Tiga Sekawan Jatuh Miskin

Pengalaman sekaligus mimpi buruk, tetapi memberikan kenangan yang indah selamanya. Tigo Sekawan, yach… itulah kadang yang menjadi jargon teman-teman ditempat bermain dan bekerja. Jargon tersebut kadang menjadi hinaan, peringatan, pelajaran dan kenangan bagi kami.

Cerita di awali ketika mau hunting foto di Jepara, Pantai Kartini dan Pulau Panjang. Entah kenapa, hari itu ada saja yang menghalangi. Hujan lebat, kehabisan bus, bermalam dijalan sampai dengan di kepruk (makan dengan tarif mahal). Semua kami jalani dengan enjoy, kami mencoba menikmati perjalanan petualangan ini.

Tragedi dimulai pulang dari Pulau Panjang dengan perut keroncongan maka diputuskan mencari tempat makan yang sederhana, murah meriah, maklum lagi pada bokek di akhir bulan. Diputuskan beli nasi putih ama cumi goreng dan es teh. Menu yang sederhana dan cukup murah bagi kami yang saat itu lagi kering kerontang.

Sambil makan kami bergantian ijin ke kamar mandi warung (lumayan bisa cuci muka gratis hehehe..). Selesai makan, “pinten Bu…(berapa Bu…)” tanya saya, “tigo sekawan mas (34 mas)” jawab penjual dengan agak sadis. Iwan teman saya dengan PD keluarin uang lima ribuan “wah murah meriah neh, wareg sisan” kementar dia. “TIGA SEKAWAN kok MAS” jawab ibunya, “oh minta nota dunk bu” pintas saya.

Bujubuneng nongko gondal gandul “total Rp 34.000,00” terkulai lemas kami berdua melihat isi tagihan. Duit tinggal 50 ribu kalau ditotal berdua. Yang tidak percaya adalah saya, sudah 5 kali saya makan ditempat ini sewaktu jalan ke Karimunjawa dan paling mentok cuma 6 rebu dengan menu yang komplit. Akhirnya mau ndak mau dibayar juga tuh makanan.

Keluar dari warung badan terasa lemes bahkan lebih lemes dari sebelum makan. Dengan uang tersisa kami terpaksa jalan menuju terminal, ingin hati mencari jalan pintas malah mutar-muter kesana kemari dibawah terik dan panasnya matahari. Hurhhh sial… sepanjang perjalanan terngiang-ngiang “TIGA SEKAWAN”.

Trims; Wansi, kita dapat pengalaman indah hari itu, ingat warung “tiga sekawan” hahaha…

Bus Safari, 11 Juni 2009, 13.30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @time; semoga tetap waras sajah….

  2. byahahahaha!!!!!!!!semakin malam aye acak-acak, semakin menggila ceritanya.makasih yo..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...