Maryamah Karpov Di Karimunjawa

Maret 2007 saya mendapatka tugas dari Kampus untuk survey lokasi di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Perjalanan saya mulai dari Pantai Kartini sebagai salah satu gerbang pelabuhan menuju Karimunjawa. Dengan kapan Ferry Muria dihanatarkan menuju Karimunjawa dengan waktu tempuh sekitar 6 jam perjalanan laut.

Sekitar pukul 16.00 WIb saya sudah menginjakan kaki didaratan Pulau Karimunjawa, dan saya langsung disambut seorang kawan lama yang bernama Waluyo. Ini adalah kunjungan saya yang ketiga kalinya, sehingga saya sudah cukup akrab dengan penduduk sekitar. Saya langsung menuju sebuah penginapan yang nantinya menjadi tempat tinggal saya untuk 10 hari kedepan.

Lantas apa hubunganya perjalanan saya di Karimunjawa dengan Maryamah Karpov karangan Andrea Hirata?. Ada sedikit benang merah di antara keduanya, yang pasti bukan penulisanya. Kepulauan Karimunjawa memiliki persamaan dengan Pulau Belitong, dimana Laskar Pelangi tinggal. Beraneka ragam pekerjaan, dari mulai nelayan, kuli kasar, tukang pos, Guru sampai dengan pengangguran pun ada. Suku yang tinggal juga beranekaramacam, ada suku Jawa, Madura, Bugis, TiongHoa dan lain sebagainya.

Yang menggelitik saya waktu membaca Maryamah Karpov adalah kesamaan cerita dan budaya. Dimana penduduk di Karimunjawa ada kemiripan dengan orang-orang di Belitong, seperti ada pada cerita Andrea Hirata di novel terakhir Tetralogi Laskar Pelangi. Kesamaanya adalah membahasas hal yang kecil atau sepele menjadi sesuatu yang besar atau di hiperbolakan, yang kedua adalah sama-sama suka taruhan untuk hal-hal yang di anggap punya nilai kompetitif dan berbau keberuntungan.

Batu Emas

Cerita pertama di awali saat saya jalan-jalan di proyek sebuah Cottage . Ada seorang pekerja yang sedang menggali tanah untuk pondasi bangunan, tanpa sengaja cangkulnya mengenai benda keras. Setelah di angkat benda tersebut sebuah batu yang berwarna kuning, kemudian ia membawanya di bawah pohon asam jawa ( Tamarindus indica ) yang rimbun, kemudian memanggil teman-teman pekerja yang lain.

Dibawah pohon asam kemudian terjadi perbincangan yang sengit dengan topik batu yang berwarna kuning. Solikin “labur” memulai membuka acara dengan membuat pertanyaan, “ andai kata batu ini emas, mau di apakan dan buat apa”. Tanpa berfikir Rohmat “begel” menimpali “langsung tak jual, uangnya tak buat beli rumah, sembako”. Kamso tidak mau kalah “kalau aku tak buat beli, TV, VCD, Tape dek, para bola”, tetapi Slamet “caping” tidak terima. “Kalo aku tak belikan mobil pick up Kijang, kan bisa buat ngompreng, dari pada seumur hidup jadi kuli”, kata Slamet bersemangat.

Masing-masing Kuli mengemukakan pendapatnya masing-masing dan tidak mau kalah, suasana semakin panas dimana Kojek mengemukakan pendapatnya, “ semuanya goblog..goblog…ya tidak bisa emas segede itu langung buat belanja, tetapi harus di olah dulu, kemudian di bentuk baru dijual”. Merasa pendapat para kuli yang lain dimentahkan oleh Kojek, semua tidak terima dan akhirnya terjadi gontok-gontkan untuk mempertahankan idenya. Ada yang saling piting, dorong, bentak-bentak ada ada yang ngelus dada, akhirnya proyek riuh penuh hiruk pikuk para kuli. Sementara pekerjaan dihentikan dam sedang ada pertunjukan perang Mahabarata.

Melihat kericuhan mandor Sarju turun tangan dan dengan suara lantang “SEEETOOOPPP ana iki, pada geger kabeh!!!” bentak mandor Sarju. Kemudian Solikin “labur” sebagai juru bicara menceritakan kejadian dari awal. “Owwww…begitu, mana batu kuningnya berikan pada saya”, kemudian dengan penuh sukarela Solikin menyerahkan Batu kuning yang menjadi rebutan tadi.

Setelah di Terima, kemudian Mandor Sarju membuang Batu tersebut Ke Laut dan para pekerja dan Kuli saling pandang tanpa tahu kenapa batu tersebut di buang ke dasar laut. “Nah sekarang beres, tidak usah berkelahi lagi dan kemabli bekerja lagi”. Para kuli masih bergedumel dan belum beranjak dari arena perkelahian. “dasar dengkul di otak, otak di pantat, itu kan andaikata Emas, tapi itukan hanya sebongkah batu”.

“owwwwwwwww” terdengar serentak koor dari kuli-kuli yang berkelahi dan kembali ke posisi masing-masing dan seolah tidak terjadi apa dan pekerjaan proyek dilanjutkan.

Bersambung di Bayaran Kuli….

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @mbin… “iya mas Robin hahaha…yang lum laku-laku…”@arfina..”ya daripada bengong dan numpuk dicatper, mending ketik ulang dan aplot ke MP”

  2. Wah kamu pengamat sosial jg ya Nang:)

  3. mo tanya mas..karimunjawa pantai yg bagus dimananya mas? kalo mo kesana gmn crnya?

  4. kok dibuang, sapa tahu emang emas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Para Pencari Tahu di Gua Mesiu

200 juta tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan. Pada waktu itu, hewan-hewan karang berkumpul menjadi terumbu. Pada suatu waktu hantaman hebat antar lempeng ...