MAKANAN TRADISIONAL TERFERMENTASI (TRADITIONAL FERMENTED FOODS)

Banyak dan beraneka ragam makanan tradisional di Indonesia, yang sebagian menjadi cirikhas dari masing-masing daerah. Makanan tersebut bisa menjadi identitas daerah dan menjadi andalan untuk memperkenalkan kebudayaan kulinernya. Beberapa makanan yang menjadi cirikhas daerah memiliki keunikan tersendiri dan salah satunya makanan yang telah mengalami proses fermentasi (pemeraman). Penganan dan minuman tradisional terfermentasi (traditional fermented foods) sudah ada dan berkembang sejak lama di Indonesia dan masing-masing daerah memiliki cirikhasnnya sendiri-sendiri. Tape ketan, tape singkong banyak terdapat di Jawa Tengah, Pueyeum di Jawa Barat, Ikan asam di Pedalaman Kalimantan, dadihi di Sumatera, dan beberapa minuman seperti arak, tuak, laru, legen banyak tersebar di Indonesia. Bahkan lauk pauk sesehari juga ada dalam kategori makanan terfermentasi seperti, kecap, tempe, tahu, nata, yogurt, keju, kefir dan lain sebagainya.

Makanan terfermentasi sebenarnya sudah sejak jaman dahulu dan sudah menjadi sebuah resep makanan. Dalam kajian ilmu pengetahuan, makanan terfermentasi adalah proses proses perombakan bahan makanan dari materi organik menjadi materi anorganik yang dilakukan mikroorganisme. Mikroorganisme melakukan peranan dalam mengubah materi yang kompleks menjadi materi yang lebih sederhana dari bahan makanan. Mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi bisa di golongkan menjadi 3 yaitu; khamir (yeast), kapang (jamur) dan bakteri.

Semua makanan yang di olah melalui tahap fermentasi aman dan layak dikonsumsi, kecuali terdapat kesalahan dalam pengolahan (terkontaminasi/tertular oleh mikroorganisme pathogen). Ada beberapa keuntungan dari makanan terfermentasi.

1. Awet, makanan akan menjadi tahan lama dan mempunyai masa simpan yang panjang, karena dengan enzim atau materi organik atau an organik yang dihasilakan bakteri bisa menghambat mikroorganisme pengrusak.

2. Menambah aroma (flavor), pada saat proses fermentasi senyawa aroma (volatile) bisa dimunculkan, sehingga menambah tajam aroma.

3. Menambah citarasa, pengubahan materi organik oleh bakteri bisa mengubah citarasa bahan pangan.

4. Baik bagi kesehatan, beberapa hasil metabolisme yang dihasilkan mikroorganisme baik untuk kesehatan.

5. Menambah nilai ekonomis, harga jual bahan yang telah difermentasi akan meningkat ditilik dari beberapa keuntungan di atas.

Dari keuntungan dan manfaat dari makanan terfermentasi bisa di gunakan untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat dengan cara yang murah, aman dan sehat. Apresiasi masyarakat juga akan meningkat terhadap makanan fermentasi tradisional, sehingga bisa meningkatkan nilai tambah kesehatan, pemenuhan kebutuhan bahan pangan, ekonomi dan budaya.

Ayo lestarikan makanan tradisional terfermentasi ….MAKE NEWSSSS…!!!!

By Dhanang, Food Microbiology department

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. oter Djeng..ntar gue edit lah..sambil liat2 konteksnya ..baik usul diterima..

  2. Ndak gt bos.. Tar masyarakat salah persepsi.Biasa qt blg mangga-nya dperam biar cepet mateng..Nah lo.. Tar dkira terfermentasi..Githu..SEMANGAT!!

  3. iyessssss..tenks usulnya, ntar saya perbaiki, tapi ini kan yang baca gak mikroers jadi men rada gampang ngejanya..tenks masukanya brow..dan syap laksanakan

  4. Maap bos..Sy rasa dperam bukan istilah lain dari dfermentasikan,karena dperam adalah diinkubasi.jd blm tentu ada fermentasi.iya tho?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...