Gunung Mengajariku Fotografi dan Menghantar Jadi S.Si

Mendaki Gunung, telah mengajarkan saya lebih banyak mengenai fotografi daripada apapun yang pernah saya lakukan (Reinhold Messner). Kata-kata sang legenda penjelajah salju diatas ketinggian sungguh mengingatkan saya tentang fotografi. Reinhold Messner juga menginspirasi saya untuk meneguhkan pendirian, menembus batas dan mengalahkan kemustahilan.

Yang menggelitik saya adalah tentang fotografi dan seluk beluknya. Terlahir serba terbatas, dulu sempat berfikir “apa bisa…?”. Dengan pendirian teguh untuk menembus batas dan hal yang mustahil telah saya kalahkan.

Fotografi saya berluma awal SMA 1998 bersama rekan-rekan yang hobi naik gunung. Setiap mau naik gunung pasti ribet cari pinjeman kamera pocket, setelah dapat kemudian kami iuran beli negatif film dan batery nya sekalian. Kami dengan tas gunung menuju studio film, puji imeg plasa “mbak beli kelis asa 200, isi 36, tulong dipasangkan sekalian ya…”.

Siap naik gunung dengan 36+2 memory (kalau tidak kebakar waktu masang), layaknya tentara menang perang kami berbondong dengan ransel dan pakaian yang agak norak menuju terminal bus. Sampai base-camp kami foto bareng dulu, untuk mengabadikan momment indah ini sambil cari relawan untuk mengintip lalu bilang tu wa ga…jprettt..krek..krek…krekkkk….

Sesi foto selanjutnya adalah saat sampai titik akhir perjalalan, biasanya puncak. Kami berenam mendapat kuota 4 kali jepretan sendiri-sendiri sisanya untuk foto keluarga 6 orang. Akhirnya sesi foto selesai juga. Turun gunung langsung ke studio foto lagi, sambil bilang “mbak Cuci saja ya….”. 1 jam selesai dicuci, dibayar lalu buru-buru nrawang negatif film, dan senjata andalan dikeluarkan “GUNTING”. Foto-foto pribadi langsung dipotong-potong dibagikan pada empunya, yang kelompok langsung dicetak 6X. Foto pribadi diolah sesuai selera masing-masing. Masa-masa jahiliyah berlangsung hampir 6 tahun, 3 tahun di SMU 3 tahun dibangku kuliah.

Dibangku kuliah mulai bellajar sedikit-sedikit dengan kamera tua “yashica film 35mm”, belajar diafragma, timer, iso, fokus dan sebagainya. Hampir semasa kuliah teman-teman kuliah, dosen selalu menunjuk “kamu jadi seksi PUBDEKDOK, publikasi, dekorasi, dokumentasi” gampangnya tukang kasih pengumuman karena bisa sedikit scan foto, adobe dan corel, terus dekorasi sekalian biasa dapat sambatan orang merit, akhirnya tukang poto. Foto-foto penuh kenangan mampir dalam kamera analog saya, dar kegiatan mahasiswa sampai wisuda… hehehehe… bangga juga yaw….?.

Perjalanan semakin panjang, dan menginjak dunia digital. Setelah nilep duit buat skripsi, beasiswa dapat juga pocket digital merk Oriete. “wah jelek-jelek, murahan milik sendiri buatan pabrik lagi, emang tukang tempe bisa bikin?” begitulah setiap saya defensif bila teman meledek dengan kamera saya yang asal jepret. Dari pocket kamera murahan ternyata bisa menghasilkan hal yang luar biasa dan istimewa, urusannya tidak main-main “gelar SSi, Sarjana Sains).

Seperti biasa “mas, brow, dab, sam, phee tolong fotokan hasil skripsiku, sekalian di olah ya… pokoke beres”. Dari gambar tikus, tanaman, tabung-tabung kaca dengan selang rumitnya, sel sampai gel DNA sudah diabadikan kamera murahan tadi. Setelah eksekusi tiba saatnya masuk dapur olahan, dan treetetttt hasilnya foto ekslusif yang nantinya dipajang di bendel skripsi dan akan dipertahankan disidang ujian.

Nama saya hampir selalu mampir di ucapan terimakasih, dalam pengantar skripsi. Layaknya sebuah film holiwud, setelah akhir acara ada tulisan putih naik pelan-pelan, thanks to… cameraman begitu juga diskripsi. Bangga juga bisa mengantar teman-teman merengkuh gelar Sarjana Biologi, lha saya kapan? (ternyata memang indah pada waktunya, 7 tahun baru lulus hehehehe….).

