Perang Pasukan Berlensa

Perang bintang di kalangan selebritis, perang janji-janji manis dikalangan elit politis bahkan perang rating bagi stasiun televisi adahal hal biasa ditemukan. Wow sungguh menghebohkan mengikuti hal-hal yang berbau perang. Nah bagaimana kita merasakan perang sungguhan, dan senjata serta strategi apa yang harus kita terapkan.

Saat ini saya merasakan yang namanya perang, walau secara ekplisit dan bukan arti yang sebenarnya, tetapi seolah genderang perang telah ditabuh dan bendera panji kehormatan telah dikorbankan. Masing-masing membekali diri dengan baju zirah, senjata dan amunis dan strategi berperang. Apakah setiap pasukan bisa bertahan dan memperoleh kemenangan.

Fotografi menjadi ajang perang bagi beberapa penggilanya. Senjata berupa macam kamera baik prosumer dan slr beserta kelengkapannya, teknik fotografi sebagai strategi berperang, tipu muslihat untuk mengkamuflase. Tujuan semua adalah untuk memenangkan ego dalam mendapatkan hasil yang terbaik.

Banyak saya menemui seorang layaknya sniper, dengan menenteng dslr dengan penuh kesabaran untuk membidik sasarannya. Dengan teknik yang mumpuni dan kesabaran tingkat tinggi menanti sasarannya. Ada juga segerombolan teroris, dengan berbondong-bondong memberondong sasarannya, tanpa penuh perhitungan dan ang penting narsis ria.

Yang lebih heboh adalah arogansi pasukan berseragam yang memakai kebesaran korpsnya. Ntah bisa perang atau tidak asal memakai seraga semua telah dianggap dan dipukul rata kemampuan mereka, padahal seperti anak tangga, ada yang dibawah dan diatas. Namanya juga sekompi pasukan, pasti ada yang expert, beginner, kroco pilek, dan pupuk bawang demi sebuah kepopuleran dan dokumentasi. Senjata boleh sama, tetapi hasil bidikan pasti berbeda, yang pasti dapat pengakuan bahwa aku punya gank.

Pemburu berbeda lagi, menganggap fotografi sebagai seni dan sudah melupakan yang namanya dokumentasi. Arah bidikan dan gaya berburu menjadi ciri khas dari seorang hunter sejati. Idealisme begitu diagungkan, tanpa peduli apa kata orang. Hasil yang diperoleh tentunya, wow spektakuler dan gillaaa…

Pasukan artileri lebih gila lagi, dengan persenjataan super canggih. Senapan yang terbaik dan lensa berseri luxs dengan kisaran harga selangit. Dengan prinsip “ana rega ana rupa” hasilnya “wow” itu yang terucap. Sekarang banyak bermunculan pasuka artileri yang menenteng gearnya “ni lho senjataku”, wiufhhh bikin minder saja waktu hunting bareng. Tetapi saat membunuh lalat, pake geplokan, ketapel, senapan angin, AK 47, M16, Meriam dan bom atom hasilnya sama “lalatnya mati terkapar”. Siapa yang hebat?

Lebih mengenaskan pasukan infantri, dengan senapan dan amunisi yag terbatas dipaksa bergreliya dengan berjalan kaki. Membidik siang, malam dan keluar masuk hutan, desa, kota dan banyak tempat dengan peralatan apa adanya. Tanpa bantuan dari pasukan pendukung terus bergreliya mencari spot-spot yang bagus untuk dieksekusi.

Gambaran pasukan berlensa membuat mengerti keindahan dunia dibalik view finder dengan segala tingkat kesulitan. Semoga bisa terus tetap berkarya untuk membuka tabir warna-warni ciptaan Tuhan dalam wujud kumpulan warna dalam sebuah gambar. Salam salut buat yang sejalan dan salam hormat buat yang kurang berkenan dan mohon maaf bila ada kekurangan.

Salam jepret…
DhaVe

Batas Kota, 13 Juni 2009, 11:10 WIB

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

    wakakakakakakkkk

  2. dhave29 said: @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

    @alexamz; hehehe ngece…. amunisi magazin FN 16MB hehehe… one shoot one kill… not good… push <!–

  3. dhave29 said: @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

    one shoot one kill (s tangga Mode On)

  4. dhave29 said: @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

    @Bambangpri; ajak perang dulu sebelum pulang hehehe…

  5. dhave29 said: @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

    Akhir Juni ini katane

  6. @bambangpri; pul malang kapan ntuh?

  7. Hehehehehee….habis ini dia balik tuh

  8. @Bambangpri; tuh ada pak Hamzah bisa jadi patner bertempur… apa ikut kesatuanku; infanteri

  9. Pengen ikut perang juga ah…kapan yo?

  10. @gerila92; hehehe… terimakasih, hanya curahan hati saja kok, orang jawa bulang “gotak-gatuk matuK” hanya menghubung-hubungkan siapa tau nyambung hehehe… salam

  11. salut. tulisane apik. mengena. istilah2 kuwi isoh dipatent-ke mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...