Nur Edan dan Bahasa Tahu Campur #1

Senja yang cerah, Saya duduk berdiam sambil membidikan lensa DSLR kearah matari terbenam. Sungguh indah sore itu ditemani sang surya tenggelam. Cukup banyak bidikan yang saya ambil sore itu. Waktu semakin beranjak, sang surya mulai redup di ufuk barat. “Yach… waktunya berkemas pulang”.

Saat berjalan menuju jalan raya, ada sesosok orang yang bertanya “Om.. sedang apa”. “ow lagi motret matahari neh” jawab saya singkat. Saya melihat, sesosok laki-laki paruh baya. “Nur, ya saya Nur Edan” dia memperkenalkan diri. “lho Nama yang aneh tho Mas” jawab saya. “Iya eman begini Om, banyak orang yang menganggap saya tidak waras, tetapi saya menilai diri saya sebagai orang waras, terserah apa kata orang”.

Obrolan berlanjut di senja itu, sambil lesehan di pematang sawah, Nur Edan membuka sebuah percakapan. “wah kayaknya asyik neh bisa ngobrol ama orang antik” hati kecil saya bicara. Tak berapa lama kami ngobrol datang seorang anak kecil baru pulang ngaji, terlihat dari kerudung dan buku bertuliskan Arab.

“Adik Indah saking wangsul ngaji nggih.. kok kiyambakan, lha rencangipun pundi?” (Adik endah dari pulang mengaji ya.. kok sendirian, lha temannya mana?) sapa Nur Edan kepada gadis kecil. “Nggih Om Nur, Kulo kiyambakan” (Ya Om Nur, saya sendirian) jawab gadis tersebut. “Gile hari gini masih ngobrol pake Bahasa Jawa Halus” hati saya bertanya. Kemudian mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa halus, dan tentu saja saya juga paham dengan apa yang mereka bincangkan.

Selesai berbincang, Gadis kecilpun berpamitan dengan Nur Edan. Kemudian kami melanjutkan ngobrol sambil ditemani nyamuk-nyamuk haus darah. “Mas, Bahasa Jawanya kok masih kental, apalagi dengan anak kecil tadi” tanya saya. “ow.. tadi si Indah Om.. Ponakan saya” jawab Nur Edan. ” saya mewajibkan untuk menggunkan bahasa Jawa halus kepada keluarga saya, istri dan ketiga anak saya” jawabnya.

Kemudian dia bercerita sambil menerawang kelangit yang dihiasi bulan sabit tersenyum malu. Jaman sekarang, anak bayi lahir ceprot sudah di doktrin dengan budaya modern. Begitu bisa melek bayinya langsung dikenalkan ini papa, ini mama. Padahal bayinya lahir didukun beranak di ujung desa. Menjelang mulai bisa ngomong, anak sudah diracuni dengan bahasa Indonesia kacau khas orang tuanya yang pas-pasan pendidikannya. Dengan bahasa laksana Tahu Campur (ada Jawa, Indonesia, Inggris, Mandarin dll). Contohnya : “Dik baju Papa talong di cantolke, jangan ditaruh da situ mengko bisa kotor lho” (Dik baju Papa tolong digantung, jangan ditaruh disitu nanti bisa kotor), “Mbak sori nanti susuke yang gopek dibalike ya..” (Mbak maaf nanti uang kembalianya yang limaratus dikemalikan ya..). Itulah contohnya, salah kaprah anak jaman sekarang. Bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, baik dirumah, sekolah, tempat bermain sudah tercampur aduk oleh kebobrokan. Dengan tedeng aling-aling gengsi, biar anaknya kelihatan pinter, intelek, gaul atau apalah yang penting dilihat orang bisa wah dengan bahasa Indonesia Gado-gadonya.

“Dengan melihat kosakata anak jaman sekarang yang sudah hancur, saya mencoba mulai dari diri saya untuk berbenah”. “Dirumah saya mengaruskan keluarga saya yang masih satu atap (ibu, istri dan ketiga anak) untuk memakai Bahasa Jawa Halus” Nur Edan mulai berorasi. “Kenapa demikian? untuk mengajari bahasa Indonesia atau Inggris jelas saya tidak mampu, maka dari itu saya serahkan saja sama pihak sekolahan saja lah….” celoteh Nur Edan .

Dirumah saya mengaruskan anak saya untuk berbahasa Jawa Halus kepada semua orang yang mengerti bahasa Jawa. Saya tidak malu, ketika orang lain memandang anak saya kuper, ndak gaul atau ndeso… tetapi saya malah bangga dengan 3 malaikat kecil saya bisa berbicara dengan bahasa halus. Coba nanti suatu saat saya aja anak saya ke Solo tempat kakek-neneknya tinggal terus disana memakai bahasa gaul yang kosakatanya mirip tahu campur. Kakeknya yang diajak bercakap-cakap lantas mau bicara apa “dasar bocah gemblung, ngomong apa Cah iki ?” (dasar anak gila/payah, ngomong apa tho Anak ini ?). Tetapi bagaimana bila mereka berbicang dengan bahasa Jawa Halus (krama inggil), maka menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ditengah chaos kosakata bahasa.

Lihat bangsa China, Jepang, Rusia yang tetap mempertahankan tradisi, baik secara lisan dan Tulisan. Kenapa negara kita yang kaya akan bahasa, budaya dan tulisan serasa enggan untuk melestarikannya. Apakah gengsi, takut dibilang udik, ndeso, kolot atau tidak modern?, Kenapa orang Jepang yang tetap memakai bahasa Jepang dan huruf katakana, hiragana dan kanji terlihat modern?…

Begitu mendengar curhatan Nur Edan, sayapun termenung sejenak. “yach benar juga apa kata dia”. Saat ini saya yang bekerja jadi kuli orang Jepang, harus pontang panting mempelajari bahasa Jepang, kenapa gak pake bahasa Inggris saja yang lebih Universal. Si Jepang tetap bersikukuh dengan budaya dan adatnya, lebih bangga dengan budaya sendiri.

Kapan kita bisa menjadi bangsa terhormat dengan budaya sendiri. Ayo kita mulai….


(pembicaraan masih berlanjut)


#2 Lelaki Terbodoh di Hadapan Ibu dan Istri

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. bahasa indonesia yang baik dan benar yaitu bahasa yg sesuai eyd. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...