Workaholic demi sebuah DSLR tercapai juga akhrinya, kucoba terus menghasilkan sebuah karya yang tidak kalah seperti saat bisa mengantar teman meraih gelar sarjana dengan hanya jepretan kamera.

Semoga bisa menjadi inspirasi…
Terimakasih; Sahabat Gunungku diPLGJB, NUG, FBSWCU, AHamzah (racunmu maut)….

Salam

DhaVe

Dikamar, sambil pareman, pegel-pegel habis turun dari Merbabu; 5 Juli 2009, 20.15

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: @pilar; setuju… cari di google ada gak ya? cari…cari… mang ada yang buang getuuu?

    @pilar; haha… bisa aja… bisa dicoba juga…

  2. dhave29 said: @pilar; setuju… cari di google ada gak ya? cari…cari… mang ada yang buang getuuu?

    Buang ? :DKetik aja dinda.. pati nemu banyak :p

  3. dhave29 said: @pilar; hehe… terimakasih banyak.. semangat..semangat…

    @pilar; setuju… cari di google ada gak ya? cari…cari… mang ada yang buang getuuu?

  4. dhave29 said: @pilar; hehe… terimakasih banyak.. semangat..semangat…

    Sama2 Mas..sudah selayaknya orang yg sedang menimbah Ilmu dan meraih kesuksesan perlu support.. dan Doa 🙂 nah, sekarang tinggal nyari dinda wakakakkakak.. halah…

  5. @pilar; hehe… terimakasih banyak.. semangat..semangat…

  6. Photography dan S.SiCongrat Bro…7 thn baru lulus.. ndak apa2 yang penting masih punya Niat dan Semangat …

  7. @munhasryl; betul Om… who behind the gun….

  8. kamera boleh apa aja tapi siapa yang dibelakang kamera itu penentunya kan ya…

  9. @polarbugs; baik kabari saja nanti kami tuan rumah siap melayani, semoga tidak ada halangan berarti…. kami tunggu

  10. Waaah… Sip2.. Ni emg renc dadakan pagi td. Bwt ngisi acr tgl 18-20 juli ni ajah… Smg gak ada halangan :p

  11. @trexma; makasih udah nambahin…. iya sama, aku kamera pocket juga ngandelin temen yang minjem ma orang lain (lebih parah ya). Yashica (minjem sodara, trus pura-pura dipinjem sama sapa getuu biar bisa belajar terus…) pokoke ada ajah hehehe… iya mimpi yang coba kunyatakan…@polarbugs; mudah aja, naik kreta turun semarang tawang, trus naik bus ke salatiga, trus ke kopeng… ntar kalau minat aku jemput distasiun dah.. kita ngebis sama-sama… kebetulan kantor dekat satu arah ama stasiun… gimana, gak usah repot kan…?

  12. @dhave..itulah seninya..dr tiada menjadi ada..dr tolol menjadi prof…qta memiliki cerita hidup yg hampir sama, bro dhave msh mending bs punya camera,dl pocket pun aku gak terjangkau jd hanya ngandalin partner yg udah punya nikon fm10,waktu kuliah camera slr itu adalah ‘mercedes’ buat saya,hehehe…waktu dan mimpilah yg membuat kita maju…salam…

  13. Kl ksana naek kreta turun di st apa? Trus dr stasiun smpe kaki gng merbabu brp lama? :p

  14. @polarbugs; monggo silahkan bergabung jika berkenan…@gapaiimpian; tentunya disertai ucapan syukur selalu yachh… heheheheee…

  15. Wowowwoww… Heuhuehe… Mantep bgt..*pgn ke merbabu*

  16. Wah…semua ada saatnya, so nikmatin semua lembaran hidupmu karna masing2 akan membawa ceritanya sendiri,*ngutip nasehat temen bwt q, hehehe*

  17. @alexam; cikal bakalnya cak… hehehe… proses yang panjang dan [email protected]; iya… ada teman mau mecahin rekor kurang dari 5 jam… iya, ntar rencana 18,19,20 butuh persiapan yang matang buat support teman… gille… bener…

  18. Mw naek merbabu lg?Huh, pemerintah pinter.. Pemiluny tengah2 minggu gt. Ga ada harpit 🙁

  19. hahaha… sejarah pembentukan infantri ya… lock n load.. fire, fire, and fire..

  20. @polarbus;hehehe… udah sembuh kok, ntar hari nyontreng mau naik gunung lagi, mumpung libur… gak kedaftar DPT seh…@havi; makasih Om…. tu wa ga jepreeeettt…. kreeek..kriekk…krieeek…krek…

  21. Hwehe,,maap, g ptg c,, tp seriusan kl pgel2 turun gng pke parem bs sembuh? :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...