusan klaim, batik, reog, tari pendet, lagu sayange dan lain sebagainya. Saya kira itu wajar karena menyangkut dengan kepemilikan warisan budaya leluhur. Awal 90an, begitu harmonis saat TVRI dan TV3 malaysia membuat acara bersama “Titian Muhibah”, Siti Nurhaliza berduet bernyanyi, sheila on tuju konser di negri jiran, nah sekarang hubungan tersebut terputus dengan klaim.

Nah sekarang siapa yang mau meng-klaim Dr. Azahari dan Noordin M Top, mereka aseli Malaysia. Mereka orang pintar, jagoan, tidak takut mati, punya pengikut yang setia. Tak ada yang peduli dengan 2 nama tersebut, bahkan Malaysia acuh tak acuh “peduli amat, yang penting tidak meledak dinegaraku”, lah indonesia yang kejatah ledakang hasil perbuatan biadab yang di otaki orang Jiran tersebut. Seharusnya kerusakan, kerugian dan kesedihan di klaim-kan ke Malaysia. Bangsa kita menjadi bangsa yang besar “biar kami urus sendiri”.

Nah bagaimana dengan nasib ribuan TKI disana, siapa mau Klaim, jangan hanya yang enak-enak saja….

Salam Klaim

DhaVe

Gudang Kantor, 26 Agustus 2009, 14:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: @alexam: semoga tidak terjadi cak…! makasih review-nya… siip, dibalik lensa ternyata Suhu punya pikiran yang kritis, sayang jarang nulis…

    @alex; asal gak karo nyanyi masih tetap aman kok…. hehehe

  2. dhave29 said: @alexam: semoga tidak terjadi cak…! makasih review-nya… siip, dibalik lensa ternyata Suhu punya pikiran yang kritis, sayang jarang nulis…

    lha klo aku motret.. trus nulis juga.. sakno kancane… xixixixiiiiii

  3. @vivi: ihhh ketauan deh… jadi malu hehehe… ya getu deh merasa memiliki setelah kehilangan atau dimiliki orang laen, lagu lama….

  4. Sepakat ma om alex… Berasa memiliki kl udh diakui org lain.. Pdhl slma ini lbh suka liat sexy dancer drpd tari daerah. Hehehe..

  5. @alexam: semoga tidak terjadi cak…! makasih review-nya… siip, dibalik lensa ternyata Suhu punya pikiran yang kritis, sayang jarang nulis…

  6. sepertinya (sebagian) bangsa kita sudah teracuni budaya “sinetron” dimana cenderung melebih-lebihkan dan jauh dari realita, sehingga membuat (sebagian) kita melupakan “akar” dan dimana kita berpijak. kita sudah diracuni budaya hedonis yang cenderung meninggalkan (baca : kurang menghargai) budaya kita sendiri. ktika bangsa lain mengklaim salah satu atau beberapa dari budaya kita, eh.. malah kebakaran jenggot? pertama pulau (sipadan dan lingitan), batik, reog, pendet,.. what next.. harga diri kita mungkin

  7. @youfy: setuju Mbak… mari kita “cancut tali wanda” kencangkan ikat pinggang untuk bersatu…. berbuat untuk republik ini… no say Indon

  8. @kenprint; ganyang dulu ntuh warga malaysia yang njadi teroris… kalau masih keterlaluan apaboleh buat… 200juta penduduk Indonesia urusannya…

  9. ya setidaknya dari hal-hal seni kita sudah mulai peduli, dan semoga juga merembet untuk care dengan hal-hal yang lain seperti hasil-hasil bumi yang dikuasi oleh negara lain saat ini..

  10. ganyang malaysia hayoo!!

  11. @acorbusie; makasih banyak Om.. baru belajar nulis kok ini… salam

  12. Saya suka baca tulisan2 mas… gaya bahasa yang lugas… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Jalan Panjang Menuju Bukit Bulan

2 jam perjalanan udara, 15 jam perjalanan darat. Waktu yang harus saya tempuh untuk sampai di satu sudut di tepian bukit barisan antara perbatasan Bengkulu, ...