Di Puncak Gunung Ku Temukan Banyak Orang Egois

Tangah malam, jam 23.30 ponsel bergetar dan berteriak, dilayar nampak hanya sebuah nomor 12 digit, “ah siapa ni malam-malam nelpon”. Baru saja ku angkat dan belum bilang haluw… udah ada teriakan “mas cepat ke Merbabu, teman nyasar disekitar Pereng Putih, lowbet cepet” “tut..tut…tut..”.

Coba apa yang terngiang dibenak, siapa, dimana, harus bagaimana. Dari suara sang penelpon tidak jelas siapa, nomer juga tidak tahu, karena tidak masuk dibuku telpon. Tebak-tebak buah manggis, pasti orang yang baru pertama kesana, tapi kok tau Pereng Putih?. Kucoba menghubungi sahabat kental digunung, dan belum sempat menjelaskan langsung dijawab dengan tegas “MANGKAT” artinya langsung berangkat ke lokasi dan tidak pakai lama.

Kami hanya berdua saja yang berusaha mencari, karena sudah hafal tentang spot-spot disana langsung libas. Jam 1 kami sampai lokasi yang kami perkirakan awal dari tersesatnya rekan. Kami tanpa bekal ilmu SAR, Pendidikan Dasar Ilmu Gunung dan ketrampilan alam bebas, hanya pengalaman yang menjadi modal kami. Setelah menyusuri jalan setapak yang aneh, rumput pada bengkok, sarang laba-laba hancur dan banyak dahan yang teraut.

Bingooo… “ketemu mas, lihat tuh senter mereka” kata teman, terlihat banyak manusia diseberang jurang. Akhirnya kami samperi mereka dan terlihat kelelahan dan ketakutan yang amat sangat, ternyata mereka tersesat semenjak sore dan berputar-putar tidak ketemu jalurnya. Jam 02.00 kami sepakat bermalam dispot terakhir tersesat, segera saya buat perapian untuk menghilangkan rasa dingin dan menambah rasa percaya diri. Tenda sudah didirikan teman saya, segera kami menyuruh mereka istirahat sambil menunggu makanan matang. Kami menjadi koki untuk 12 orang, dengan sabar kami layani permintaan menu pagi itu. Semua kenyang, semua selamat, semua istirahat, hanya kami berdua yang masih sibuk membenahi peralatan.

Itu cerita 4 tahun yang lalu, dimana rekan dari Indonesia bagian timur melakukan pendakian di Merbabu. Sampai saat ini menjadi kenangan manis dan masih ada dalam benak kami berdua.

Bukan rasa bangga, heroik, sok pahlawan yang ingin saya uraikan disini. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang teman saya, bagaimana dia yang saat itu tidak tahu apa-apa, tidak kenal, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak punya kompetensi terhadap masalah yang saya hadapi langsung berteriak “MANGKAAAT”.

Egoisme yang terkikis dari badai gunung, curamnya jurang, dinginnya malam, teriknya matahari, kelabunya kabut dan jalan yang panjang dengan beban dipunggung telah menjadikan jiwa yang peduli. Semua orang terlahir sama, tetapi lingkunganlah yang membuat kita berbeda.

Kami dari lungkungan yang serba terbatas, tetapi kami mencoba mendekati batasan-batasan tersebut. Mendaki gunung, memanjat batu vertikal, jalan dari hilir menuju hulu sungai menjadi santapan dikala waktu senggang. Bersama orang yang bernasib sama, kita saling belajar dan mengajari, tidak ada yang paling pintar, kuat, tangguh, berani, tetapi semua lemah dan butuh dukungan.

Disaat orang bilang “menolong dirisendiri saja susah, mengapa harus menolong orang lain?”. Kalimat tersebutlah yang menjadikan kami untuk melawan egoisme kami, mengikis, menggerus dan melunakan keinginan sendiri tanpa peduli orang lain.

Digunung kami coba, meletakan ego kami untuk rasa peduli terhadap sesama yang jauh lebih membutuhkan. Tanpa harus hitung-hitungan resiko rugi laba, semua mengalir begitu saja. Apakah ego itu akan melekat kembali setelah kami turun dari gunung, mari kita buktikan ego kita.

Terimakasih; Joko Pramono, Agung Pardjono, Arnika Parkoso, Hasan Rifai, Dinar, Suryo Sigit bersama kalian kita melepaskan egoisme kita untuk menyatukan hati yang peduli

Salam
DhaVe

Lereng Merbabu, 4 Juli 2009

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @tjahjokoe; iya Om malah banyak sekali…[email protected]; hihi… jadi sedih kalo inget…@cantigicientaku; terima kasih banyak sudah mengapresiasi… salam hangat…

  2. alam mengajarkan qta bnyak hal..

  3. jadi inget lawang 600ewu.. xixixiiiii..iii waktu itu bukan egoisme tapi angkuh…

  4. @havi; iya Om… makasih banyak.. ayo infantri ke puncak 3000an… surganya landscaper euy…

  5. @opaytwo; Merapi… mariiiii

  6. @opaytwo; ayuuuk “mangkaaat gak pake lama…aaa…”

  7. yaaa..klo pake lama ga di ajak ya? nnt di tinggalin lg! kpn? kmn? ajak2 dunk! ke merapi gmn?

  8. @opaytwo; ayuuuk “mangkaaat gak pake lama…aaa…”

  9. @opaytwo; ayuuuk “mangkaaat gak pake lama…aaa…”

  10. @opaytwo; ayuuuk “mangkaaat gak pake lama…aaa…”

  11. @opaytwo; ayuuuk “mangkaaat gak pake lama…aaa…”

  12. uhhmmm…ya ya ya ya…..*pengen ngerasain naek gunung deh 😀

  13. @mbin; maaf Om aku gak bisa kasih tahu, Pak guru juga salah satunya orangnya, tadi ngojekin aku pake megapronya ampe basecamp bonus stroberi [email protected]; iya Mbak, jadi kalau orang sudah tertekan, atau sudah mendekati batasan kemampuannya, maka watak sifat aslinya muncul, yach kita masih terus belajar. Digunung kita dapat belajar banyak hal… hari ini kita baru saja turun gunung, dapat pelajaran menjadi orang yang rendah hati, njalanin filosofi padi sajah… kebetulan ditantang anak kemarin sore naik gunung… yach kita juga baru pemula, walau sudah 11tahun bergulat dihutan…@amsiku; yang pos Pending belok kiri, lalu turun ke Jurang sampai bawah lalu naik asal saja, kalau dilanjutkan bisa sampai pos 1, hanya sepiderman yang mampu kalii hehehehe…

  14. @polarbugs; iya… jadi kita bisa mengenal lebih dalam… sangat menyenangkan dan akhirnya bisa jadi sodara dan ada yang berjodoh… hikss..hiks… sapa ya jodohku… gak laku..laku…

  15. Teman itu sapa, Pak Guru kah?

  16. wah.. luar biasa.. aku belum pernah naik gunung.. karena nggak yakin cukup kuat ngadepin semua tantangan itu.. tapi saat terbaik mengenal seseorang memang pada saat berada di situasi tidak terkendali atau tidak menyenangkan seperti lelah.. hilang jejak, kurang makanan dll.. saat2 itu bisa dilihat mana yang aware dan mana yang tidak.. mana yang egois mana yang tidak, dan mana yang sabar dan bisa enjoy dan mana yang tidak.. hahaha.. comentnya panjang banget.. tapi orang yang bisa menghandle situasi tidak terkendali dengan tenang dan baik serta tetap bisa aware dengan orang lain patut dapet acungan jempol.. selamat ya mas.. 😀

  17. Kirain tersesatnya di tampungan air yang belok kanan, kalo pereng putih kan yang ke kiri (kalo dari bawah). Kalo yang belok kanan langsung by pass ke pemancar (yang ada drum tampungan air) dan jalurnya tidak terlalu jelas jadi sering menyesatkan pendaki.Ceritanya mantabs..

  18. ^_^ gunung..tmpt terbaik bwt mengenal org…

  19. @mbambang: kalo teman saya langsung teriak “MANGKAAT…” heheheheheee…

  20. @mbambang; ntuh Cak Hamzah mau ke Semeru, kalau mau latihan…

  21. @mbambang; iya Om… mau?

  22. @defzone; dari gunung kita bisa belajar apa itu ego dan bagaimana mengendalikannya… salam hangat, kebetulan saya baru turun mendaki Gunung Merbabu, dan teringat kenangan manis. Disela perjalanan kucoba menulis kembali… salam…

  23. @defzone; dari gunung kita bisa belajar apa itu ego dan bagaimana mengendalikannya… salam hangat, kebetulan saya baru turun mendaki Gunung Merbabu, dan teringat kenangan manis. Disela perjalanan kucoba menulis kembali… salam…

  24. Hehehehehee…betul sekali…

  25. @nakamurawa; yups… mata air belok kiri, yang ada tebing warna putih menjulang tinggi.. terimakasih…

  26. Sama dengan saya…itulah yang pelajari dari hobi mendaki gunung… egoisme yang hilang bila mendaki gunung…

  27. nice n touchy, mas…pereng putih itu yang mana mas, apa mata air di atas itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...